artikel ibnu arabi
Nama : Luqman Hakim
NIM : E07216005
Pendahuluan
Transmisi
tradisi intelektual keagamaan dari basis intelektual Islam yang berpusat di
Haramayn pada abad XVII dan XVIII M menunjukkan dinamika pemikiran Islam
Nusantara.Hal tersebut salah satunya ditandai dengan banyaknya literatur ilmiah
keagamaan yang dihasilkan. Sejumlah ulama terkemuka yang berkolaborasi
dalam tradisi intelektual Islam
menghubungkan berbagai doktrin, konsep, ajaran, dan pemikiran intelektual
keagamaan yang berkembang di Haramayn ke Nusantara.2 Kecenderungan para ulama
Nusantara pada masa tersebut adalah mistis-filosofis yang dipadukan dengan
sufisme. Wacana ilmiah yang muncul pada periode tersebut salah satunya adalah
konsep Insan Kamil.Konsep Insan Kamil yang muncul dalam dunia tasawuf sekitar
abad VII H/XIII M pada akhirnya berkembang dalam pemikiran Islam hingga ke
Nusantara.Dalam wacana Islam Nusantara, konsep Insan Kamil dibahas secara
khusus dalam kitab kitab tasawuf.Tingkat pemahaman yang berbeda membuat
paradigma yang ditemukan menghasilkan asumsi beragam antara berbagai kitab.Berangkat
dari kenyataan tersebut, perlu adanya kajian yang bertujuan untuk menjelaskan
dan memberikan pemahaman yang baik terhadap konsep Insan Kamil dari kitab
tasawuf. Kajian terhadap konsep Insan Kamil dipilih pada dua kitab tasawuf
sekaligus, yaitu kitab ad Durr an Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari
dan Siyar as Sâlikîn karya Abdush Shamad al-Falimbânî.
Pemikiran
mengenai insan atau manusia yang memaparkan dua teori dimensi kemanusian ini
tidak lepas dari ajaran utama Ibn Arabi tentang wahdatul wujud dalam
pemikirannya hakikat wujud ialah satu tingkat dengan subtansi dan esensi dan
juga memilik dua dimensi eksoteris dan esoteric yang nyata pada manusia
tersebut kepada tuhan.[1]
Biografi Ibn
Arabi
Nama lengkap Ibnu ‘Arabi adalah Abu
Bakar Ibnu Ali Muhyiddin al Hatimi al tha’I al Andalusia. Ada pula yang
menyebutkan bahwa nama aslinya ialah Muhamad Bin Ali Ahmad Bin Abdullah.
sedangkan nama Abu Bakar Abnu Ali Muhyidin atau al-Hatimi hanyalah nama gelar
baginya, selanjutnya, ia populer dengan nama Ibnu ‘Arabi dan ada yang
menulisnya Ibnu al Arabi Muhammad Ibn ‘Ali
Muhammad Ibnu ‘Arabi At-Tai Al-Hatimi, lahir di Murcia Spanyol bagian
Utara lahir pada tanggal 27 Ramadhan 560 H (17 Agustus 1165 M) pada
pemerintahan Muhammad Ibn Said Ibn’ Mardanisy. Ibnu ‘Arabi berasal dari
keturunan Arab berasal dari keluarga yang soleh. ayahnya, menteri utama Ibn’
Mardanisy, jelas seorang tokoh terkenal dan berpengaruh di bidang politik dan
pendidikan, keluarganya juga sangat religius, karena ketiga pamannya menjadi
pengikut jalan sufi yang masyhur, dan ia sendiri digelari Muhyi al-Din penghidup
agama dan al Syaikh al Akbar karena gagasan-gagasannya yang besar terutama
dalam bidang mistik[2]
Dalam bidang
pendidikan Ibn Arabi diusia delapan tahun yaitu tahun 568 H / 1172 Ibnu Arabi meninggalkan kota kelahirannya dan
berangkat menuju kota Lisabon. Di kota ini beliau menerima pendidikan agama
Islam pertamanya, yang berupa membaca al-Qur’an dan mepelajari hukum-hukum Islam dari gurunya, Syekh Abu
Bakr Ibnu Khallaf.Kemudian beliau pindah kekota Sevilla yang waktu itu
merupakan pusat para sufi Spanyol, beliau mukim dan menetap disana selama 30
tahun di kota di Sevilla inilah Pendidikan Ibnu ‘Arabi dimulai ketika ayahnya
menjabat di istana dengan pelajaran yang umum pada saat itu al-Qur’an dan
Hadits, Fiqh, Theologi, dan Filsafat Skolastik, Ilmu Kalam.
keberhasilanpendidikan dan kecerdasan otaknya juga kedudukan ayahnya
mengantarkanya sebagai sekretaris Gubenur sevilla diusia belasan.Yang perlu
dicatat bahwa kota Sevilla pada saat itu selain sebagi kota ilmu pengetahuan
juga merupakan kegiatan Tasawuf dengan banyak guru sufi terkenal yang tinggal
disana. Kondisi keluarga dan lingkungan yang kondusif dan kaya mempercepat
pembentukan Ibnu ‘Arabi sebagai tokoh sufi yang terpelajar, apalagi ia telah
masuk Thariqat diusia yang masih 20 tahun.
Selama menetap
di Sevilla Ibnu ‘Arabi muda sering melakukan kunjungan berbagai kota di
Spanyol, untuk berguru dan bertukar pikiran dengan para tokoh sufi maupun
sarjana terkemuka. salah satu kunjungan yang paling mengesankan adalah ketika
bertemu Ibn Rusyd (1126-1198 M) dimana saat itu Ibnu ‘Arabi mengalahkan tokoh
filosuf peripatetik ini dalam perdebatan dan tukar pikiran, sesuatu yang
menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dan luasnya wawasan spiritual sufi muda
ini.juga menunjukan adanya hubungan yang kuat antara Mistisisme dan filsafat
dalam kesadaran metafisis Ibnu ‘Arabi. Pengalaman pengalaman visioner mistiknya
berhubungan dan didukung oleh pemikiran filosofisnya yang ketat, Ibnu ‘Arabi
adalah seorang mistikus sekaligus filosuf paripatetik, sehingga bisa
memfilsafatkan pengalaman spiritualnya ke dalam suatu pandangan Dunia Metafisis
yang maha besar sebagaimana dilihat dari gagasan gagasannya di kota Sevilla
inilah Ibnu ‘Arabi Pendidikannya berhasil karena dia kemudian memperoleh
pekerjaan menjadi seorang sekretaris gubenur Sevilla. Dan setelah itu Ia
menikahi seorang gadis dari keluarga baik-baik benama Maryam. Secara beruntung
istri barunya ini juga mengenal baik sejumplah Manusia yang Soleh dan jelas
sama-sama mempunyai keinginan seperti suaminya untuk menempuh jalan Sufi[3].
Hakikat Insan
Kamil
Insan Kamil
berasal dari bahasa Arab, insan dan kamil.Insan berarti
manusia, sedangkan kamil artinya sempurna Dari segi pemaknaan istilah
Insan Kamil memiliki berbagai definisi beragam yang diantaranya diartikan
sebagai manusia yang telah sampai pada tingkat tertinggi (fana’ fillah)
Makna lain Insan Kamil adalah manusia paripurna sebagai wakil Allah untuk mengaktualisasikan
diri, merenungkan dan memikirkan kesempurnaan yang berasal dari nama Nya
sendiri.Ibn Arabi menjelaskan bahwa Insan Kamil memiliki dua kesempurnaan yaitu
kesempurnaan dzati esensial dan kesempurnaan aradl aksidental.
Kesempurnaan dzati berhubungan dengan realitas esensi sebagai “bentuk”
Tuhan sehingga manusia sempurna sama dan “menyatu” dengan Tuhan sebagai satu
realitas. Kesempurnaan aradl berhubungan dengan pengejawantahan
sifatsifat serta kualitas yang ternyatakan dalam peran khusus yang menimbulkan
keunikan tersendiri.Insan Kamil menurut Ibn Arabi mempunyai dua pengertian.Pertama,
konsep pengetahuan manusia yang sempurna terkait dengan sesuatu yang dianggap
mutlak yaitu Tuhan.Kedua, jati diri yang mengidealkan kesatuan nama
serta sifat Tuhan kedalam hakikat diri atau esensinyaIstilah Insan Kamil secara
teknis muncul sekitar abad VII H/XIII M atas gagasan Ibn‘Arabi yang dikembangkan
oleh Abdul Karim al-Jili.Sebelum Ibn ‘Arabi terdapat konsep pemikiran yang
mirip dengan substansi konsep Insan Kamil. Konsep yang muncul terdahulu tersebut,
tidak hanya datang dari Islam tetapi juga dari luar Islam.Meskipun demikian,
asal konsep Insan Kamil lebih dipercaya berasal dari Islam secara murniDi
antara konsep terdahulu dalam Islam yang mirip dengan konsep Insan Kamil
adalahdoktrin hermetic seperti yang diungkapkan Jabir ibn Hayyan dalam
naskah Arab mengenai lempengan mutiara” yakni sesuatu yang di bawah tidak
ubahnya yang di atas. Makna pengertian tersebut bahwa alam kecil manusia ketika
menyadari asal usul kejadiannya yang diciptakan dalam rupa Tuhan diciptakan
sesuai dengan prototipe alam besar.Teori Insan Kamil juga terkait pembicaraan
sufi pada pertengahan abad III H bahwa dirinya telah menyatu dengan Tuhan
dengan sejumlah nama-Nya sehingga mencapai fana mengacu pada teori yang
dikemukakan Abu Yazid Busthami. Selanjutnya dikemukakan oleh al-Hallaj yang
percaya bahwaTuhan menciptakan Adam menyerupai wajah-Nya sebagai representasi
Tuhan, cermin keindahan wajah-Nya, serta manifestasi-Nya yang abadi dikenal
dengan teori hulul Konsep dari luar Islam yang mirip dengan konsep Insan
Kamil adalah konsep manusia sempurna yang terdapat dalam tradisi Yahudi tentang
Qabbalah sebagai adam kadmon asal usul manusia pertama dan
berkaitan erat dengan teori yang berkembang di abad pertengahan tentang
“rangkaian besar suatu wujud” yang menunjukkan bahwa terdapat hierarki yang mencakup
segala jenis penciptaan dan manusia merupakan sintetis dari seluruh
penciptaan.Konsep Insan Kamil juga dipandang berasal dari agama Parsi kuno
tentang Gayomard sebagai manusia pertama yang memiliki daya ilahi serta
berperan penting dalam penciptaan Konsep Insan Kamil juga dipandang berasal
dari agama Parsi kuno tentang Gayomard sebagai
manusia
pertama yang memiliki daya ilahi serta berperan penting dalam penciptaan. Selain
itu, terdapat pula ide tentang anthropos teleios yang dipahami sebagai manusia
sempurna dalam falsafah Yunani.[4]
Tasawuf Ibn
Arabi
Ibnu
‘Arabi adalah seorang pemikir filsuf yang paling penting dan berpengaruh dalam
sejarah pemikiran Islam serta tokoh sufi pada abad 13. filsafat mistiknya, yang
disebut wahdatul wujud (kesatuan wujud), dan insan kamil (Manusia
sempurna) sangat mendominasi pemikiran tokoh berikutnya di Dunia Muslim seperti
Hamzah Fansuri yang mempunyai pemikiran sama tentang wahdatul wujud, begitu
juga dengan muridnya al-Jilli yang melanjutkan pemikiran nya tentang insan
kamil, maka dari itu kita perlu menguraikan kontribusi pemikiran-pemikiran Ibnu
‘Arabi tentang wahdatul wujud, insan kamil, dan juga tajalli, konsep cinta,
serta beberapa tingkatan maqam untuk mencapai derajat ma’rifat. Manusia adalah
makhluk kecil bila dilihat dari segi fisiologisnya, betapa tidak, Bumi yang
kita pijak ini saja tak akan nampak dari ujung Galaksi Bumi apalagi dilihat
dari Galaksi lain justru karena kecilnya ukuran Bumi ini, apalah kita manusia
yang ia barat semut yang merayap dipermukaan bola raksasa Bumi. manusia ibarat
sebuah titik kecil yang berlangsung hanya sedetik. Itulah kakekat manusia juka
dilihat dari sudut ruang dan waktu, Maka seharusnya kita menyadari betapa tidak
berartinya kita(manusia) dalam kosmos yang luas ini jika dilihat dari
fisiologisnya.Namun manusia yang bisa disebut sebagai mikrokosmos karena pada
diri manusia mengandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai
tingkat manusia, bahkan menurut beberapa tokoh, manusia juga mengandung
unsur-unsur rohani, karena manusia juga memilki roh yang berasal dari
Tuhan.Maka apabilamasing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat
tertentu dari Tuhan, dan Manusia sebagai cermin yang sempurna yang mampu
berpotensi memantulkan seluruh sifat-sifat Illahi.disitulah manusia disebut insan
kamil, jika manusia dapat mengaktualkan seluruh potensinya yang ada dalam
dirinya dan mampu mencerminkan sifat sifat Tuhan.[5]
Insan
kamil manusia sempurna adalah istilah yang digunakan oleh kaum sufi untuk
menamakan seorang Muslim yang telah sampai pada keperingkat tinggi, yaitu peringkat
seorang yang telah sampai pada fana’ fillah (sirna di dalam Allah).
Manusia menurut Ibnu ‘Arabi adalah tempat tajalli (penampakan) diri
Tuhan yang paling sempurna, karena Dia adalah al-kaun al-jamil, atau manusia
merupakan sentral wujud, yakni alam kecil (mikrokosmos) yang tercermin pada
alam besar (makrokosmos), dan tergambar kepadanya sifat-sifat keTuhanan. Oleh karena
itulah manusia di angkat sebagai kholifah.pada diri manusia terhimpun rupa
Tuhan dan rupa alam, dimana subtansi Tuhan dengan segala sifat dan asma-Nya
tampak padanya. dia dalam sebuahcermin yang menyingkapkan wujud Allah SWT.sejak zaman klasik hingga sekarang
ini belum pernah mengenal kata "berhenti". Ketertarikan para ahli
untuk meneliti manusia, karena manusia adalah makhluk Allah yang memiliki
kesempurnaan dan keunggulan ketimbang makhluk lain.Kesempurnaan manusia dari
sisi penciptaannya telah dilegitimasi dalam beberapa ayat Al-Quran, Kesempurnaan
dan keunggulan manusia itulah yang membuatnya begitu unik untuk dibicarakan,
baik dalam sosiologi, antropologi, filsafat psikologi maupun tasawuf.Salah satu
pembicaraan tentang manusia dalam pandangan tasawuf yang sampai sekarang masih
banyak diminati oleh para pengkaji tasawuf adalah pemikiran Insân kamîl (manusia
sempurna).Pemikiran ini pernah dikemukakan oleh Ibn Arabi.[6]
Penutup
Pengertian
akhir dari Insân kamîl adalah Roh Nabi Muhammad SAW. yang mengkristal
dalam diri para Nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, lalu para wali dan
orang-orang saleh, sebagai cermin Tuhan yang diciptakan atas nama-Nya dan
refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifat-NyaInsân kamîl adalah
manusia yang memiliki dalam dirinya hakikat Muhammad, atau juga disebut Nur
Muhammad yang merupakan makhlukpertama kali diciptakan oleh Allah, dan juga
sebagai sebab bagi dijadikannya alam semesta ini Ibn Arabi melihat bahwa Insân
kamîl (manusia sempurna) merupakan nuskhah atau kopi Tuhan,
seperti disebutkan dalam hadis pemaparan "Allah menciptakan Adam dalam
bentuk yang Maharahman." Hadis lain menyebutkan "Allah menciptakan
Adam dalam bentuk diri-NyaDemikian pula halnya dengan insan kamil, ia tidak
dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin nama Tuhan, sebagaimana Tuhan
tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali melalui cermin insan kamil. Lebih lanjut,
iaberkata bahwa duplikasi al-Kamal yang berartikesempurnaan adalah sama dengan
yang dimiliki oleh manusia, bagaikan cermin yang saling berhadapan.
Ketidaksempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang bersifat 'ardhi(bumi),
termasuk manusia berada dalam kandungan ibunyaciri yang melekat pada segala
sesuatu yang ditentukan oleh cara perwujudannya. Beragam realitas tersebut
berada pada tingkat yang paling dalam dan menampakkan diri dalam kosmos dalam
berbagai situasi yang aktual.
Daftar Pustaka
Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme, Raja Grafindo Persada,1999.
Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga 2006.
Seyyed Hossein
Nasr, The Garden of Truth Mereguk Sari Tasawuf, terj. Yuliani Liputo
Mizan, Bandung.
Ibn’arabi,
Fusus Al-Hikam:Mutiara Hikmah 27 Nabi, 2004, Yogyakarta.
A.Khudori
Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, 2004 Yogyakarta.
Rodiah,insan kamil
dalam pemikiran m.nafis albanjari, Banjarmasin.
[4]Seyyed Hossein Nasr, The Garden
of Truth Mereguk Sari Tasawuf, terj. Yuliani Liputo (Bandung: Mizan, 2010),
37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar