Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

artikel ibnu arabi


artikel ibnu arabi



Nama   : Luqman Hakim
NIM     : E07216005

Pendahuluan
Transmisi tradisi intelektual keagamaan dari basis intelektual Islam yang berpusat di Haramayn pada abad XVII dan XVIII M menunjukkan dinamika pemikiran Islam Nusantara.Hal tersebut salah satunya ditandai dengan banyaknya literatur ilmiah keagamaan yang dihasilkan. Sejumlah ulama terkemuka yang berkolaborasi dalam  tradisi intelektual Islam menghubungkan berbagai doktrin, konsep, ajaran, dan pemikiran intelektual keagamaan yang berkembang di Haramayn ke Nusantara.2 Kecenderungan para ulama Nusantara pada masa tersebut adalah mistis-filosofis yang dipadukan dengan sufisme. Wacana ilmiah yang muncul pada periode tersebut salah satunya adalah konsep Insan Kamil.Konsep Insan Kamil yang muncul dalam dunia tasawuf sekitar abad VII H/XIII M pada akhirnya berkembang dalam pemikiran Islam hingga ke Nusantara.Dalam wacana Islam Nusantara, konsep Insan Kamil dibahas secara khusus dalam kitab kitab tasawuf.Tingkat pemahaman yang berbeda membuat paradigma yang ditemukan menghasilkan asumsi beragam antara berbagai kitab.Berangkat dari kenyataan tersebut, perlu adanya kajian yang bertujuan untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman yang baik terhadap konsep Insan Kamil dari kitab tasawuf. Kajian terhadap konsep Insan Kamil dipilih pada dua kitab tasawuf sekaligus, yaitu kitab ad Durr an Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari dan Siyar as Sâlikîn karya Abdush Shamad al-Falimbânî.
Pemikiran mengenai insan atau manusia yang memaparkan dua teori dimensi kemanusian ini tidak lepas dari ajaran utama Ibn Arabi tentang wahdatul wujud dalam pemikirannya hakikat wujud ialah satu tingkat dengan subtansi dan esensi dan juga memilik dua dimensi eksoteris dan esoteric yang nyata pada manusia tersebut kepada tuhan.[1]

Biografi Ibn Arabi
Nama lengkap Ibnu ‘Arabi adalah Abu Bakar Ibnu Ali Muhyiddin al Hatimi al tha’I al Andalusia. Ada pula yang menyebutkan bahwa nama aslinya ialah Muhamad Bin Ali Ahmad Bin Abdullah. sedangkan nama Abu Bakar Abnu Ali Muhyidin atau al-Hatimi hanyalah nama gelar baginya, selanjutnya, ia populer dengan nama Ibnu ‘Arabi dan ada yang menulisnya Ibnu al Arabi Muhammad Ibn ‘Ali  Muhammad Ibnu ‘Arabi At-Tai Al-Hatimi, lahir di Murcia Spanyol bagian Utara lahir pada tanggal 27 Ramadhan 560 H (17 Agustus 1165 M) pada pemerintahan Muhammad Ibn Said Ibn’ Mardanisy. Ibnu ‘Arabi berasal dari keturunan Arab berasal dari keluarga yang soleh. ayahnya, menteri utama Ibn’ Mardanisy, jelas seorang tokoh terkenal dan berpengaruh di bidang politik dan pendidikan, keluarganya juga sangat religius, karena ketiga pamannya menjadi pengikut jalan sufi yang masyhur, dan ia sendiri digelari Muhyi al-Din penghidup agama dan al Syaikh al Akbar karena gagasan-gagasannya yang besar terutama dalam bidang mistik[2]
Dalam bidang pendidikan Ibn Arabi diusia delapan tahun yaitu tahun 568 H / 1172 Ibnu  Arabi meninggalkan kota kelahirannya dan berangkat menuju kota Lisabon. Di kota ini beliau menerima pendidikan agama Islam pertamanya, yang berupa membaca al-Qur’an dan mepelajari  hukum-hukum Islam dari gurunya, Syekh Abu Bakr Ibnu Khallaf.Kemudian beliau pindah kekota Sevilla yang waktu itu merupakan pusat para sufi Spanyol, beliau mukim dan menetap disana selama 30 tahun di kota di Sevilla inilah Pendidikan Ibnu ‘Arabi dimulai ketika ayahnya menjabat di istana dengan pelajaran yang umum pada saat itu al-Qur’an dan Hadits, Fiqh, Theologi, dan Filsafat Skolastik, Ilmu Kalam. keberhasilanpendidikan dan kecerdasan otaknya juga kedudukan ayahnya mengantarkanya sebagai sekretaris Gubenur sevilla diusia belasan.Yang perlu dicatat bahwa kota Sevilla pada saat itu selain sebagi kota ilmu pengetahuan juga merupakan kegiatan Tasawuf dengan banyak guru sufi terkenal yang tinggal disana. Kondisi keluarga dan lingkungan yang kondusif dan kaya mempercepat pembentukan Ibnu ‘Arabi sebagai tokoh sufi yang terpelajar, apalagi ia telah masuk Thariqat diusia yang masih 20 tahun.
Selama menetap di Sevilla Ibnu ‘Arabi muda sering melakukan kunjungan berbagai kota di Spanyol, untuk berguru dan bertukar pikiran dengan para tokoh sufi maupun sarjana terkemuka. salah satu kunjungan yang paling mengesankan adalah ketika bertemu Ibn Rusyd (1126-1198 M) dimana saat itu Ibnu ‘Arabi mengalahkan tokoh filosuf peripatetik ini dalam perdebatan dan tukar pikiran, sesuatu yang menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dan luasnya wawasan spiritual sufi muda ini.juga menunjukan adanya hubungan yang kuat antara Mistisisme dan filsafat dalam kesadaran metafisis Ibnu ‘Arabi. Pengalaman pengalaman visioner mistiknya berhubungan dan didukung oleh pemikiran filosofisnya yang ketat, Ibnu ‘Arabi adalah seorang mistikus sekaligus filosuf paripatetik, sehingga bisa memfilsafatkan pengalaman spiritualnya ke dalam suatu pandangan Dunia Metafisis yang maha besar sebagaimana dilihat dari gagasan gagasannya di kota Sevilla inilah Ibnu ‘Arabi Pendidikannya berhasil karena dia kemudian memperoleh pekerjaan menjadi seorang sekretaris gubenur Sevilla. Dan setelah itu Ia menikahi seorang gadis dari keluarga baik-baik benama Maryam. Secara beruntung istri barunya ini juga mengenal baik sejumplah Manusia yang Soleh dan jelas sama-sama mempunyai keinginan seperti suaminya untuk menempuh jalan Sufi[3].
Hakikat Insan Kamil
Insan Kamil berasal dari bahasa Arab, insan dan kamil.Insan berarti manusia, sedangkan kamil artinya sempurna Dari segi pemaknaan istilah Insan Kamil memiliki berbagai definisi beragam yang diantaranya diartikan sebagai manusia yang telah sampai pada tingkat tertinggi (fana’ fillah) Makna lain Insan Kamil adalah manusia paripurna sebagai wakil Allah untuk mengaktualisasikan diri, merenungkan dan memikirkan kesempurnaan yang berasal dari nama Nya sendiri.Ibn Arabi menjelaskan bahwa Insan Kamil memiliki dua kesempurnaan yaitu kesempurnaan dzati esensial dan kesempurnaan aradl aksidental. Kesempurnaan dzati berhubungan dengan realitas esensi sebagai “bentuk” Tuhan sehingga manusia sempurna sama dan “menyatu” dengan Tuhan sebagai satu realitas. Kesempurnaan aradl berhubungan dengan pengejawantahan sifatsifat serta kualitas yang ternyatakan dalam peran khusus yang menimbulkan keunikan tersendiri.Insan Kamil menurut Ibn Arabi mempunyai dua pengertian.Pertama, konsep pengetahuan manusia yang sempurna terkait dengan sesuatu yang dianggap mutlak yaitu Tuhan.Kedua, jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat Tuhan kedalam hakikat diri atau esensinyaIstilah Insan Kamil secara teknis muncul sekitar abad VII H/XIII M atas gagasan Ibn‘Arabi yang dikembangkan oleh Abdul Karim al-Jili.Sebelum Ibn ‘Arabi terdapat konsep pemikiran yang mirip dengan substansi konsep Insan Kamil. Konsep yang muncul terdahulu tersebut, tidak hanya datang dari Islam tetapi juga dari luar Islam.Meskipun demikian, asal konsep Insan Kamil lebih dipercaya berasal dari Islam secara murniDi antara konsep terdahulu dalam Islam yang mirip dengan konsep Insan Kamil adalahdoktrin hermetic seperti yang diungkapkan Jabir ibn Hayyan dalam naskah Arab mengenai lempengan mutiara” yakni sesuatu yang di bawah tidak ubahnya yang di atas. Makna pengertian tersebut bahwa alam kecil manusia ketika menyadari asal usul kejadiannya yang diciptakan dalam rupa Tuhan diciptakan sesuai dengan prototipe alam besar.Teori Insan Kamil juga terkait pembicaraan sufi pada pertengahan abad III H bahwa dirinya telah menyatu dengan Tuhan dengan sejumlah nama-Nya sehingga mencapai fana mengacu pada teori yang dikemukakan Abu Yazid Busthami. Selanjutnya dikemukakan oleh al-Hallaj yang percaya bahwaTuhan menciptakan Adam menyerupai wajah-Nya sebagai representasi Tuhan, cermin keindahan wajah-Nya, serta manifestasi-Nya yang abadi dikenal dengan teori hulul Konsep dari luar Islam yang mirip dengan konsep Insan Kamil adalah konsep manusia sempurna yang terdapat dalam tradisi Yahudi tentang Qabbalah sebagai adam kadmon asal usul manusia pertama dan berkaitan erat dengan teori yang berkembang di abad pertengahan tentang “rangkaian besar suatu wujud” yang menunjukkan bahwa terdapat hierarki yang mencakup segala jenis penciptaan dan manusia merupakan sintetis dari seluruh penciptaan.Konsep Insan Kamil juga dipandang berasal dari agama Parsi kuno tentang Gayomard sebagai manusia pertama yang memiliki daya ilahi serta berperan penting dalam penciptaan Konsep Insan Kamil juga dipandang berasal dari agama Parsi kuno tentang Gayomard sebagai
manusia pertama yang memiliki daya ilahi serta berperan penting dalam penciptaan. Selain itu, terdapat pula ide tentang anthropos teleios yang dipahami sebagai manusia sempurna dalam falsafah Yunani.[4]

Tasawuf Ibn Arabi
Ibnu ‘Arabi adalah seorang pemikir filsuf yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam serta tokoh sufi pada abad 13. filsafat mistiknya, yang disebut wahdatul wujud (kesatuan wujud), dan insan kamil (Manusia sempurna) sangat mendominasi pemikiran tokoh berikutnya di Dunia Muslim seperti Hamzah Fansuri yang mempunyai pemikiran sama tentang wahdatul wujud, begitu juga dengan muridnya al-Jilli yang melanjutkan pemikiran nya tentang insan kamil, maka dari itu kita perlu menguraikan kontribusi pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi tentang wahdatul wujud, insan kamil, dan juga tajalli, konsep cinta, serta beberapa tingkatan maqam untuk mencapai derajat ma’rifat. Manusia adalah makhluk kecil bila dilihat dari segi fisiologisnya, betapa tidak, Bumi yang kita pijak ini saja tak akan nampak dari ujung Galaksi Bumi apalagi dilihat dari Galaksi lain justru karena kecilnya ukuran Bumi ini, apalah kita manusia yang ia barat semut yang merayap dipermukaan bola raksasa Bumi. manusia ibarat sebuah titik kecil yang berlangsung hanya sedetik. Itulah kakekat manusia juka dilihat dari sudut ruang dan waktu, Maka seharusnya kita menyadari betapa tidak berartinya kita(manusia) dalam kosmos yang luas ini jika dilihat dari fisiologisnya.Namun manusia yang bisa disebut sebagai mikrokosmos karena pada diri manusia mengandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia, bahkan menurut beberapa tokoh, manusia juga mengandung unsur-unsur rohani, karena manusia juga memilki roh yang berasal dari Tuhan.Maka apabilamasing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, dan Manusia sebagai cermin yang sempurna yang mampu berpotensi memantulkan seluruh sifat-sifat Illahi.disitulah manusia disebut insan kamil, jika manusia dapat mengaktualkan seluruh potensinya yang ada dalam dirinya dan mampu mencerminkan sifat sifat Tuhan.[5]
Insan kamil manusia sempurna adalah istilah yang digunakan oleh kaum sufi untuk menamakan seorang Muslim yang telah sampai pada keperingkat tinggi, yaitu peringkat seorang yang telah sampai pada fana’ fillah (sirna di dalam Allah). Manusia menurut Ibnu ‘Arabi adalah tempat tajalli (penampakan) diri Tuhan yang paling sempurna, karena Dia adalah al-kaun al-jamil, atau manusia merupakan sentral wujud, yakni alam kecil (mikrokosmos) yang tercermin pada alam besar (makrokosmos), dan tergambar kepadanya sifat-sifat keTuhanan. Oleh karena itulah manusia di angkat sebagai kholifah.pada diri manusia terhimpun rupa Tuhan dan rupa alam, dimana subtansi Tuhan dengan segala sifat dan asma-Nya tampak padanya. dia dalam sebuahcermin yang menyingkapkan wujud Allah SWT.sejak zaman klasik hingga sekarang ini belum pernah mengenal kata "berhenti". Ketertarikan para ahli untuk meneliti manusia, karena manusia adalah makhluk Allah yang memiliki kesempurnaan dan keunggulan ketimbang makhluk lain.Kesempurnaan manusia dari sisi penciptaannya telah dilegitimasi dalam beberapa ayat Al-Quran, Kesempurnaan dan keunggulan manusia itulah yang membuatnya begitu unik untuk dibicarakan, baik dalam sosiologi, antropologi, filsafat psikologi maupun tasawuf.Salah satu pembicaraan tentang manusia dalam pandangan tasawuf yang sampai sekarang masih banyak diminati oleh para pengkaji tasawuf adalah pemikiran Insân kamîl (manusia sempurna).Pemikiran ini pernah dikemukakan oleh Ibn Arabi.[6]





Penutup
Pengertian akhir dari Insân kamîl adalah Roh Nabi Muhammad SAW. yang mengkristal dalam diri para Nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, lalu para wali dan orang-orang saleh, sebagai cermin Tuhan yang diciptakan atas nama-Nya dan refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifat-NyaInsân kamîl adalah manusia yang memiliki dalam dirinya hakikat Muhammad, atau juga disebut Nur Muhammad yang merupakan makhlukpertama kali diciptakan oleh Allah, dan juga sebagai sebab bagi dijadikannya alam semesta ini Ibn Arabi melihat bahwa Insân kamîl (manusia sempurna) merupakan nuskhah atau kopi Tuhan, seperti disebutkan dalam hadis pemaparan "Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Maharahman." Hadis lain menyebutkan "Allah menciptakan Adam dalam bentuk diri-NyaDemikian pula halnya dengan insan kamil, ia tidak dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin nama Tuhan, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali melalui cermin insan kamil. Lebih lanjut, iaberkata bahwa duplikasi al-Kamal yang berartikesempurnaan adalah sama dengan yang dimiliki oleh manusia, bagaikan cermin yang saling berhadapan. Ketidaksempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang bersifat 'ardhi(bumi), termasuk manusia berada dalam kandungan ibunyaciri yang melekat pada segala sesuatu yang ditentukan oleh cara perwujudannya. Beragam realitas tersebut berada pada tingkat yang paling dalam dan menampakkan diri dalam kosmos dalam berbagai situasi yang aktual.



































Daftar Pustaka
Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme, Raja Grafindo Persada,1999.
Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga 2006.
Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth Mereguk Sari Tasawuf, terj. Yuliani Liputo Mizan, Bandung.
Ibn’arabi, Fusus Al-Hikam:Mutiara Hikmah 27 Nabi, 2004, Yogyakarta.
A.Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, 2004 Yogyakarta.
Rodiah,insan kamil dalam pemikiran m.nafis albanjari, Banjarmasin.


[1]Rodiah,insan kamil dalam pemikiran m.nafis albanjari,IAIN antasari Banjarmasin,hal 2
[2]A.Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal 138
[3]Ibn’arabi, Fusus Al-Hikam:Mutiara Hikmah 27 Nabi, (Yogyakarta: Islamika, 2004), hal 2
[4]Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth Mereguk Sari Tasawuf, terj. Yuliani Liputo (Bandung: Mizan, 2010), 37
[5]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga 2006,hal 75
[6]Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme, Raja Grafindo Persada,1999 hal 197

Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...