Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

Pemurnian Paham Tauhid di Aceh Perspektif Nurudin Ar Raniri


ANTROPOLOGI TASAWUF
Ushuluddin & Filsafat
Tasawuf & Psikoterapi
 


Pemurnian Paham Tauhid di Aceh Perspektif
Nurudin Ar Raniri
      Oleh:
Ach Irham Rosyidin (E97216014)

Pendahuluan
            Pemahaman tentang tuhan dalam islam mungkin biasa kita dengar tauhid ataupun banyak penyebutan mengenai hal ini dan tak hanya itu paham tauhid ini juga beragam bahkan setiap daerah atau wilayah memilki pandangan tauhid yang berbeda-beda. Seperti halnya di Aceh paham tauhid memilki keanekaragam disini karena memang jika ditinjau dari para ahli yang berada di daerah tersebut memiliki perpekstif yang beragam pula. Dalam perkembangan islam yang berada di Aceh ketika kepemimpinan Sultan Iskandar Muda terdapat sebuah kelompok yang sangat mencolok didalamnya. Kelompok ini mengikuti paham yang dibawa oleh Hamzah Fansuri yaitu paham Wujudiyah, terdapat banyak gejolak yang terjadi pada saat itu ketika kelompok ini mulai dibumi hanguskan ketika kesultanan selanjutnya karena memang paham kelompok tersebut berjalan terlalu jauh dari inti ajaran Islam yang kita pahami.
            Pemahaman masyarakat mengenai tauhid mungkin sangatlah minim dan masih sangat awam. Tetapi ada juga sebagian masyarakat yang memahami tauhid begitu dalam karena memang hal itu dilatar belakangi bahwa paham tauhid sebenarnya sangatlah indah jika kita bisa mengetahuinya lebih jauh. Jika dilihat pada zaman modern ini, paham tauhid sangat lah banyak keanekaragamannya serta pemahamannya berbeda-beda. Keanekaragaman ini terjadi karena pemikiran para ahli yang memilki pandangan yang variatif dan juga pandangan ini mungkin ada yang benar atau juga yang salah jika ditinjau dari sudut pandang masyarakat umum yang belom keseluruhan memahami betul tentang ketauhidan. Banyak juga sejarah yang memberikan penjelasan tentang pemahaman tauhid yang dianggap benar dan juga ada juga yang dianggap salah oleh para ahli dan juga masyarakat umum. Mungkin saya akan sedikit memberi contoh tentang pemahaman yang dianggap salah ini yaitu seperti Syekh Siti Jenar yang mana beliau diberi hukuman pancung oleh Sultan yang ada karena memberikan ajaran yang sangat menyimpang pada masyarakat umum, dan jika kita lihat sejarah lebih jauh mungkin akan menemukan banyak sekali penyimpangan paham-paham tauhid yang telah terjadi.
            Dalam paham tauhid yang ada di Aceh juga terjadi sebuah gejolak-gejolak yang terjadi, bahkan gejolakan tersebut jika kita lihat dan kita nilai mungkin sangatlah keras karena memang sifat alami dari manusia adalah selalu membenarkan pendapatnya dan tidak ingin disalahkan. Pada hal ini akan sedikit saya bahas mengenai gejolak itu yaitu ketika masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani yang mengangkat mufti kerajaan yang masyhur yang bernama Nurudin Ar Raniri dan memberikannya kekuasaan untuk memberi hukuman pada kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang ada. Serta hukuman dan sangsi yang terjadi sedikit agak keras dan sangat intoleransi karena memang jika hal ini tidak dilakukan akan banyak bibit-bibit baru yang akan muncul dan berkembang tentang paham tauhid yang menyimpang dan jauh dari inti Ajaran Islam  Dan untuk membahas hal ini lebih jauh akan saya jelaskan pada sub bab selanjutnya mengenai pemurnian paham tauhid yang terjadi di Aceh pada zaman Nurudin ar Raniri. Dan sebelum membahas hal itu lebih jauh mungkin akan saya jelaskan sedikit tentang biografi singkat Nurudin ar Raniri.


Biografi Singkat Nurudin ar Raniri
Nama lengkap beliau adalah Nur ad-Din Muhammad bin Ali bin Hasanji Al-Hamid (atau Al-Syafi'i Al-Asy’ary Al-Aydarusi Ar-Raniri (untuk berikutnya disebut Ar-Raniri). Beliau dilahirkan di Ranir (Randir), sebuah kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat,India sekitar pertengahan kedua abad XVI M. Ibunya seorang keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadramaut. Pada tahun kelahiran Nurudin Ar Raniri ini masih belum terdapat sebuah penjelasan yang konkrit kapan dan tanggal berapa dia lahir bahkan terdapat dua kemungkinan tentang asal usul beliau. Kemungkinan pertama, nenek moyangnya adalah keluarga al-Hamid dari Zuhra (salah satu dari sepuluh keluarga Quraisy). Sedangkan kemungkinan yang kedua Ar-Raniri dinisbatkan pada Al-Humayd, seseorang yang sering dikaitkan dengan Abu Bakr 'Abdulloh bin Zubair Al-As'adi Al-Humaydi, seorang mufti Makkah dan murid termasyhur As-Syafii.[1]
             Nurudin Ar-Raniri tidak hanya seseorang ahli dalam bidang fikih, sejarah, politik,sastra dan filsafat beliau juga seorang syeikh tarekat Rifa'iyyah, yang didirikan oleh Ahmad Rifai (1183 M). Awal mula beliau belajar ilmu tarekat ini melalui ulama keturunan Arab Hadramaut, Syeikh Said Abu Hafs Umar bin 'Abdulloh bin Syaiban dari Tarim, atau yang dikenal di Gujarat dengan sebutan Sayid Umar al-Aydarus. Sudah beberapa tahun beliau melakukan berbagai perjalan intelektual di Timur-Tengah dan wilayah India, akan tetapi ar-Raniri mulai hijrah ke wilayah nusantara dengan memilih Aceh sebagai tempat tinggalnya. la datang di Aceh pada tanggal 31 Mei 1637 M (6 Muharram 1047 H), faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya memilih Aceh. Pilihan beliau ini mungkin diduga bahwa Aceh pada saat itu berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, politik dan agama Islam di kawasan Asia Tenggara, yang menggantikan posisi Malaka setelah dikuasai oleh Portugis dan kemungkinan lainnya, ar-Raniri mengikuti pamannya, Syeikh Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid (1588 M).[2] Dalam perjalanannya begitu banyak hal yang beliau pelajari sampai-sampai beliau melakukan perjalan yang cukup jauh dari negeri asalnya menuju ke Aceh yang bertujuan untuk mematahkan paham-paham yang menyeseatkan.
Pada tahun 1636 adalah awal mula kedatangan ar-Raniri di Aceh. Akan tetapi terdapat dua keraguan akan datangnya ar-Raniri pada saat itu, Pertama jika dilihat dari kemahirannya dalam berbahasa Malayu, sebagaimana ditunjukkan dalam kitab-kitabnya, maka sangat mustahil ar-Raniri baru ke Aceh pada tahun tersebut. Sementara keraguan yang kedua adalah bahwa jumlah karya-karyanya yang menyampai 29 buku tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dalam waktu lima tahun selama di Aceh (1636-1641 M). ar Raniri ketika baru datang di Aceh beliau langsung diangkat oleh Sultan Iskandar Tsani untuk menjadi ulama istana/ mufti.[3] Pada saat itulah ar Raniri mulai melakukan pembersihan terhadap paham-paham yang menyeleweng yang ada dikalangan masyarakat Aceh. Dengan dibekali ilmu dan keahlian dalam satra yang mumpuni serta tak hanya itu ar Raniri juga memanfaatkan kedudukannya sebagai mufti untuk melakukan pembersihan aqidah yang dianggapnya menyeleweng dari inti ajaran Islam. Maka pada saat itulah Ar Raniri memulai untuk mengeluarkan berbagai fatwa-fatwanya untuk melemahkan pemahaman yang menyeleweng yang ada dikalangan masyarakat Aceh.


Pergolakan Paham Tauhid di Aceh
Dalam perjalanan nya di Aceh Nurudin ar Raniri memilki banyak sekali karangan kitab-kitab serta karya yang lain yang mungkin masih masyhur sampai sekarang ini. Diantara karya beliau yang akan sedikit saya kutip adalah Dalam kitab yang beliau karang yaitu Tibyan fi Ma‘rifat al-Adyan yang merupakan kitab yang ditulis untuk sebuah hadiah serta atas permintaan dari Sultan Iskandar Tsani untuk mengkalrifikasi sebuah tahkim fatwanya terhadap kelompok paham Wujudiyah. Dari keterangan yang ada dalam kitab ini beliau memberikan sebuah peranyataan bahwa ajaran Wujudiyah yang dikemukakan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani merupakan sebuah benih-benih ajaran serta kepercayaan yang ada pada agama sebelumnya. Hal itu juga  merupakan bagian dari pemikiran falsafat Yunani dan pemikiran Hindu-Budha. Dalam konsep ar Raniri, penganut paham wujudiyah dianggap sesat(heretical) dan menyimpang, dan mereka diberi ‘label’ kafir, zindiq, mulhid dan dhalalah(sesat) yang mana hal ini sesuai dengan karyanya yang telah dikemukakan pada masyarakat aceh. Sebenarnya pernyataan takfir tersebut tak hanya disebut dalam kitab ini, akan tetapi juga disinggung dalam beberapa karyanya yang lain.[4] Sebenarnya dalam takfir dan tahkim ini dikaitkan dalam ranah politik yang mana dari kelompok yang ditakfirkan dan ditahkimkan menjadi sebuah malapetaka dan beda lagi jika takfir dan tahkim tersebut hanya dikemukakan pada ranah diskusi serta sebuah karya ilmiah saja tentu kelompok tersebut mendapat tidak mendapat sebuah tekanan.   
Dalam kitabnya ini pula beliau mengemukakan pendapat yang menjadi bahasan yang menarik dan mungkin bisa dijadikan sebuah wacana atau pengetahuan tentang paham kesufian yang menjauhkan dari penyelewengan akidah. Karena dalam pemikirannya ini terdapat sebuah paham yang bisa kita pahami sebagai orang awam dan terkesan tidak meninggalkan sebuah syariat Islam. Diantara pemikiran beliau kita bisa memahami menjadi beberapa bidang pembahasan[5] yang pertama pemikiran beliau mengenai pembahasan tentang tuhan dimana pendapat beliau tentang hal ini saya rasa hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ibn ‘Arabi beliau mengungkapkan mengenai Wujud Allah dan Alam Esa yang berarti bahwa alam ini merupakan sisi lahiriyah dan berada pada hakikat yang batin yaitu Allah sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibn ‘Arabi akan tetapi maksud ini kemudian ditafsirkan kembali dalam sisi hakikat bahwa alam ini tidak ada, jadi dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah serta beliau menyatakan bahwa alam ini merupakan tajali Allah.[6] Maka dari penafsiran inilah pendapat beliau terlepas dari label pantheisme karena dalam pendapat penafsiran tersebut memberi sebuah kejelasan bahwa alam bukanlah perwujudan Tuhan.
Setelah ditinjau dari wacana dari pembahasan pertama tentang tuhan maka  beralih ke pembahasan yang kedua adalah tentang alam yang mana pembahasan ini sebenarnya telah disinggung pada pembahasan yang pertama, dalam pembahasan ini alam termasuk tajalli Allah serta beliau menolak teori emanasi al Farabi karena hal tersebut akan membawa sebuah pernyataan bahwa alam ini qadim yang mana pernyataan tersebut menyebabkan jatuh pada sebuah kemusyrikan[7]. Pembahasan selanjutnya mengenai manusia menurut beliau bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat sempurna karena dalam diri manusia terdapat sebuah kenyataan tentang asma dan sifat Allah yang dianggapnya sangat lengkap dan menyeluruh. Bahkan kita bisa melihat kenyataan sifat Allah ini pada pribadi Nabi Muhammad SAW. Pembahasan yang terakhir mengenai paham Wahdat al wujud[8] konsep dari Hamzah fansuri yang mana dalam menurut Nurudin ar Raniri mengenai paham Wahdatul wujud ini dianggap disalah artikan oleh kelompok tersebut dengan pengartian bahwa kemanunggalan Allah dengan alam sehingga jika paham ini disebar luaskan pada masyarakat umum dan masih awam maka akan menjadi salah pengertian karena dalam paham tersebut terjadi sebuah pemisahan antara Syariat dengan Hakikat dan mungkin hal itu hanya bisa dipahami oleh seseorang yang telah mencapai makam yang tinggi dan menduduki sebuah kepahaman tentang syuhud kepada Allah maka Nurudin ar Raniri menyatakan pada hal layak umum dan kepada orang-orang awam bahwa paham tersebut telah keluar dari syariat islam dan merupakan sebuah paham yang telah menyeleweng dari aqidah Islam yang murni.
Dari berbagai pendapat Nurudin ar Raniri mengenai konsepnya ini yang menentang terhadap paham Wahdatul Wujud yang telah saya singgung diatas memberikan sebuah pengetahuan terhadap kita bahwa sebenarnya pemikiran dari ar Raniri sangatlah rasional dan bisa ditangkap serta dipahami oleh hal layak umum serta pertentangan terhadap paham yang menyeleweng tersebut bisa dipatahkan dari berbagai pendapat ataupun karya-karyanya. Sehinga dari pemikiran Nurudin ar Raniri ini kita bisa memahami mengenai perbedaan tentang penafsiran dan pemahaman yang merupakan sebuah kebenaran ataupun kesalahan dalam sebuah pemahaman yang ada pada konsep tasawuf.[9] Memang dalam pendapat yang dikemukakan oleh Nurudin dianggap sebuah kecaman ataupun tantangan yang tidak bisa dikompromi dan juga keras terhadap kaum Wujudiyah yang ada di Aceh tetapi hal tersebut bukanlah sebuah keradikalan akan tetapi hal tersebut merupakan sebuah implisit. Dan sebenarnya dari kecaman Nurudin ar Raniri ini terhadap ajaran dari Ibn Arabi ini bukanlah sebuah justifikasi kesesatan terhadap ajarannya akan tetapi Nurudin ar Raniri ini memberikan sebuah pembenaran terhadap paham yang ada pada kelompok Wahdatul Wujud yang dipelopori oleh Hamzah Fansuri yang berada di Aceh pada saat itu dan terjadi sebuah kesalah pahaman pada kelompok tersebut dalam memaknai konsep Wahdatul Wujud serta terdapat pula hal-hal yang memang memilki kandungan tersendiri dalam pemaknaan itu.
Dalam wacana yang telah dipaparkan diatas mengenai penolakan paham wujudiyah yang dilakukan oleh Nurudin ar Raniri yang memang memberikan kecaman yang keras dan dikatakan tidak bisa dikompromi bahkan Nurudin ar Raniri sampai menulis sebuah karya untuk mematahkan pemahaman yang tidak benar yang memang sedang terjadi pada masyarakat Aceh khususnya bagi masyarakat umum yang memang masih memiliki pengetahuan yang minim tentang sebuah nilai keislaman bahkan masih minim pula pemahaman mereka mengenai ketauhidan. Akan tetapi Nurudin ar Raniri tidak lah sepenuhnya menolak terhadap paham Wujudiyah bahkan dalam konsep tassawufnya masih terdapat asas paham Wujudiyah karena dalam kitab yang dikarangnya yaitu Hujjah al-Shiddiq li Dhaf’i al-Zindiq ar Raniri membagi ajaran Wujudiyah dalam 2 bagian yaitu yang pertama Wujudiyah Mulhidah dan Wujudiyah Muwahiddah[10]. inti dari Wujudiyah Mulhidah adalah lebih dekat dan identik dengan tassawuf falsafi sehingga dalam kontekstualnya lebih mengedepankan tentang pemikiran filsafat yang memang memahaminya harus memilki rasa yang tidak biasa sehingga tassawuf ini dianggap sebagai tassawuf yang tidak jelas karena lebih mengedepankan terminologi filosofis, sedangkan inti dari Wujudiyah Muwahiddah lebih dekat dengan pemahaman dari tassawuf sunni serta banyak pula ulama di dunia islam untuk menerima dari pemahaman tersebut. Maka dari karya ini memberikan sebuah pemahaman bahwa tak sepenuhnya Nurudin Ar Raniri menolak tentang paham wujudiyah.



Keberhasilan ar Raniri di Aceh
Perjalanan Nurudin ar Raniri di Aceh yang begitu banyak perjuangan membuahkan hasil yang sangat membanggakan karena memang jika kita lihat kembali dalam pembahasan sebelumnya mengenai pematahannya terhadap paham tauhid yang menyimpang dan kelompok yang mensalah artikan pada konsep Wujudiyah begitu brilian.  Tak hanya itu ar Raniri juga memberikan fatwa yang cukup keras[11] seperti yang telah dibahas sebelum diatas dan alasan-alasan yang cukup logis sehingga dapat meminimalisir para penganut paham sesat tersebut. Begitu pula pemikirannya yang konftontatif mengingatkan saya dengan pemikiran al Ghazali yang sangat konkrit mengkritik terhadap kaum filosof. Ketangkasan beliau dalam mematahkan paham-paham sesat yang ada di Aceh pada saat itu memberikan sebuah rasa kagum terhadap Sultan Iskandar Tsani karena memang kondisi dalam sebuah daerah itu terdapat sebuah pertentangan terhadap paham-paham agama yang keras yang berakibatkan terhadap sebuah ketataan negara dan polemik dalam keagamaan yang jika dibiarkan terus menerus akan menjadi sebuah kudeta dalam suatu daerah hanya karena perbedaan paham. Bahkan dari kekagumannya Nurudin ar Raniri diberi sebuah kepercayaan untuk menjadi ulama istana atau mufti. Dalam posisinya ini beliau tidak menyia-nyiakan untuk memberikan sebuah paham yang benar dan sesuai dalam ajaran islam yang murni serta menghakimi kelompok lain yang memiliki tentang konsepsi pemikiran keagaamaan yang dianggapnya sangat jauh dari ajaran islam yang murni.
 Keberhasilan Nurudin ar Raniri tak hanya sebatas beliau juga meberikan berbagai pendapat dan argumen yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan akidah pada masyarakat Aceh karena memang paham tasawuf tersebut dapat dikaitkan dengan paham Sunni karena terdapat sebuah dugaan bahwa politis di Aceh pada saat itu memang sedang ada sebuah tarik menarik paham aliran antara aliiran Syi’ah dan Sunni dan paham tasawuf Nurudin ar Raniri ini termasuk dalam Tasawuf Akhlaqi maka dari itu paham tersebut bisa dikaitkan. Tidak hanya itu pada kenyataannya nama Nurudin ar Raniri sangatlah ditterima di hati masyarakat Aceh yang mana kenyataan ini dapat dilihat dalam sebuah penamaan lembaga pendidikan tinggi agama yang menisbahkan kepada nama ar Raniri yaitu UIN Ar Raniri[12]. Nama Nurudin ar Raniri pun juga tercium luas dari berbagai daerah yang ada di Aceh karena memang beliau merupakan sebuah tokoh yang dianggap oleh masyarakat sebagai pembaharu paham tauhid di Aceh.  
Peranannya di masyarakat Aceh begitu banyak dan keberhasilannya di Aceh tak hanya sebatas pematahan paham Wujudiyah saja akan tetapi telah banyak hal yang dilakukannya untuk membangun Aceh dalam hal politik,ketata negaraan serta pendidikan tentang keislaman. Dalam penyebaran islam di Indonesia tidak terlepas dengan cara kesastraan dan budaya yang ada di suatu daerah maka dalam hal ini Nurudin Ar Raniri memilki sebuah keahlian tentang kesastraan dan banyak pula karangan dan karya-karyanya yang cukup brilian yang bisabertahan sampai sekarang ini. Pada abad ke-16 sebuah karya sastra dianggap sebagai sebuah ajaran tentang tasawuf oleh masyarakat Aceh bahkan semakin kuat pula ajaran-ajaran tassawuf yang terjadi pada saat itu sehingga posisi ini menjadi sangat kuat dan menjadi sebuah madzhad yang resmi pada kerajaan.[13] Maka dari hal tersebut Nurudin ar Raniri berencana membuat sebuah karya sastra yang terkait dengan problem dan a permasalahan yang menyangkut Aqidah, keIslaman dan kekerajan yang terjadi di Aceh.
Nurudin ar Raniri merupakan seorang ulama ulung yang berbakat dan memiliki kretivitas yang tinggi sampai-sampai karang beliau ini dikenal cukup luas di berbagai wilayah Aceh ataupun diluar. Dan memang jika sebuah ulama walaupun sealim apapun dia mungkin tak akan masyhur jika tidak membuat sebuah karya sastra yang dapaat memberikan sebuah kemanfaatan terhadap masyarakat pada umumnya. Dalam pembahasan yang ada sebelumnya saya telah menyinggung sedikit mengenai paham tauhid yang disampaikan Nurudin ar Raniri dan kenapa masyarakat Aceh memiliki minat yang cukup tinggi dengan konsepnya ini, karena memang hal itu sesuai dengan kehendak hatinya dan sesuai dengan keadaan yang ada. Ketauhidan merupakan suatu hal yang sangat penting terhadap bagi kehidupan masyarakat karena dalam kehidupan masyarakat selalu memilki problem dalam kehidupannya baik itu secara intern(dari dalam dirinya) ataupun ekstern(dari luar dirinya). Paham tauhid ini juga menjadi sebuah jembatan terhadap para aliran-aliran agama yang ada di tengah-tengah masyarakat supaya tetap berada dalam konteks al Qur’an dan Hadits[14]. Dalam suatu ralitas yang ada di kehidupan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan kebutuhan mereka yang mana dalam pemenuhannya ini sering terjadi ketidak stabilan dan menyebabkan sebuah malapetaka bagi kehidupan bermasyrakat seperti halnya kemiskinan,pembunuhan, dan berbagai kesenjangan sosial lainnya, nah dari inilah tasawuf berfungsi untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat tentang hakikat kehidupan sebenarnya karena memang hanya paham tauhid yang murni dan benar yang dapat memberikan cermin tentang perilaku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.


Kesimpulan
Nurudin ar Raniri adalah seorang ulama yang produktif yang memiliki karya tulis yang banyak, beliau juga seorang mufti atau ulama istana ada masa pemerntahan Sultan Iskandar Tsani. Dalam perjalan hidupnya di Aceh beliau melakukan pertentagan terhadap kelompok yang dainggapnya sesat yaitu kelompok Wujudiyah yang mana kelompok ini berasal dari doktrin yang disampaikan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Terdapat banyak karya-karya Nurudin ar Raniri yang memberikan penjelasan mengenai kesalah pahaman dari kelompok Wujudiyan tersebut. Nurudin ar Raniri merupakan seorang mufti yang tidak menyia-nyiakan kedudukannya, karena dalam kedudukannya sebagai mufti ini Nurudin ar Raniri membuat sebuah fatwa-fatwa yang keras bahkan memberi peringatan terhadap kelompok Wujudiyah untuk diburu dan dibunuh serta kitab-kitab dari kelompok itu dibakar hangus didepan masjid. Dalam paham tasawufnya Nurudin ar Raniri memberikan sebuah penjelasan mengenai Tuhan, Manusia, dan alam yang mana dari penjelasan ini kemudian dikaitkan dengan paham Wujudiyah dari Hamzah Fansuri. Nurudin ar Raniri mengungkapkan mengenai Wujud Allah dan Alam Esa yang berarti bahwa alam ini merupakan sisi lahiriyah dan berada pada hahkikat yang batin yaitu Allah sebagaimana yang diamksudkan oleh Ibn ‘Arabi akan tetapi maksud ini kemudian ditafsirkan kembali dalam sisi hakikat bahwa alam ini tidak ada, jadi dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah serta beliau menyatakan bahwa alam ini merupakan tajali Allah dalam penafsiran inilah beliau menyatakan bahwa Allah dan Alam sangat berbebeda. Kemudian Nurudin ar Raniri mengungkapkan mengenai alam yang mana hal ini telah sedikit dijelaskan di atas bahwa alam merupaka tajali Allah dan beliau menolak pemikiran dari al Farabi mengenai emanasi alam. Pengungkapannya tentang manusia beliau menjelaskan bahwa manusia adalah mankhluk yang sempurna bahkan sifat-sifat Allah sebagian ada dalam diri manusia tapi tidak serta merta hal ini menyamakan Allah dengan manusia karena hal itu adalah suatu kesalahan yang besar.
Keberhasilan Nurudin ar Raniri di Aceh yang memberikan berbagai pendapat dan argumen yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan akidah pada masyarakat Aceh karena memang paham tasawuf tersebut dapat dikaitkan dengan paham Sunni karena terdapat sebuah dugaan bahwa politis di Aceh pada saat itu memang sedang ada sebuah tarik menarik paham aliran antara aliiran Syi’ah dan Sunni dan paham tasawuf Nurudin ar Raniri ini termasuk dalam Tasawuf Akhlaqi maka dari itu paham tersebut bisa dikaitkan. Tidak hanya itu pada kenyataannya nama Nurudin ar Raniri sangatlah ditterima di hati masyarakat Aceh yang mana kenyataan ini dapat dilihat dalam sebuah penamaan lembaga pendidikan tinggi agama yang menisbahkan kepada nama ar Raniri yaitu UIN Ar Raniri. Nama Nurudin ar Raniri pun juga tercium luas dari berbagai daerah yang ada di Aceh karena memang beliau merupakan sebuah tokoh yang dianggap oleh masyarakat sebagai pembaharu paham tauhid di Aceh.  





DAFTAR PUSTAKA
           
Azra,Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17 dan 1,(Bandung: Mizan).

Bakhtiar Amsal,Filsafat Agama,(Jakarta,Logos Wacana Ilmu,1997).

Daudy Ahmad,Allah dan Manusia dalam Konsepsi Nur al-Din al-Raniri, (Jakarta:
Rajawali,1982).

Daudy Ahmad,Syaikh Nurudin Ar-Raniri: Sejarah,Karya,dan Sanggahan terhadap Wujudiyah di Aceh,(Aceh:Bulan Bintang 1983).

Faturahman Oman,Tanbih al Mansih:Menyoal Wahdatul Wujud, (Jakarta: Mizan,
1999).
Husein Nasr Sayyid,Islam:Agama Sejarah dan Peradaban,terjemahan.KoesAdiwi
jayanto, (Surabaya: Risalah Gusti,2003),

Majid Abdul,‘’Karakteristik Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2 (Oktober,2015).
           
Muhammad Naquib Syed, A Commentary on the Hujjat al Shiddiq Ar Raniri, (Kuala Lumpur: Ministry Of Culture,1986).

Mulyati Sri, Tasawuf Nusantara; Rangkain Mutiara Sufi Terkemuka, (Jakarta: Kencana Prenada Media,2006)

Muzakkir,Study Tassawuf Sejarah,Pemikiran,Tokoh dan Analisis, (Bandung: Cita
Pusaka Media,2009).

Nur Syaifan‘’Kritik Terhadap Pemikiran Tasawuf  Ar Raniri’’,Kanz Philosophia, Vol 3, No 2, (Desember 2013).

Rif’i Bahrun,Filsafat Tassawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2010).

Sofia Adib,’’Posisi Akhbar Al Akhirat dalam Konflik Antar Pandagan Kehidupan Beragama di Aceh Abad 17(Tinjauan Sosiologi Sastra)’’(Skripsi—UIN,1992).






[1] Bachrun Rif’i,Filsafat Tassawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2010),261.
[2] Ahmad Daudy,Syaikh Nurudin Ar-Raniri:Sejarah,Karya,dan Sanggahan terhadap Wujudiyah di Aceh,(Aceh:Bulan Bintang 1983),36-37.
[3] Bachrun Rif’i,Filsafat Tassawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2010),262
[4] Ahmad Daudy,Allah dan Manusia dalam Konsepsi Nur al-Din al-Raniri,(Jakarta:Rajawali,1982),4&51.
[5] Abdul Majid,‘’Karakteristik Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2 (Oktober,2015),183
[6] Muzakkir,Study Tassawuf Sejarah,Pemikiran,Tokoh dan Analisis,(Bandung:CitaPusaka Media,2009),148.
[7] Abdul Majid,’’Karakteristik Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2 (Oktober,2015),184
[8] Wahdat al wujud (kesatuan wujud) paham ketuhanan yang salah pengertian terhadap para pengikut aliran ini yang memberi anggapan bahwa alam bagian dari tuhan yang hampir sama tapi masih belum secara konkrit dari pengertian paham panteisme. Amsal Bakhtiar,Filsafat Agama,(Jakarta,Logos Wacana Ilmu,1997),94.
[9] Syed Muhammad Naquib Al Attas, A Commentary on the Hujjat al Shiddiq Ar Raniri,,(Kuala Lumpur:Ministry Of Culture,1986),16-21.
[10] Nurudin Ar Raniri,Hujjatushiddiq li Dhaf’il Zindiq,hal 9
[11] Oman Faturahman,Tanbih al Mansih:Menyoal Wahdatul Wujud,(Jakarta: Mizan,1999),51.
[12] Ibid hal 190
[13] Adib Sofia,’’Posisi Akhbar Al Akhirat dalam Konflik Antar Pandagan Kehidupan Beragama di Aceh Abad 17(Tinjauan Sosiologi Sastra)’’(Skripsi—UIN,1992),65-68
[14] Muhammad Thaib‘’Kualitas Manusia dalam Pandangan Al Qur’an’’,Jurnal Ilmiah Al Mu’ashirah,Vol.13,No.1(Januari,2016),31

Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...