ANTROPOLOGI TASAWUF
|
Ushuluddin & Filsafat
|
|
Tasawuf & Psikoterapi
|
Pemurnian Paham
Tauhid di Aceh Perspektif
Nurudin Ar Raniri
Oleh:
Ach Irham Rosyidin (E97216014)
Pendahuluan
Pemahaman tentang tuhan dalam islam mungkin biasa kita
dengar tauhid ataupun banyak penyebutan mengenai hal ini dan tak hanya itu
paham tauhid ini juga beragam bahkan setiap daerah atau wilayah memilki
pandangan tauhid yang berbeda-beda. Seperti halnya di Aceh paham tauhid memilki
keanekaragam disini karena memang jika ditinjau dari para ahli yang berada di
daerah tersebut memiliki perpekstif yang beragam pula. Dalam perkembangan islam
yang berada di Aceh ketika kepemimpinan Sultan Iskandar Muda terdapat sebuah
kelompok yang sangat mencolok didalamnya. Kelompok ini mengikuti paham yang
dibawa oleh Hamzah Fansuri yaitu paham Wujudiyah, terdapat banyak gejolak yang
terjadi pada saat itu ketika kelompok ini mulai dibumi hanguskan ketika
kesultanan selanjutnya karena memang paham kelompok tersebut berjalan terlalu
jauh dari inti ajaran Islam yang kita pahami.
Pemahaman masyarakat
mengenai tauhid mungkin sangatlah minim dan masih sangat awam. Tetapi ada juga
sebagian masyarakat yang memahami tauhid begitu dalam karena memang hal itu
dilatar belakangi bahwa paham tauhid sebenarnya sangatlah indah jika kita bisa
mengetahuinya lebih jauh. Jika dilihat pada zaman modern ini, paham tauhid
sangat lah banyak keanekaragamannya serta pemahamannya berbeda-beda.
Keanekaragaman ini terjadi karena pemikiran para ahli yang memilki pandangan
yang variatif dan juga pandangan ini mungkin ada yang benar atau juga yang
salah jika ditinjau dari sudut pandang masyarakat umum yang belom keseluruhan
memahami betul tentang ketauhidan. Banyak juga sejarah yang memberikan
penjelasan tentang pemahaman tauhid yang dianggap benar dan juga ada juga yang
dianggap salah oleh para ahli dan juga masyarakat umum. Mungkin saya akan
sedikit memberi contoh tentang pemahaman yang dianggap salah ini yaitu seperti
Syekh Siti Jenar yang mana beliau diberi hukuman pancung oleh Sultan yang ada
karena memberikan ajaran yang sangat menyimpang pada masyarakat umum, dan jika
kita lihat sejarah lebih jauh mungkin akan menemukan banyak sekali penyimpangan
paham-paham tauhid yang telah terjadi.
Dalam paham tauhid yang ada di Aceh juga
terjadi sebuah gejolak-gejolak yang terjadi, bahkan gejolakan tersebut jika
kita lihat dan kita nilai mungkin sangatlah keras karena memang sifat alami
dari manusia adalah selalu membenarkan pendapatnya dan tidak ingin disalahkan.
Pada hal ini akan sedikit saya bahas mengenai gejolak itu yaitu ketika masa
pemerintahan Sultan Iskandar Tsani yang mengangkat mufti kerajaan yang masyhur
yang bernama Nurudin Ar Raniri dan memberikannya kekuasaan untuk memberi
hukuman pada kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang ada. Serta hukuman
dan sangsi yang terjadi sedikit agak keras dan sangat intoleransi karena memang
jika hal ini tidak dilakukan akan banyak bibit-bibit baru yang akan muncul dan
berkembang tentang paham tauhid yang menyimpang dan jauh dari inti Ajaran Islam Dan untuk membahas hal ini lebih jauh akan
saya jelaskan pada sub bab selanjutnya mengenai pemurnian paham tauhid yang
terjadi di Aceh pada zaman Nurudin ar Raniri. Dan sebelum membahas hal itu
lebih jauh mungkin akan saya jelaskan sedikit tentang biografi singkat Nurudin
ar Raniri.
Biografi Singkat Nurudin ar Raniri
Nama lengkap beliau adalah Nur ad-Din Muhammad bin Ali
bin Hasanji Al-Hamid (atau Al-Syafi'i Al-Asy’ary Al-Aydarusi Ar-Raniri (untuk berikutnya
disebut Ar-Raniri). Beliau dilahirkan di Ranir (Randir), sebuah kota pelabuhan
tua di Pantai Gujarat,India sekitar pertengahan kedua abad XVI M. Ibunya
seorang keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dari keluarga imigran
Hadramaut. Pada tahun kelahiran Nurudin Ar Raniri ini masih belum terdapat
sebuah penjelasan yang konkrit kapan dan tanggal berapa dia lahir bahkan
terdapat dua kemungkinan tentang asal usul beliau. Kemungkinan pertama, nenek
moyangnya adalah keluarga al-Hamid dari Zuhra (salah satu dari sepuluh keluarga
Quraisy). Sedangkan kemungkinan yang kedua Ar-Raniri dinisbatkan pada
Al-Humayd, seseorang yang sering dikaitkan dengan Abu Bakr 'Abdulloh bin Zubair
Al-As'adi Al-Humaydi, seorang mufti Makkah dan murid termasyhur As-Syafii.[1]
Nurudin Ar-Raniri tidak hanya seseorang ahli
dalam bidang fikih, sejarah, politik,sastra dan filsafat beliau juga seorang
syeikh tarekat Rifa'iyyah, yang didirikan oleh Ahmad Rifai (1183 M). Awal mula
beliau belajar ilmu tarekat ini melalui ulama keturunan Arab Hadramaut, Syeikh
Said Abu Hafs Umar bin 'Abdulloh bin Syaiban dari Tarim, atau yang dikenal di
Gujarat dengan sebutan Sayid Umar al-Aydarus. Sudah beberapa tahun beliau melakukan
berbagai perjalan intelektual di Timur-Tengah dan wilayah India, akan tetapi ar-Raniri
mulai hijrah ke wilayah nusantara dengan memilih Aceh sebagai tempat tinggalnya.
la datang di Aceh pada tanggal 31 Mei 1637 M (6 Muharram 1047 H), faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhinya memilih Aceh. Pilihan beliau ini mungkin diduga
bahwa Aceh pada saat itu berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan,
politik dan agama Islam di kawasan Asia Tenggara, yang menggantikan posisi
Malaka setelah dikuasai oleh Portugis dan kemungkinan lainnya, ar-Raniri
mengikuti pamannya, Syeikh Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid (1588
M).[2] Dalam perjalanannya begitu
banyak hal yang beliau pelajari sampai-sampai beliau melakukan perjalan yang
cukup jauh dari negeri asalnya menuju ke Aceh yang bertujuan untuk mematahkan
paham-paham yang menyeseatkan.
Pada tahun 1636 adalah awal mula kedatangan
ar-Raniri di Aceh. Akan tetapi
terdapat dua keraguan akan datangnya ar-Raniri pada saat itu, Pertama jika
dilihat dari kemahirannya dalam berbahasa Malayu, sebagaimana ditunjukkan dalam
kitab-kitabnya, maka sangat mustahil ar-Raniri baru ke Aceh pada tahun tersebut.
Sementara keraguan yang kedua adalah bahwa jumlah karya-karyanya yang menyampai
29 buku tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dalam waktu lima tahun selama di
Aceh (1636-1641 M). ar Raniri ketika baru datang di Aceh beliau langsung
diangkat oleh Sultan Iskandar Tsani untuk menjadi ulama istana/ mufti.[3] Pada saat itulah ar Raniri
mulai melakukan pembersihan terhadap paham-paham yang menyeleweng yang ada
dikalangan masyarakat Aceh. Dengan dibekali ilmu dan keahlian dalam satra yang
mumpuni serta tak hanya itu ar Raniri juga memanfaatkan kedudukannya sebagai
mufti untuk melakukan pembersihan aqidah yang dianggapnya menyeleweng dari inti
ajaran Islam. Maka pada saat itulah Ar Raniri memulai untuk mengeluarkan
berbagai fatwa-fatwanya untuk melemahkan pemahaman yang menyeleweng yang ada
dikalangan masyarakat Aceh.
Pergolakan Paham Tauhid di Aceh
Dalam
perjalanan nya di Aceh Nurudin ar Raniri memilki banyak sekali karangan
kitab-kitab serta karya yang lain yang mungkin masih masyhur sampai sekarang
ini. Diantara karya beliau yang akan sedikit saya kutip adalah Dalam kitab yang
beliau karang yaitu Tibyan fi Ma‘rifat al-Adyan yang merupakan kitab yang
ditulis untuk sebuah hadiah serta atas permintaan dari Sultan Iskandar Tsani
untuk mengkalrifikasi sebuah tahkim fatwanya terhadap kelompok paham Wujudiyah.
Dari keterangan yang ada dalam kitab ini beliau memberikan sebuah peranyataan
bahwa ajaran Wujudiyah yang dikemukakan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
as-Sumatrani merupakan sebuah benih-benih ajaran serta kepercayaan yang ada
pada agama sebelumnya. Hal itu juga merupakan
bagian dari pemikiran falsafat Yunani dan pemikiran Hindu-Budha. Dalam
konsep ar Raniri, penganut paham wujudiyah dianggap sesat(heretical) dan
menyimpang, dan mereka diberi ‘label’ kafir, zindiq, mulhid dan dhalalah(sesat)
yang mana hal ini sesuai dengan karyanya yang telah dikemukakan pada masyarakat
aceh. Sebenarnya pernyataan takfir tersebut tak hanya disebut dalam kitab ini, akan
tetapi juga disinggung dalam beberapa karyanya yang lain.[4]
Sebenarnya dalam takfir dan tahkim ini dikaitkan dalam ranah politik yang mana
dari kelompok yang ditakfirkan dan ditahkimkan menjadi sebuah malapetaka dan
beda lagi jika takfir dan tahkim tersebut hanya dikemukakan pada ranah diskusi
serta sebuah karya ilmiah saja tentu kelompok tersebut mendapat tidak mendapat
sebuah tekanan.
Dalam kitabnya ini pula beliau mengemukakan pendapat yang
menjadi bahasan yang menarik dan mungkin bisa dijadikan sebuah wacana atau
pengetahuan tentang paham kesufian yang menjauhkan dari penyelewengan akidah. Karena
dalam pemikirannya ini terdapat sebuah paham yang bisa kita pahami sebagai
orang awam dan terkesan tidak meninggalkan sebuah syariat Islam. Diantara
pemikiran beliau kita bisa memahami menjadi beberapa bidang pembahasan[5]
yang pertama pemikiran beliau mengenai pembahasan tentang tuhan dimana pendapat
beliau tentang hal ini saya rasa hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan
oleh Ibn ‘Arabi beliau mengungkapkan mengenai Wujud Allah dan Alam Esa yang
berarti bahwa alam ini merupakan sisi lahiriyah dan berada pada hakikat yang
batin yaitu Allah sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibn ‘Arabi akan tetapi
maksud ini kemudian ditafsirkan kembali dalam sisi hakikat bahwa alam ini tidak
ada, jadi dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah serta
beliau menyatakan bahwa alam ini merupakan tajali Allah.[6]
Maka dari penafsiran inilah pendapat beliau terlepas dari label pantheisme
karena dalam pendapat penafsiran tersebut memberi sebuah kejelasan bahwa alam
bukanlah perwujudan Tuhan.
Setelah ditinjau dari wacana dari pembahasan pertama
tentang tuhan maka beralih ke pembahasan
yang kedua adalah tentang alam yang mana pembahasan ini sebenarnya telah
disinggung pada pembahasan yang pertama, dalam pembahasan ini alam termasuk
tajalli Allah serta beliau menolak teori emanasi al Farabi karena hal tersebut
akan membawa sebuah pernyataan bahwa alam ini qadim yang mana pernyataan
tersebut menyebabkan jatuh pada sebuah kemusyrikan[7].
Pembahasan selanjutnya mengenai manusia menurut beliau bahwa manusia merupakan
makhluk yang sangat sempurna karena dalam diri manusia terdapat sebuah
kenyataan tentang asma dan sifat Allah yang dianggapnya sangat lengkap dan
menyeluruh. Bahkan kita bisa melihat kenyataan sifat Allah ini pada pribadi
Nabi Muhammad SAW. Pembahasan yang terakhir mengenai paham Wahdat al wujud[8]
konsep dari Hamzah fansuri yang mana dalam menurut Nurudin ar Raniri mengenai
paham Wahdatul wujud ini dianggap disalah artikan oleh kelompok tersebut dengan
pengartian bahwa kemanunggalan Allah dengan alam sehingga jika paham ini
disebar luaskan pada masyarakat umum dan masih awam maka akan menjadi salah
pengertian karena dalam paham tersebut terjadi sebuah pemisahan antara Syariat
dengan Hakikat dan mungkin hal itu hanya bisa dipahami oleh seseorang yang telah
mencapai makam yang tinggi dan menduduki sebuah kepahaman tentang syuhud kepada
Allah maka Nurudin ar Raniri menyatakan pada hal layak umum dan kepada
orang-orang awam bahwa paham tersebut telah keluar dari syariat islam dan
merupakan sebuah paham yang telah menyeleweng dari aqidah Islam yang murni.
Dari berbagai pendapat Nurudin ar Raniri mengenai konsepnya
ini yang menentang terhadap paham Wahdatul Wujud yang telah saya singgung
diatas memberikan sebuah pengetahuan terhadap kita bahwa sebenarnya pemikiran
dari ar Raniri sangatlah rasional dan bisa ditangkap serta dipahami oleh hal
layak umum serta pertentangan terhadap paham yang menyeleweng tersebut bisa
dipatahkan dari berbagai pendapat ataupun karya-karyanya. Sehinga dari
pemikiran Nurudin ar Raniri ini kita bisa memahami mengenai perbedaan tentang
penafsiran dan pemahaman yang merupakan sebuah kebenaran ataupun kesalahan
dalam sebuah pemahaman yang ada pada konsep tasawuf.[9]
Memang dalam pendapat yang dikemukakan oleh Nurudin dianggap sebuah kecaman
ataupun tantangan yang tidak bisa dikompromi dan juga keras terhadap kaum Wujudiyah
yang ada di Aceh tetapi hal tersebut bukanlah sebuah keradikalan akan tetapi
hal tersebut merupakan sebuah implisit. Dan sebenarnya dari kecaman Nurudin ar
Raniri ini terhadap ajaran dari Ibn Arabi ini bukanlah sebuah justifikasi
kesesatan terhadap ajarannya akan tetapi Nurudin ar Raniri ini memberikan
sebuah pembenaran terhadap paham yang ada pada kelompok Wahdatul Wujud yang
dipelopori oleh Hamzah Fansuri yang berada di Aceh pada saat itu dan terjadi
sebuah kesalah pahaman pada kelompok tersebut dalam memaknai konsep Wahdatul
Wujud serta terdapat pula hal-hal yang memang memilki kandungan tersendiri
dalam pemaknaan itu.
Dalam wacana yang telah dipaparkan diatas mengenai
penolakan paham wujudiyah yang dilakukan oleh Nurudin ar Raniri yang memang
memberikan kecaman yang keras dan dikatakan tidak bisa dikompromi bahkan
Nurudin ar Raniri sampai menulis sebuah karya untuk mematahkan pemahaman yang
tidak benar yang memang sedang terjadi pada masyarakat Aceh khususnya bagi
masyarakat umum yang memang masih memiliki pengetahuan yang minim tentang
sebuah nilai keislaman bahkan masih minim pula pemahaman mereka mengenai
ketauhidan. Akan tetapi Nurudin ar Raniri tidak lah sepenuhnya menolak terhadap
paham Wujudiyah bahkan dalam konsep tassawufnya masih terdapat asas paham Wujudiyah
karena dalam kitab yang dikarangnya yaitu Hujjah al-Shiddiq li Dhaf’i al-Zindiq
ar Raniri membagi ajaran Wujudiyah dalam 2 bagian yaitu yang pertama Wujudiyah
Mulhidah dan Wujudiyah Muwahiddah[10].
inti dari Wujudiyah Mulhidah adalah lebih dekat dan identik dengan
tassawuf falsafi sehingga dalam kontekstualnya lebih mengedepankan tentang
pemikiran filsafat yang memang memahaminya harus memilki rasa yang tidak biasa
sehingga tassawuf ini dianggap sebagai tassawuf yang tidak jelas karena lebih
mengedepankan terminologi filosofis, sedangkan inti dari Wujudiyah
Muwahiddah lebih dekat dengan pemahaman dari tassawuf sunni serta banyak
pula ulama di dunia islam untuk menerima dari pemahaman tersebut. Maka dari
karya ini memberikan sebuah pemahaman bahwa tak sepenuhnya Nurudin Ar Raniri
menolak tentang paham wujudiyah.
Keberhasilan ar Raniri di Aceh
Perjalanan
Nurudin ar Raniri di Aceh yang begitu banyak perjuangan membuahkan hasil yang
sangat membanggakan karena memang jika kita lihat kembali dalam pembahasan
sebelumnya mengenai pematahannya terhadap paham tauhid yang menyimpang dan
kelompok yang mensalah artikan pada konsep Wujudiyah begitu brilian. Tak hanya itu ar Raniri juga memberikan
fatwa yang cukup keras[11]
seperti yang telah dibahas sebelum diatas dan alasan-alasan yang cukup logis
sehingga dapat meminimalisir para penganut paham sesat tersebut. Begitu pula
pemikirannya yang konftontatif mengingatkan saya dengan pemikiran al Ghazali
yang sangat konkrit mengkritik terhadap kaum filosof. Ketangkasan beliau dalam
mematahkan paham-paham sesat yang ada di Aceh pada saat itu memberikan sebuah
rasa kagum terhadap Sultan Iskandar Tsani karena memang kondisi dalam sebuah
daerah itu terdapat sebuah pertentangan terhadap paham-paham agama yang keras yang
berakibatkan terhadap sebuah ketataan negara dan polemik dalam keagamaan yang
jika dibiarkan terus menerus akan menjadi sebuah kudeta dalam suatu daerah
hanya karena perbedaan paham. Bahkan dari kekagumannya Nurudin ar Raniri diberi
sebuah kepercayaan untuk menjadi ulama istana atau mufti. Dalam posisinya ini
beliau tidak menyia-nyiakan untuk memberikan sebuah paham yang benar dan sesuai
dalam ajaran islam yang murni serta menghakimi kelompok lain yang memiliki
tentang konsepsi pemikiran keagaamaan yang dianggapnya sangat jauh dari ajaran
islam yang murni.
Keberhasilan Nurudin ar Raniri tak hanya
sebatas beliau juga meberikan berbagai pendapat dan argumen yang
sangat berpengaruh terhadap pembentukan akidah pada masyarakat Aceh karena
memang paham tasawuf tersebut dapat dikaitkan dengan paham Sunni karena
terdapat sebuah dugaan bahwa politis di Aceh pada saat itu memang sedang ada
sebuah tarik menarik paham aliran antara aliiran Syi’ah dan Sunni dan paham
tasawuf Nurudin ar Raniri ini termasuk dalam Tasawuf Akhlaqi maka dari itu
paham tersebut bisa dikaitkan. Tidak hanya itu pada kenyataannya nama Nurudin
ar Raniri sangatlah ditterima di hati masyarakat Aceh yang mana kenyataan ini
dapat dilihat dalam sebuah penamaan lembaga pendidikan tinggi agama yang menisbahkan
kepada nama ar Raniri yaitu UIN Ar Raniri[12].
Nama Nurudin ar Raniri pun juga tercium luas dari berbagai daerah yang ada di
Aceh karena memang beliau merupakan sebuah tokoh yang dianggap oleh masyarakat
sebagai pembaharu paham tauhid di Aceh.
Peranannya di masyarakat Aceh begitu banyak dan
keberhasilannya di Aceh tak hanya sebatas pematahan paham Wujudiyah saja akan
tetapi telah banyak hal yang dilakukannya untuk membangun Aceh dalam hal
politik,ketata negaraan serta pendidikan tentang keislaman. Dalam penyebaran
islam di Indonesia tidak terlepas dengan cara kesastraan dan budaya yang ada di
suatu daerah maka dalam hal ini Nurudin Ar Raniri memilki sebuah keahlian
tentang kesastraan dan banyak pula karangan dan karya-karyanya yang cukup
brilian yang bisabertahan sampai sekarang ini. Pada abad ke-16 sebuah karya
sastra dianggap sebagai sebuah ajaran tentang tasawuf oleh masyarakat Aceh
bahkan semakin kuat pula ajaran-ajaran tassawuf yang terjadi pada saat itu
sehingga posisi ini menjadi sangat kuat dan menjadi sebuah madzhad yang resmi
pada kerajaan.[13] Maka dari hal
tersebut Nurudin ar Raniri berencana membuat sebuah karya sastra yang terkait
dengan problem dan a permasalahan yang menyangkut Aqidah, keIslaman dan
kekerajan yang terjadi di Aceh.
Nurudin ar Raniri merupakan seorang ulama ulung yang
berbakat dan memiliki kretivitas yang tinggi sampai-sampai karang beliau ini
dikenal cukup luas di berbagai wilayah Aceh ataupun diluar. Dan memang jika
sebuah ulama walaupun sealim apapun dia mungkin tak akan masyhur jika tidak
membuat sebuah karya sastra yang dapaat memberikan sebuah kemanfaatan terhadap
masyarakat pada umumnya. Dalam pembahasan yang ada sebelumnya saya telah menyinggung
sedikit mengenai paham tauhid yang disampaikan Nurudin ar Raniri dan kenapa
masyarakat Aceh memiliki minat yang cukup tinggi dengan konsepnya ini, karena
memang hal itu sesuai dengan kehendak hatinya dan sesuai dengan keadaan yang
ada. Ketauhidan merupakan suatu hal yang sangat penting terhadap bagi kehidupan
masyarakat karena dalam kehidupan masyarakat selalu memilki problem dalam
kehidupannya baik itu secara intern(dari dalam dirinya) ataupun ekstern(dari
luar dirinya). Paham tauhid ini juga menjadi sebuah jembatan terhadap para
aliran-aliran agama yang ada di tengah-tengah masyarakat supaya tetap berada
dalam konteks al Qur’an dan Hadits[14].
Dalam suatu ralitas yang ada di kehidupan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan
kebutuhan mereka yang mana dalam pemenuhannya ini sering terjadi ketidak
stabilan dan menyebabkan sebuah malapetaka bagi kehidupan bermasyrakat seperti
halnya kemiskinan,pembunuhan, dan berbagai kesenjangan sosial lainnya, nah dari
inilah tasawuf berfungsi untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat tentang
hakikat kehidupan sebenarnya karena memang hanya paham tauhid yang murni dan
benar yang dapat memberikan cermin tentang perilaku yang baik dalam kehidupan
bermasyarakat.
Kesimpulan
Nurudin ar Raniri adalah seorang ulama yang produktif
yang memiliki karya tulis yang banyak, beliau juga seorang mufti atau ulama istana
ada masa pemerntahan Sultan Iskandar Tsani. Dalam perjalan hidupnya di Aceh
beliau melakukan pertentagan terhadap kelompok yang dainggapnya sesat yaitu
kelompok Wujudiyah yang mana kelompok ini berasal dari doktrin yang disampaikan
Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Terdapat banyak karya-karya Nurudin ar
Raniri yang memberikan penjelasan mengenai kesalah pahaman dari kelompok
Wujudiyan tersebut. Nurudin ar Raniri merupakan seorang mufti yang tidak
menyia-nyiakan kedudukannya, karena dalam kedudukannya sebagai mufti ini
Nurudin ar Raniri membuat sebuah fatwa-fatwa yang keras bahkan memberi
peringatan terhadap kelompok Wujudiyah untuk diburu dan dibunuh serta
kitab-kitab dari kelompok itu dibakar hangus didepan masjid. Dalam paham
tasawufnya Nurudin ar Raniri memberikan sebuah penjelasan mengenai Tuhan,
Manusia, dan alam yang mana dari penjelasan ini kemudian dikaitkan dengan paham
Wujudiyah dari Hamzah Fansuri. Nurudin ar Raniri mengungkapkan mengenai Wujud
Allah dan Alam Esa yang berarti bahwa alam ini merupakan sisi lahiriyah dan
berada pada hahkikat yang batin yaitu Allah sebagaimana yang diamksudkan oleh
Ibn ‘Arabi akan tetapi maksud ini kemudian ditafsirkan kembali dalam sisi
hakikat bahwa alam ini tidak ada, jadi dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda
atau bersatu dengan Allah serta beliau menyatakan bahwa alam ini merupakan
tajali Allah dalam penafsiran inilah beliau menyatakan bahwa Allah dan Alam
sangat berbebeda. Kemudian Nurudin ar Raniri mengungkapkan mengenai alam yang
mana hal ini telah sedikit dijelaskan di atas bahwa alam merupaka tajali Allah
dan beliau menolak pemikiran dari al Farabi mengenai emanasi alam.
Pengungkapannya tentang manusia beliau menjelaskan bahwa manusia adalah
mankhluk yang sempurna bahkan sifat-sifat Allah sebagian ada dalam diri manusia
tapi tidak serta merta hal ini menyamakan Allah dengan manusia karena hal itu
adalah suatu kesalahan yang besar.
Keberhasilan
Nurudin ar Raniri di Aceh yang memberikan berbagai pendapat dan argumen
yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan akidah pada masyarakat Aceh karena
memang paham tasawuf tersebut dapat dikaitkan dengan paham Sunni karena
terdapat sebuah dugaan bahwa politis di Aceh pada saat itu memang sedang ada
sebuah tarik menarik paham aliran antara aliiran Syi’ah dan Sunni dan paham
tasawuf Nurudin ar Raniri ini termasuk dalam Tasawuf Akhlaqi maka dari itu
paham tersebut bisa dikaitkan. Tidak hanya itu pada kenyataannya nama Nurudin
ar Raniri sangatlah ditterima di hati masyarakat Aceh yang mana kenyataan ini
dapat dilihat dalam sebuah penamaan lembaga pendidikan tinggi agama yang
menisbahkan kepada nama ar Raniri yaitu UIN Ar Raniri. Nama Nurudin ar Raniri
pun juga tercium luas dari berbagai daerah yang ada di Aceh karena memang
beliau merupakan sebuah tokoh yang dianggap oleh masyarakat sebagai pembaharu
paham tauhid di Aceh.
DAFTAR PUSTAKA
Azra,Jaringan
Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17 dan 1,(Bandung: Mizan).
Bakhtiar Amsal,Filsafat
Agama,(Jakarta,Logos Wacana Ilmu,1997).
Daudy Ahmad,Allah
dan Manusia dalam Konsepsi Nur al-Din al-Raniri, (Jakarta:
Rajawali,1982).
Daudy Ahmad,Syaikh
Nurudin Ar-Raniri: Sejarah,Karya,dan Sanggahan terhadap Wujudiyah di Aceh,(Aceh:Bulan
Bintang 1983).
Faturahman Oman,Tanbih
al Mansih:Menyoal Wahdatul Wujud, (Jakarta: Mizan,
1999).
Husein Nasr Sayyid,Islam:Agama
Sejarah dan Peradaban,terjemahan.KoesAdiwi
jayanto, (Surabaya: Risalah
Gusti,2003),
Majid Abdul,‘’Karakteristik
Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2
(Oktober,2015).
Muhammad Naquib Syed,
A Commentary on the Hujjat al Shiddiq Ar Raniri, (Kuala Lumpur: Ministry
Of Culture,1986).
Mulyati Sri, Tasawuf
Nusantara; Rangkain Mutiara Sufi Terkemuka, (Jakarta: Kencana Prenada
Media,2006)
Muzakkir,Study
Tassawuf Sejarah,Pemikiran,Tokoh dan Analisis, (Bandung: Cita
Pusaka Media,2009).
Nur Syaifan‘’Kritik
Terhadap Pemikiran Tasawuf Ar Raniri’’,Kanz
Philosophia, Vol 3, No 2, (Desember 2013).
Rif’i Bahrun,Filsafat
Tassawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2010).
Sofia Adib,’’Posisi
Akhbar Al Akhirat dalam Konflik Antar Pandagan Kehidupan Beragama di Aceh Abad
17(Tinjauan Sosiologi Sastra)’’(Skripsi—UIN,1992).
[2] Ahmad Daudy,Syaikh
Nurudin Ar-Raniri:Sejarah,Karya,dan Sanggahan terhadap Wujudiyah di Aceh,(Aceh:Bulan
Bintang 1983),36-37.
[5] Abdul Majid,‘’Karakteristik
Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2
(Oktober,2015),183
[6] Muzakkir,Study
Tassawuf Sejarah,Pemikiran,Tokoh dan Analisis,(Bandung:CitaPusaka
Media,2009),148.
[7] Abdul Majid,’’Karakteristik
Pemikiran Islam Nurudin Ar Raniri’’,substantia, Vol. 17,no 2
(Oktober,2015),184
[8] Wahdat al wujud
(kesatuan wujud) paham ketuhanan yang salah pengertian terhadap para pengikut
aliran ini yang memberi anggapan bahwa alam bagian dari tuhan yang hampir sama
tapi masih belum secara konkrit dari pengertian paham panteisme. Amsal
Bakhtiar,Filsafat Agama,(Jakarta,Logos Wacana Ilmu,1997),94.
[9] Syed Muhammad Naquib
Al Attas, A Commentary on the Hujjat al Shiddiq Ar Raniri,,(Kuala
Lumpur:Ministry Of Culture,1986),16-21.
[13] Adib Sofia,’’Posisi Akhbar Al Akhirat dalam Konflik
Antar Pandagan Kehidupan Beragama di Aceh Abad 17(Tinjauan Sosiologi
Sastra)’’(Skripsi—UIN,1992),65-68
[14] Muhammad Thaib‘’Kualitas Manusia dalam Pandangan Al Qur’an’’,Jurnal
Ilmiah Al Mu’ashirah,Vol.13,No.1(Januari,2016),31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar