“TINGKATAN MANUSIA MENURUT IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI”
Oleh: M. Rizkillah
Universitas Negeri Sunan Ampel
Email: Sutongrizki@gmail.com
Email: Sutongrizki@gmail.com
ABSTRAK
“Ibn
Atha’illah As-Sakandari dengan pemikiran tarekat sadziliyyahnya mengumandangkan
tasawuf tak lain haya penjernian hati dalam wacana pengimplementasian scenario
Takdir. Takdir Ibn Atha’illah As-Sakandari yang sejati cukup mewakili arus akal
dengan karyanya yang dituangkan dalam sarah kitab Al-Hikam. Inti sari manusia
berpola piker modern pemahaman bersumber dari seberapa sadar manusia menghayati
hasil ciptaan tuhan dengan instalkan scenario Tuhan pada tiap-tiap nafs.
Endingnya seorang zahid akan memperoleh fase extasi dalam bentuk kesadaran
final maqamat terhadap lima ahwal
(taubat, zuhud, sabar, tawakkal, ridlha) seperti yang diterangkan Ibn Atha’illah
As-Sakandari dalam karangan kitab Al-Hikam”
Kata Kunci: Tasawuf, Takdir, Maqamat.
PENDAHULUAN
Pada zaman modern ini banyak hal yang jarang, banyak
dari kalangan ummat beragama yang kurang mengimplementasikan nilai dasar radikal
agama dalam dalam konteks kekritisan hasanan dalam fenomena sosial bermasyarakat.
Keunikan ini mulai muncul semenjak Rasulullah S.A.W. wafat, dari sinilah perpecahan
politik praktis dikembangkan oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it, Tabi’it Tabi’in
dan ahirnya menghasilkan beberapa ilmu faham kalam dengaan menitik beratkan permasalahan
dalam konteks surga dan neraka. Katakanlah khawarij, Mu’tazilah, syiah, qadariyah,
Jabbariyah, Sunni, Mu’tazilah dan beberapa ilmu kalam yang lainya. Dari sudut pandang
segi sosial, tidak heran kalau masyarakat heterogen pemeluk agama zaman sekarang
semakin terbecah belah akan faham ilmu pengetahuan, sebab berkaca pada masa rasulullah
sebelum beliau wafat yangberfatwa bahwa “Ummatku esok akan terpecah menjadi 73
golongan, dan diantaranya lah yang masuk surga adalah golongan ahlus sunnah wal
jama’ah”.
Perlunya pemurnian pemahaman tazkiat an-nafs dalam menghayati masyarakat
sosial dunia modern demi melawan keragaman budaya secara radikal, moderat tanpa
meninggalkan sisi syariat agama sangatlah urgent dalam hal ini. Ketika para mujahidin
menafsirkan pemikiran para tokoh shuffi yang berhasil melakoni pendekatannya terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, relasi pasca post modernlah yang dapat diadopsi amaliahnya
oleh ummat beragama. Sebut saja Ibn Atha’illah
dengan paradigma logistik sistematika tauhidnya yang mengusung antropologi mistisisme
alam dengan pelbagai kontradiksi pada zamannya, dapat diahayati oleh ummat beragama
agar dapat menerima hasil karya ciptaan Tuhan dengan penuh keimanan.
1.1. BIOGRAFI
IBNU ATHA’ILLAH
Ibn Atha’illah As-Sakandari lahir
di Mesir pada pertengahan abad ke 7Hijriyah/13Masehi sejauh data yang ada, beliau
wafat pada tahun 709H di tempat yang sama. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di
mesir. Dibawah pemerintahan mamluk, mesir menjadi pusat pendidikan dan pemerintahan
agama dunia belahan timur setelah baghdad hancur 656H satu abad sebelumnya.[1]
Sejak kecil Ibn Atha’illah dikenal gemar
belajar. Beliau menimba ilmu dari beberapa Syekh secara bertahap. Gurunya yang paling
dekat adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn 'Ali
al-Anshari al-Mursi, murid dari Abu al-Hasan asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah.
Dalam bidang fiqih, Beliau menganut dan menguasai Madzhab Maliki. Sedangkan di bidang
tasawuf, Beliau termasuk pengikut sekaligus tokoh tarekat Syadziliyah. Ibn Atha’illah tergolong ulama yang produktif.
Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya, yang meliputi bidang tasawuf,
tafsir, akidah, hadits, nahwu dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu, yang paling
terkenal adalah Kitab Al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum
opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali di syarah. Antara lain oleh Muhammad bin
Ibrahim Ibn Ibad ar Rundi, Syekh Ahmad Zarruq
dan Ahmad Ibn Ajiba. Beberapa kitab lainnya
yang ditulis adalah At-Tanwir fi Isqathid Tadbir, 'Unwanut Taufiq fi Adabith Thariq,
Miftakhul Falah, dan Al-Qaulul Mujarrad fil Ismil Mufrad. Karyanya yang terakhir
ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam
Ibn Taimiyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup
di satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas
tinggi dan sangat santun. Ibn Taimiyah adalah
sosok ulama yang tidak menyukai praktik sufisme. Sedangkan Ibn Atha'illah dan para pengikutnya melihat tidak
semua jalan sufisme itu salah. Sebab mereka juga ketat dalam urusan syari'at.
Ibn Atha'illah masyhur sebagai
sosok yang dikagumi dan bersih. Beliau menjadi panutan bagi banyak orang yang menitih
jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi
para juru nasihat. Beliau dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan
tarekat asy-Syadzili setelah yang pendirinya, Abu al-Hasan asy-Syadzili, dan penerusnya,
Abu al-Abbas al-Mursi. Dan Beliau inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran,
pesan-pesan, do'a, dan biografi keduanya. Sehingga khazanah tarekat Syadziliyah
tetap terpelihara. Meski Beliau tokoh kunci di sebuah tarekat, bukan berarti aktivitas
dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarekat. Buku-buku Ibn Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin
dari berbagai kelompok, bersifat lintas madzhab dan tarekat, terutama Kitab Al-Hikam
yang melegenda dalam karyanya dengan asumsi takdir kezuhudan yang beliau angkat
dalam kitabnya.
Pada akhrnya, hanya dua
tahun atau sesudah
itu,
Ibn Atha‟illah meninggal dunia di usia
sekitar 60 tahun. Ia meninggal di madrasah Manshuriah, dimana waktu itu ia
sedang mengajarkan materi hukum madzhab Maliki. Prosesi pemakamannya
tampak sangat ramai, dan ia di
makamkan di pemakaman Qarafa.
Makamnya
masih ada hingga kini, sedangkan di sebelahnya ada makam seorang Sufi Syadziliah lainnya, yakni Syekh Ali Abu Wafa‟ (w.807 H./1405 M.), yang
punya
hubungan keturunan
langsung dengan
Ibn Atha‟illah. Dalam
beberapa abad
lamanya, makamnya terkenal dan diziarahi oleh orang-orang saleh, dan segera
pula menjadi makam keramat (karamah)
atau dikeramatkan
orang.[2]
1.2. TAKDIR DAN
MANUSIA
Takdir, tak banyak orang faham akan hal itu dikarenakan banyak faktor
pendorong. kurangnya rasa cinta pengenalan antara kultural budaya dengan kulturan
haus akan keilmuan. sebutan qadar merupakan sebutan haqq dari sang pencipta yang
tak bisa dirubah walaupun dengan berusaha mati matian, sebab tujuan dibalik kukuhnya
hukum alam tersebut memiliki hikmah yang lebih besar daripada keuntungan pribadi
tiap mkhluk, tidak menutup kemungkinan jikalau manusia yang menerimanya dengan lapang
dada akan mendapatkan kesempurnaan yang lebih dari kekurangan sebelum dimilikinya.
Sejak pertama Ibn Atha’illah membangun tasawufnya dengan pemikiran
bahwa manusia tidak
memiliki kebebasan
penuh untuk memilih nasib sendiri sesuai dengan keinginanannya. Alasannya karena
Allah telah menentukan nasib
manusia secara detail
dan berkuasa penuh memperlakukan
takdir ciptaanNya, termasuk
manusia. Dasar pemikiran ini sebenarnya telah membudaya dihampir
semua aliran tasawuf yang ada, namun tidak berlebihan apabila dikatakan hanya Ibn Atha’illah
saja yang
konsisten dengan prinsip ini, baik secara teoritis maupun praktisnya. Sebab dalam setiap perjalanan pemikiran tasawufnya Ibn Atha’illah
selalu menegasikan
kebebasan
mutlak yang dituntut manusia.[3] Hal ini tampak ketika
seorang salik (pelaku suluk atau pengembara spiritual) yang hendak melakukan
mujahadah
al-nafs
(apabila ditulis mujahadah saja artinya
sama
dengan mujahadah al-nafs)
harus mampu menghilangkan
egonya lebih dahulu.[4]
Keberhasilan salik dalam mempurifikasikaan jiwa dan sekaligus mampu
meningkatkan ketaatannya selama mujahadah (mendidik
jiwa atau nafsu) pada
hakikatnya bukan murni
hasil rekayasanya
sendiri,
tetapi karena ada campur
tangan Allah. Sebab mujahadah sendiri tidak menjamin keberhasilan
salik
dapat
wusul (menjumpai) Allah.[5]
Dari sini semakin menjelaskan kenapa Ibn Atha’illah
tidak terlalu
menganggap penting
laku suluk sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut tasawuf lain. Sikapnya ini terdeteksi
ketika Ibn Atha’illah memberi ruang tersendiri kepada salik untuk mencapai tataran makrifat tanpa harus melalui
prosedur standar yang berjenjang sejak dari fase mujahadah, naik ke maqamat,
ahwal
hingga
ke tataran makrifat sebagai
tujuan
akhir. Pencapaian makrifat dengan metode non standar dapat saja terjadi kalau ada gravitasi (jadhab) dari
Allah.[6]
Sehingga salik
tidak
perlu bersusah payah menjalani
mujahadah yang
melelahkan
untuk mencapai tataran
berikutnya.[7] Berangkat dari
penjelasan ini seyogyanya setiap
insan menyadari
sepenuhnya
bahwa
semua
detail kehidupan yang ada
adalah realisasi perjalanan takdirnya
yang dijalankan dan
dikontrol oleh hukum-hukum
Allah, sehingga tidak mungkin ada peluang bagi manusia untuk keluar dari takdirNya.[8] Apabila manusia tidak mungkin keluar dari takdir jalan hidupnya, maka penyelesaian yang terbaik dalam menghadapi berbagai kehidupan adalah memiliki sikap ridho dan apatis terhadap semua kejadian.
Setiap orang berhak mendapatkan rahmat Allah, namun berbeda dengan orang
yang benar-benar mencurahkan hati sepenuhnya kepada Allah ia akan benar-benar dapat
merasakan rahmat itu. Seperti dalam firman Q.S. Ali Imran Ayat 31 “katakanlah:
Jika kamu benar-benar mencintai Allah, Ikutilah Aku (Rasul), niscahya Allah
mengasihi kamu dengan mengampuni dosamu. Dan Allah maha pengampun dan maha penyayang”.[9]
1.3. MAQAMAT PERSPEKTIF IBN ATHA’ILLAH
Terkait masalah maqamat, Ibn Atha’illah menjabarkannya dalam beberapa fatwa sebagai
berikut:
Pertama, taubat. Bagi Ibn Atha’illah, seorang salik (orang yang berjalan menuju
Allah) harus terlebih dahulu membersihkan diri dari dosa-dosa. Ibn Atha’illah berkata, “min
‘alamat mawt al-qalb ‘adam
al-khuzn ‘ala
ma fataka min al-muwafaqat wa tark al-nadam ‘ala ma fa’altahu min wujud al-zallat”[10] beberapa
tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan
beribadah yang manusia
lewatkan, dan tiadanya penyesalan atas kesalahan yang manusia
lakukan.
Sedangkan banyaknya dosa yang dilakukan seseorang
tak
boleh menyebabkan seseorang
putus pengharapan
akan ampunan Allah. Ia berkata, “la ya’zhumu al-danbu ‘indaka ‘azhamatan tashudduka
‘an husn al-zhann bi Allah ta’ala. Fa inna man ‘arafa rabbahu, istashghara
fi janbi karamihi
dzanbuhu”[11] Dosa
besar tak boleh menghalangimu
untuk
berbaik sangka kepada Allah. Sebab, siapa yang mengenal
Tuhannya, akan tahu bahwa dosanya kecil belaka dibanding
kemurahan Allah. Selanjutnya,
ia berkata, “idza waqa’a minka dzanbun fala yakun sababan liya’sika min hushul al-istiqamah ma’a
rabbika faqad yakunu
dzalika akhira dzanbin quddira ‘alaika”[12] (apabila engkau terjatuh
dalam dosa, maka jangan sampai itu menjadi sebab keputus-asaanmu
dalam memperoleh
istiqamah dengan Tuhanmu. Sebab, boleh jadi itulah dosa terakhir yang
ditakdirkan Allah kepadamu).
Kedua, zuhud yang sering dipahami sebagai usaha untuk meninggalkan kemewahan dunia
dan memilih hidup sederhana. Bahkan, seorang yang zuhud yakni Ibn Atha’illah juga menegaskan
bahwa
kehinaan
muncul sebagai
akibat ketamakan.
Ia berkata bahwa, “ma basaqat aghshanu dzull illa ‘ala bidzri thama’in”[13]
(tidak tumbuh
dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih ketamakan). Maksudnya seorang yang zahid memag dituntut
untuk menempuh jalan yang tak meninggalkan segi alam akhirat.
Ketiga, yaitu sabar dalam menjalankan perintah-perintah dan
dalam menjauhi larangan-larangan Allah,
serta
menerima segala
ujian
dan cobaan yang ditimpakan Allah kepada dirinya. Namun, tak seluruh orang bisa sabar menghadapi pedihnya penderitaan.
Ibn Atha’illah berkata, “li yukhaffif
alam
al-bala’ ‘alaika ‘ilmuka bi annahu Subhanahu wa Ta’ala huwa al-mubli
laka. Fa alladzi wajahatkan minhu al-aqdar huwa alladzi ‘awwadaka husna al-
ikhtiyar”[14] (pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah
lah sang pemberi ujian. Yang
mendatangkan ujian-takdir
kepadamu adalah
Dia Allah yang
juga
bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik). Dengan demikian, menurut Ibn Atha’illah, datangnya ujian kepada seseorang tak hanya meniscayakan kesabaran dari yang bersangkutan melainkan
syukur kepada Tuhan, karena di balik ujian itu ada karunia
yang hendak diberikan. Merenungkan apa yang diungkap Ibn Atha’illah ini rasanya memang tak ada
jalan pintas untuk sampai kepada Tuhan.
Keempat, tawakkal, yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Ibn
Atha’illah berkata, “min ‘alamat al-najahi fi al-nihayat al-ruju’ ila Allah fi al-bidayat”[15] (di
antara tanda keberhasilan pada ujung perjuangan
adalah berserah diri kepada Allah semenjak permulaan). Menurut Ibn Atha’illah, tak ada pilihan lain bagi seorang hamba selain tawakkal kepada Allah. Karena segala sesuatu itu akan berjalan sesuai kehendak
Allah dan bukan oleh kehendak
yang lain.
Kelima, ridha atau kerelaan, yaitu menerima putusan dan
takdir Allah
secara tenang. Ibn Atha’illah pernah berkata “al-‘atha min al-khalq
hirman wa al-man’u min Allah ihsan”[16] (orang yang sedih dengan penolakan Allah atas suatu permintaan menunjukkan ketidak-pahaman
yang bersangkutan pada Allah).
Dari argument ini menuntut seorang manusia untuk meridhai segala hal yang ditempelkan
pada sang manusia. Kita harus rela menerima; musibah itu terjadi sekarang dan
bukan nanti; tsunami menerjang
kita
dan bukan yang lain,
yang
hancur
diserang angin puting-beliung
itu
properti kita dan bukan yang lain. Sebab, semuanya itu berjalan mengikuti ketentuan
Allah, dan kita sebagai hamba-Nya tak ada cara lain kecuali ridha menerimanya.[17]
Kita
tahu, bila Tuhan berkendak, maka siapakah yang bisa menghalangi kehendak-Nya.
Dengan demikian, kerelaan menerima setiap takdir adalah jalan etis satu-satunya.
Cerita tentang
kesengsaraan
Nabi
Ayub adalah cerita tentang ke-ridha-an seorang hamba
menghadapi
ujian dan takdir Tuhannya. Cerita ini terus diulang para mistikus untuk dijadikan teladan kerelaan dalam menghadapi ujian atau penderitaan. Sehingga seorang manusia wajib ridha atas
segala hal yang diberikan oleh Allah.
KHATIMAH
Memperhatikan ungkapan-ungkapan
yang dikemukakan Ibn Atha’illah
tersebut, beberapa hal berikut bisa dikatakan. Pertama, tak seperti umumnya
para teolog yang
suka
bertikai mengenai
definisi-definisi Tuhan,
maka Ibn Atha’illah
melompat untuk merasakan
kehadiran Tuhan melalui proses intuisi
dan
pengalaman spiritual. Ini karena kenyataan-kenyataan dalam dunia rohani memang tak bisa dijelajahi dengan argumen-argumen rasional.
Kedua, di tengah masyarakat yang lebih mengunggulkan kekayaan materi-duniawi, apa yang
dikemukakan Ibn Atha’illah
masih
memiliki relevansi. Ketamakan manusia tak hanya menyebabkan kehancuran alam,
melainkan juga mengantarkan manusia yang
satu
memangsa manusia yang
lain. Merajalelanya
perkara korupsi yang melibatkan para pejabat publik di
negeri ini menunjukkan bahwa betapa kerakusan para koruptor dengan
menumpuk-numpuk harta telah menghancurkan bangsa.
Ketiga, konsep kepasrahan total kepada Allah yang diintroduksi
Ibn Atha’illah akan memunculkan kesalah pahaman di sebagian pihak; bahwa Ibn
Atha’illah menganut faham fatalisme (jabariyah) yang berujung pada kenaifan.
Untung, sejarah menunjukkan
bahwa para sufi bukan sekelompok orang yang
apatis menyaksikan ketidak-adilan.
Mereka
adalah orang-orang yang gigih berjuang melawan kezaliman, kapan pun dan dimana pun.
DAFTAR PUSTAKA
Victor Danner
, Sufisme Ibn
Atha‟illah; Kajian Kitab al-Hikam, Cet, 1, (Surabaya; Risalah
Gusti, 2003)
Rosihon Anwar, dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Cet, 1,
(Bandung: Pustaka Setia, 2000)
Abdul Moqsith, Kajian Terhadap Kitab Al-Hikam Al-`Atha’iyah,
(2013) vol.32
Ibn Athaillah, Rahasia
Kecerdasan Tauhid, (Jakarta: T.P., 2009)
Abdul Ghaffar, Qada’
dan Qadar Ulasan Tuntas Masalah Takdir, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006)
Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi, Al-Taftazani, Ibn Ataillah Al-Sakandari wa
Tasawwufuh, (Kairo: Maktabah Angelou Al-Mishriyyah, 1969)
Ahmad Rofi’Usmani, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, (Bandung: Pustaka, 1985)
Abu Fajar
Al-Qalami, Intisari Kitab Al-Hikam, (Mataram: Gitamedia, 2005)
Ahmad Abi al-‘Abbas ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-‘Atha’iyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2008)
Ibn Athaillah, Syarah al-Hikam, terj. Ahmad
Daerobiy, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2009)
[1] Danner Victor, Sufisme Ibn Atha‟illah;
Kajian Kitab al-Hikam, Cet. 1, (Surabaya: Risalah Gusti, 2003), 1
[2] Danner Victor , Sufisme Ibn Atha‟illah;
Kajian Kitab al-Hikam, Cet, 1, (Surabaya; Risalah
Gusti, 2003), 19-21
[7] Al-Ghanimi Abu Al-Wafa’, Al-Taftazani, Ibn Ataillah Al-Sakandari wa
Tasawwufuh, (Kairo: Maktabah Angelou Al-Mishriyyah, 1969),121
[10] Abi al-‘Abbas Ahmad
ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-‘Atha’iyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2008),
72
Tidak ada komentar:
Posting Komentar