Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

“TINGKATAN MANUSIA MENURUT IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI” Oleh: M. Rizkillah Universitas Negeri Sunan Ampel


“TINGKATAN MANUSIA MENURUT  IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI”
Oleh: M. Rizkillah
Universitas Negeri Sunan Ampel
Email: Sutongrizki@gmail.com
 

ABSTRAK
“Ibn Atha’illah As-Sakandari dengan pemikiran tarekat sadziliyyahnya mengumandangkan tasawuf tak lain haya penjernian hati dalam wacana pengimplementasian scenario Takdir. Takdir Ibn Atha’illah As-Sakandari yang sejati cukup mewakili arus akal dengan karyanya yang dituangkan dalam sarah kitab Al-Hikam. Inti sari manusia berpola piker modern pemahaman bersumber dari seberapa sadar manusia menghayati hasil ciptaan tuhan dengan instalkan scenario Tuhan pada tiap-tiap nafs. Endingnya seorang zahid akan memperoleh fase extasi dalam bentuk kesadaran final maqamat  terhadap lima ahwal (taubat, zuhud, sabar, tawakkal, ridlha) seperti yang diterangkan Ibn Atha’illah As-Sakandari dalam karangan kitab Al-Hikam”
Kata Kunci: Tasawuf, Takdir, Maqamat.
PENDAHULUAN
Pada zaman modern ini banyak hal yang jarang, banyak dari kalangan ummat beragama yang kurang mengimplementasikan nilai dasar radikal agama dalam dalam konteks kekritisan hasanan dalam fenomena sosial bermasyarakat. Keunikan ini mulai muncul semenjak Rasulullah S.A.W. wafat, dari sinilah perpecahan politik praktis dikembangkan oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it, Tabi’it Tabi’in dan ahirnya menghasilkan beberapa ilmu faham kalam dengaan menitik beratkan permasalahan dalam konteks surga dan neraka. Katakanlah khawarij, Mu’tazilah, syiah, qadariyah, Jabbariyah, Sunni, Mu’tazilah dan beberapa ilmu kalam yang lainya. Dari sudut pandang segi sosial, tidak heran kalau masyarakat heterogen pemeluk agama zaman sekarang semakin terbecah belah akan faham ilmu pengetahuan, sebab berkaca pada masa rasulullah sebelum beliau wafat yangberfatwa bahwa “Ummatku esok akan terpecah menjadi 73 golongan, dan diantaranya lah yang masuk surga adalah golongan ahlus sunnah wal jama’ah”.
            Perlunya pemurnian pemahaman tazkiat an-nafs dalam menghayati masyarakat sosial dunia modern demi melawan keragaman budaya secara radikal, moderat tanpa meninggalkan sisi syariat agama sangatlah urgent dalam hal ini. Ketika para mujahidin menafsirkan pemikiran para tokoh shuffi yang berhasil melakoni pendekatannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, relasi pasca post modernlah yang dapat diadopsi amaliahnya oleh ummat beragama. Sebut saja  Ibn Atha’illah dengan paradigma logistik sistematika tauhidnya yang mengusung antropologi mistisisme alam dengan pelbagai kontradiksi pada zamannya, dapat diahayati oleh ummat beragama agar dapat menerima hasil karya ciptaan Tuhan dengan penuh keimanan.
1.1.  BIOGRAFI  IBNU ATHA’ILLAH
 Ibn Atha’illah As-Sakandari lahir di Mesir pada pertengahan abad ke 7Hijriyah/13Masehi sejauh data yang ada, beliau wafat pada tahun 709H di tempat yang sama. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di mesir. Dibawah pemerintahan mamluk, mesir menjadi pusat pendidikan dan pemerintahan agama dunia belahan timur setelah baghdad hancur 656H satu abad sebelumnya.[1] Sejak kecil  Ibn Atha’illah dikenal gemar belajar. Beliau menimba ilmu dari beberapa Syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu al-Abbas Ahmad  Ibn 'Ali al-Anshari al-Mursi, murid dari Abu al-Hasan asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. Dalam bidang fiqih, Beliau menganut dan menguasai Madzhab Maliki. Sedangkan di bidang tasawuf, Beliau termasuk pengikut sekaligus tokoh tarekat Syadziliyah.  Ibn Atha’illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya, yang meliputi bidang tasawuf, tafsir, akidah, hadits, nahwu dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu, yang paling terkenal adalah Kitab Al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali di syarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim  Ibn Ibad ar Rundi, Syekh Ahmad Zarruq dan Ahmad  Ibn Ajiba. Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah At-Tanwir fi Isqathid Tadbir, 'Unwanut Taufiq fi Adabith Thariq, Miftakhul Falah, dan Al-Qaulul Mujarrad fil Ismil Mufrad. Karyanya yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam  Ibn Taimiyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup di satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun.  Ibn Taimiyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktik sufisme. Sedangkan  Ibn Atha'illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Sebab mereka juga ketat dalam urusan syari'at.
 Ibn Atha'illah masyhur sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Beliau menjadi panutan bagi banyak orang yang menitih jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Beliau dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarekat asy-Syadzili setelah yang pendirinya, Abu al-Hasan asy-Syadzili, dan penerusnya, Abu al-Abbas al-Mursi. Dan Beliau inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, do'a, dan biografi keduanya. Sehingga khazanah tarekat Syadziliyah tetap terpelihara. Meski Beliau tokoh kunci di sebuah tarekat, bukan berarti aktivitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarekat. Buku-buku  Ibn Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas madzhab dan tarekat, terutama Kitab Al-Hikam yang melegenda dalam karyanya dengan asumsi takdir kezuhudan yang beliau angkat dalam kitabnya.
Pada akhrnya, hanya dua tahun atau sesudah itu, Ibn Athaillah meninggal dunia di usia sekitar 60 tahun. Ia meninggal di madrasah Manshuriah, dimana waktu itu ia sedang mengajarkan materi hukum madzhab Maliki. Prosesi pemakamannya tampak sangat ramai, dan ia di makamkan di pemakaman Qarafa. Makamnya masih ada hingga kini, sedangkan di sebelahnya ada makam seorang Sufi Syadziliah lainnya, yakni Syekh Ali Abu Wafa (w.807 H./1405 M.), yang punya hubungan keturunan langsung dengan Ibn Atha‟illah. Dalam beberapa abad lamanya, makamnya terkenal dan diziarahi oleh orang-orang saleh, dan segera pula menjadi makam keramat (karamah) atau dikeramatkan orang.[2]
1.2. TAKDIR DAN MANUSIA
Takdir, tak banyak orang faham akan hal itu dikarenakan banyak faktor pendorong. kurangnya rasa cinta pengenalan antara kultural budaya dengan kulturan haus akan keilmuan. sebutan qadar merupakan sebutan haqq dari sang pencipta yang tak bisa dirubah walaupun dengan berusaha mati matian, sebab tujuan dibalik kukuhnya hukum alam tersebut memiliki hikmah yang lebih besar daripada keuntungan pribadi tiap mkhluk, tidak menutup kemungkinan jikalau manusia yang menerimanya dengan lapang dada akan mendapatkan kesempurnaan yang lebih dari kekurangan sebelum dimilikinya.
Sejak pertama Ibn Atha’illah membangun tasawufnya dengan pemikiran bahwa manusia tidak memiliki kebebasan penuh untuk memilih nasib sendiri sesuai dengan keinginanannya. Alasannya karena Allah telah menentukan nasib manusia secara detail dan berkuasa penuh memperlakukan takdir ciptaanNya, termasuk manusia. Dasar pemikiran ini sebenarnya telah membudaya dihampir semua aliran tasawuf yang ada, namun tidak berlebihan apabila dikatakan hanya Ibn Atha’illah saja yang konsisten dengan prinsip ini, baik secara teoritis maupun praktisnya. Sebab dalam setiap perjalanan pemikiran tasawufnya Ibn Atha’illah selalu menegasikan kebebasan mutlak yang dituntut manusia.[3] Hal ini tampak ketika seorang salik (pelaku suluk atau pengembara spiritual) yang hendak melakukan mujahadah al-nafs (apabila ditulis mujahadah saja artinya sama dengan mujahadah al-nafs) harus mampu menghilangkan egonya lebih dahulu.[4]
Keberhasilan salik dalam mempurifikasikaan jiwa dan sekaligus mampu meningkatkan ketaatannya selama mujahadah (mendidik jiwa atau nafsu) pada hakikatnya bukan murni hasil rekayasanya sendiri, tetapi karena ada campur tangan Allah. Sebab mujahadah sendiri tidak menjamin keberhasilan salik dapat wusul (menjumpai) Allah.[5] Dari sini semakin menjelaskan kenapa Ibn Atha’illah tidak terlalu menganggap penting laku suluk sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut tasawuf lain. Sikapnya ini terdeteksi ketika Ibn Atha’illah memberi ruang tersendiri kepada salik untuk mencapai tataran makrifat tanpa harus melalui prosedur standar yang berjenjang sejak dari fase mujahadah, naik ke maqamat, ahwal hingga ke tataran makrifat sebagai tujuan akhir. Pencapaian makrifat dengan metode non standar dapat saja terjadi kalau ada gravitasi (jadhab) dari Allah.[6] Sehingga salik tidak perlu bersusah payah menjalani mujahadah yang melelahkan untuk mencapai tataran berikutnya.[7] Berangkat dari penjelasan ini seyogyanya setiap insan menyadari sepenuhnya bahwa semua detail kehidupan yang ada adalah realisasi perjalanan takdirnya yang dijalankan dan dikontrol oleh hukum-hukum Allah, sehingga tidak mungkin ada peluang bagi manusia untuk keluar dari takdirNya.[8] Apabila manusia tidak mungkin keluar dari takdir jalan hidupnya, maka penyelesaian yang terbaik dalam menghadapi berbagai kehidupan adalah memiliki sikap ridho dan apatis terhadap semua kejadian.
Setiap orang berhak mendapatkan rahmat Allah, namun berbeda dengan orang yang benar-benar mencurahkan hati sepenuhnya kepada Allah ia akan benar-benar dapat merasakan rahmat itu. Seperti dalam firman Q.S. Ali Imran Ayat 31 “katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, Ikutilah Aku (Rasul), niscahya Allah mengasihi kamu dengan mengampuni dosamu. Dan Allah maha pengampun dan maha penyayang”.[9]
1.3. MAQAMAT PERSPEKTIF  IBN ATHA’ILLAH
Terkait masalah maqamat, Ibn Athaillah menjabarkannya dalam beberapa fatwa sebagai berikut:
Pertama, taubat. Bagi Ibn Athaillah, seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) harus terlebih dahulu membersihkan diri dari dosa-dosa. Ibn Athaillah berkata, min ‘alamat mawt al-qalb ‘adam al-khuzn ‘ala ma fataka min al-muwafaqat wa tark al-nadam ‘ala ma fa’altahu min wujud al-zallat[10] beberapa tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan beribadah yang manusia lewatkan, dan tiadanya penyesalan atas kesalahan yang manusia lakukan.
Sedangkan banyaknya dosa yang dilakukan seseorang tak boleh menyebabkan seseorang putus pengharapan akan ampunan Allah. Ia berkata, la yazhumu al-danbu indaka ‘azhamatan tashudduka ‘an husn al-zhann bi Allah ta’ala. Fa inna man arafa rabbahu, istashghara fi janbi karamihi dzanbuhu[11] Dosa besar tak boleh menghalangimu untuk berbaik sangka kepada Allah. Sebab, siapa yang mengenal Tuhannya, akan tahu bahwa dosanya kecil belaka dibanding kemurahan Allah. Selanjutnya, ia berkata,idza waqa’a minka dzanbun fala yakun sababan liya’sika min hushul al-istiqamah ma’a rabbika faqad yakunu dzalika akhira dzanbin quddira ‘alaika[12] (apabila engkau terjatuh dalam dosa, maka jangan sampai itu menjadi sebab keputus-asaanmu dalam memperoleh istiqamah dengan Tuhanmu. Sebab, boleh jadi itulah dosa terakhir yang ditakdirkan Allah kepadamu).
Kedua, zuhud yang sering dipahami sebagai usaha untuk meninggalkan kemewahan dunia dan memilih hidup sederhana. Bahkan, seorang yang zuhud yakni  Ibn Atha’illah juga menegaskan bahwa kehinaan muncul sebagai akibat ketamakan. Ia berkata bahwa, ma basaqat aghshanu dzull illa ala bidzri thama’in[13] (tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih ketamakan). Maksudnya seorang yang zahid memag dituntut untuk menempuh jalan yang tak meninggalkan segi alam akhirat.
Ketiga, yaitu sabar dalam menjalankan perintah-perintah dan dalam menjauhi larangan-larangan Allah, serta menerima segala ujian dan cobaan yang ditimpakan Allah kepada dirinya. Namun, tak seluruh orang bisa sabar menghadapi pedihnya penderitaan. Ibn Athaillah berkata, li yukhaffif alam al-bala’ ‘alaika ‘ilmuka bi annahu Subhanahu wa Ta’ala huwa al-mubli laka. Fa alladzi wajahatkan minhu al-aqdar huwa alladzi ‘awwadaka husna al- ikhtiyar[14] (pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah lah sang pemberi ujian. Yang mendatangkan ujian-takdir kepadamu adalah Dia Allah yang juga bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik). Dengan demikian, menurut Ibn Athaillah, datangnya ujian kepada seseorang tak hanya meniscayakan kesabaran dari yang bersangkutan melainkan syukur kepada Tuhan, karena di balik ujian itu ada karunia yang hendak diberikan. Merenungkan apa yang diungkap Ibn Athaillah ini rasanya memang tak ada jalan pintas untuk sampai kepada Tuhan.
Keempat, tawakkal, yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Ibn Athaillah berkata, min ‘alamat al-najahi fi al-nihayat al-ruju’ ila Allah fi al-bidayat[15] (di antara tanda keberhasilan pada ujung perjuangan adalah berserah diri kepada Allah semenjak permulaan). Menurut Ibn Athaillah, tak ada pilihan lain bagi seorang hamba selain tawakkal kepada Allah. Karena segala sesuatu itu akan berjalan sesuai kehendak Allah dan bukan oleh kehendak yang lain.
Kelima, ridha atau kerelaan, yaitu menerima putusan dan takdir Allah secara tenang.  Ibn Atha’illah pernah berkata “al-‘atha min al-khalq hirman wa al-man’u min Allah ihsan”[16] (orang yang sedih dengan penolakan Allah atas suatu permintaan menunjukkan ketidak-pahaman yang bersangkutan pada Allah). Dari argument ini menuntut seorang manusia untuk meridhai segala hal yang ditempelkan pada sang manusia. Kita harus rela menerima; musibah itu terjadi sekarang dan bukan nanti; tsunami menerjang kita dan bukan yang lain, yang hancur diserang angin puting-beliung itu properti kita dan bukan yang lain. Sebab, semuanya itu berjalan mengikuti ketentuan Allah, dan kita sebagai hamba-Nya tak ada cara lain kecuali ridha menerimanya.[17] Kita tahu, bila Tuhan berkendak, maka siapakah yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Dengan demikian, kerelaan menerima setiap takdir adalah jalan etis satu-satunya. Cerita tentang kesengsaraan Nabi Ayub adalah cerita tentang ke-ridha-an seorang hamba menghadapi ujian dan takdir Tuhannya. Cerita ini terus diulang para mistikus untuk dijadikan teladan kerelaan dalam menghadapi ujian atau penderitaan. Sehingga seorang manusia wajib ridha atas segala hal yang diberikan oleh Allah.
KHATIMAH
Memperhatikan ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Ibn Athaillah tersebut, beberapa hal berikut bisa dikatakan. Pertama, tak seperti umumnya para teolog yang suka bertikai mengenai definisi-definisi Tuhan, maka Ibn Athaillah melompat untuk merasakan kehadiran Tuhan melalui proses intuisi dan pengalaman spiritual. Ini karena kenyataan-kenyataan dalam dunia rohani memang tak bisa dijelajahi dengan argumen-argumen rasional.
Kedua, di tengah masyarakat yang lebih mengunggulkan kekayaan materi-duniawi, apa yang dikemukakan Ibn Athaillah masih memiliki relevansi. Ketamakan manusia tak hanya menyebabkan kehancuran alam, melainkan juga mengantarkan manusia yang satu memangsa manusia yang lain. Merajalelanya perkara korupsi yang melibatkan para pejabat publik di negeri ini menunjukkan bahwa betapa kerakusan para koruptor dengan menumpuk-numpuk harta telah menghancurkan bangsa.
Ketiga, konsep kepasrahan total kepada Allah yang diintroduksi Ibn Athaillah akan memunculkan kesalah pahaman di sebagian pihak; bahwa Ibn Athaillah menganut faham fatalisme (jabariyah) yang berujung pada kenaifan. Untung, sejarah menunjukkan bahwa para sufi bukan sekelompok orang yang apatis menyaksikan ketidak-adilan. Mereka adalah orang-orang yang gigih berjuang melawan kezaliman, kapan pun dan dimana pun.



DAFTAR PUSTAKA
Victor Danner , Sufisme  Ibn Athaillah; Kajian Kitab al-Hikam, Cet, 1, (Surabaya; Risalah Gusti, 2003)
Rosihon Anwar, dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Cet, 1, (Bandung: Pustaka Setia, 2000)
Abdul Moqsith, Kajian Terhadap Kitab Al-Hikam Al-`Athaiyah, (2013) vol.32
Ibn Athaillah, Rahasia Kecerdasan Tauhid, (Jakarta: T.P., 2009)
Abdul Ghaffar, Qada’ dan Qadar Ulasan Tuntas Masalah Takdir, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006)
Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi, Al-Taftazani, Ibn Ataillah Al-Sakandari wa Tasawwufuh, (Kairo: Maktabah Angelou Al-Mishriyyah, 1969)
Ahmad RofiUsmani, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, (Bandung: Pustaka, 1985)
Abu Fajar Al-Qalami, Intisari Kitab Al-Hikam, (Mataram: Gitamedia, 2005)
Ahmad Abi al-Abbas ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2008)
Ibn  Athaillah, Syarah al-Hikam, terj. Ahmad Daerobiy, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2009)



[1] Danner Victor, Sufisme  Ibn Athaillah; Kajian Kitab al-Hikam, Cet. 1, (Surabaya: Risalah Gusti, 2003), 1
[2] Danner Victor , Sufisme  Ibn Athaillah; Kajian Kitab al-Hikam, Cet, 1, (Surabaya; Risalah Gusti, 2003), 19-21
[3]  Anwar Rosihon, dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Cet, 1, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 121
[4]  Moqsith Abdul, Kajian Terhadap Kitab Al-Hikam Al-`Athaiyah, (2013) vol.32
[5]  Athaillah Ibn, Rahasia Kecerdasan Tauhid, (Jakarta: t.p., 2009), 244
[6] Ghaffar Abdul, Qada’ dan Qadar Ulasan Tuntas Masalah Takdir, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), 8
[7] Al-Ghanimi Abu Al-Wafa’, Al-Taftazani, Ibn Ataillah Al-Sakandari wa Tasawwufuh, (Kairo: Maktabah Angelou Al-Mishriyyah, 1969),121
[8]  Usmani Ahmad Rofi, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, (Bandung: Pustaka, 1985), 22-34
[9]  Fajar Al-Qalami Abu, Intisari Kitab Al-Hikam, (Mataram: Gitamedia, 2005), 358-359
[10] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2008), 72
[11] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah,73-75
[12] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah,148
[13] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah, 80
[14] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah,118
[15] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah,48
[16] Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq, al-Hikam al-Atha’iyah,112
[17] Athaillah Ibn, Syarah al-Hikam, terj. Ahmad Daerobiy, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2009), 39

Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...