TASAWUF
NUSANTARA
(Karakteristik Tasawuf Nusantara)
DosenPembimbing
:
Dr.wasid
M.Fil.i
Disusunoleh:
DinyFarodisa
(E97216033)
Mawaddah (E07216008)
M.
Rizkillah (E07216006)
PRODI ILMU TASAWUF
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah hi rabbi al-alamin. Segala
puji kami haturkan kepada Allah SWT, dzat yang maha tinggi. Berkat rahmat,
inayah, dan taufik-Nya, Makalah kami yang berjudul “KARAKTERISTIK TASAWUF NUSANTARA” dapat kami selesaikan dengan tanpa halangan apapun.
Shalawat serta salam tetap kami ucapkan kepada junjungan kita nabi besar, Nabi Muhammad S.A.W., beserta keluarganya, dan sahabat-sahabatnya,
yang telah memberi syafa’at kepada kita dari zaman yang gelap gulita menuju
zaman yang terang benderang, yaitu addinul
islam. Semoga sunnah-sunnahnya dan suri tauladannya senantiasa tetap
tercurahkan kepada kita, amin ya rabbal alamin.
Makalah ini telah kami susun dengan
maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar penyususnan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari
bahwa sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan, baik dari segi susunan, kalimat
maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inspirasi bagi pembacanya.
Surabaya,
07 Maret 2018
DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................................1
Daftar Isi
..............................................................................................................2
BAB I : Pendahuluan............................................................................................3
A.
Latar belakang
...........................................................................................3
B.
Rumusan Masalah
.....................................................................................3
C.
Tujuan
........................................................................................................3
BAB II : Pembahasan
..........................................................................................4
A. Masuknya Islam di
Indonesia.....................................................................4
B. Ghazalianisme di
Nusantara.......................................................................5
C. Tasawuf Nusantara....................................................................................7
D. Periodesasi Tasawuf
Nusantara..................................................................9
E. Tokoh dan Kitab Tasawuf
Nusantara.......................................................10
BAB III :
Penutup...............................................................................................11
A. Kesimpulan...............................................................................................11
Daftar
Pustaka.....................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Masuknya Islam ke pulau Jawa tidak dapat
dilepaskan dari konteks masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap
berperan dalam penyebaran Islam di Jawa sering disebut-sebut sebagai Wali
Songo. Berdirinya kerajaan Islam di Jawa, dengan tokoh sentral para wali
penyebar Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi Pasai yang menjadi daerah
persinggahan para penyebar Islam dari Tanah Arab. Ketika Kerajaan Pasai sedang
mengalami kemunduran dan Malaka mempertahankan panji-panji Islam di gugusan
Pulau Melayu. Ketiga negara itu adalah, Aceh di Sumatera bagian Utara, Ternate
di Maluku dan Demak di Jawa. Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam,
menurut cerita rakyat Jawa karena peran dakwah Wali Songo yang sangat tekun dan
memahami benar-benar kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, sehingga mereka
mampu berbuat banyak dan menakjubkan.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana seluk beluk masuknya Islam di Indonesia ?
b. Seperti apa ajaran tasawuf di Nusantara ?
c. Bagaimana periodesasi ajaran tasawuf yang berkembang di Nusantara ?
3. Tujuan
a. Untuk mengetahui seluk beluk masuknya Islam di Indonesia.
b. Untuk mengetahui corak ajaran tasawuf yang ada di Nusantara.
c. Untuk mengetahui perjalan periodesasi ajaran tasawuf yang berkembang di
Nusantara.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam Di Indonesia
Islam datang pertama kali di Indonesia
yaitu melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh audagar Arab. Jalan-jalan
yang dilalui para saudagar itu adalah melewati jalan laut dari Aden menyusuri
pesisir pantai India Barat dan Selatan, sedangkan dari jalur darat melalui
Khurasan , kemudian melalui Khutan padang pasir Gobi, lalu menyebrang Sungtu,
Nasyu, Katon, dan kemudian menyebrangi laut Cina Selatan sehingga memasuki
gugusan pulau-pulau Melayu melalui pesisir timur Semenanjung Melayu. Dengan
demikian Islam datang ke gugusan pulau-pulau Melayu melalui lautan India dan
juga laut Cina secara langsung dari Negeri Arab[1].
Penyebaran Islam di Melayu termasuk
Nusantara, yang diakui oleh sebagian besar ahli sufistik. Mereka juga berhasil
mengislamkan sejumlah besar penduduk, Faktor utama keberhasilannya adalah
kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif khususnya
dengan menekankan perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal.
Kemudian masuknya Islam ke Pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari konteks
masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam
penyebaran Islam yaitu tanpa menggunakan kekerasan.
Tokoh-tokoh yang di anggap berperan dalam
penyebaran Islam di Pulau Jawa sering disebut dengan “Walisongo”. Berdirinya
kerajaan Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi pasai yang menjadi daerah
persing/gahan para menyebar Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi pasai
yang menjadi yang menjadi daerah persinggahan para penyebar Islam dari Tanah
Arab. Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam, menurut cerita rakyat
orang Jawa karena adanya peran dari Walisongo yang sangat tekun dan juga sangat
memahami benar-benar kondisi sosial kultural masyarakat Jawa, sengingga mereka
menggunakan pendekatan kultural dan edukasional, sehingga sampai saat ini dapat
disaksikan bekas-bekasnya seperti halnya, penunjukan wayang kulit dan wayang
purwa, dan menjadi pusat pendidikan pondok pesantren, menjadi arsitektur masjid dan filosofinya.
Para Walisongo yang berdakwa tentang
keagamaan yaitu menggunakan pola yang akomodatif, sehingga Islamisasi di tanah
Jawa mengesanka banyak orang. Dan para Walisongo tersebut diidentifikasi dengan
tokoh-tokoh kharismatik yang lazim dikenal sebagai penganut ajaran-ajaran ulama
sufi. Berperannya para sufi di dalam penyebaran Islam tampak sekali dalam peran
menyatukan umat Islam, dan mulai muncul thariqa-thariqat sufi yang disebarkan
sampai ke tanah Jawa, selat Sunda, pulau Madura beberapa daerah lainnya.
Ajaran Tasawuf berkembang pertama kalinya di Aceh yakni pada
abad ke-17 M. Pemahaman tersebut lalu dibawa para pedagang Melayu hingga sampai
ke Demak dan Banten. Paham Syaikh Siti Jenar juga diperkenalkan pada sebagian
masyarakat yang mempelajari agama, mengingat sebagian besar penduduk daerah ini
menganut madzhab Syafi’iyyah dalam bidang fiqh. Sedangkan ajaran tasawuf yang
diajarkan dan berkembang sampai dengan sekarang adalah ajaran al-Ghazali.[2]
Berdasarkan Babad Cirebon, Purwaka Caruban
Nagari, ketika Kerajaan Pasai mengalami kemunduran, adalah seorang warga Pasai
bernama Fadhilah Khan (wong agung saking Pase) datang ke Pulau Jawa terutama
Demak berdiri, Islam tersebar demikian cepat ke seluruh pelosok Pulau Jawa.
Keharuman nama Demak sebagai basis penyebaran Islam di Pulau Jawa sesungguhnya
tidak lepas dari peran Wali Songo. Meskipun tidak membawa bendera tertentu,
kecuali Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, metode dakwah yang digunakan para wali
itu adalah penerapan metode yang dikembangkan para ulama sufi sunni dalam
menanamkan nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik sebelum
berkata-kata.[3]
Al-Ghazali menyatakan bahwa, hakikat tasawuf adalah ilmu dan amal yang
membuahkan akhlak terpuji, jiwa yang suci dan bukan ungkapan-ungkapan teoritis
belaka.[4]
B. Ghazalianisme Di Nusantara
Sikap keteladanan merupakan salah satu
keunggulan yang dimiliki para wali yang berjiwa sufi dalam menyebarkan Islam.
Disamping mereka memiliki pengetahuan, pengalaman luas, dan penguasaan terhadap
budaya masyarakat yang menjadi tempat tujuan dakwah mereka. Sejarah babad jawa
membuktikan dan menjelaskan pergulatan antara spiritualitas Islam dengan
spiritualitas Hindu-Budha, dengan adanya keunggulan agama baru yang dibawa oleh
para wali sufi. Kenyataan ini membuktikan para penyebar Islam dengan semangat
spiritualismenya berjalan pada jalur generasi muslim abad pertama.[5]
Para wali itu memang tidak meninggalkan
karya tulis seperti para tokoh sufi lainnya. Jejak yang ditinggalkannya
terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid
dalam bahasa jawa. Tulisan itu berisi catatan pengalaman orang-orang saleh yang
menegaskan bahwa latihan-latihan spiritual (riyadhah) sangat diperlukan dalam
rangkaian pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada
Allah, yaitu kedekatan yang mengantarkan seseorang pada alam ruhani ketika jiwa
merindukan Allah hingga memperoleh titisan cahaya Ilahi.
Dari pemikiran dan praktek-praktek tasawuf
tersebut, diperoleh kejelasan bahwa corak tasawuf yang dianut oleh para wali
itu adalah tasawuf sunni, misalnya al-Ghazali. Para wali sering menjadikan
karya-karya al-Ghazali sebagai referensi mereka. Bukti nyata mengenai hal ini
terdapat dalam manuskrip yang ditemukan Drewes yang diperkirakan ditulis pada
masa transisi Hinduisme pada Islam, pada masa Wali Songo masih hidup. Dalam
manuskrip yang menguraikan tasawuf itu terdapat beberapa paragraf yang dinukil
dari kitab Bidayat al-Hidayah karya al-Ghazali. Ini menunjukkan bahwa
tasawuf sunni berpengaruh pada saat itu.
Lebih dari itu, informasi-informasi
tertulis mengenai ajaran-ajaran Wali Songo sangat bertentangan dengan pemikiran
panthaeisme. Demikian pula generasi berikutnya yang meriwayatkan diri
dari tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi seperti Futuhat al-Makkiyah.[6]
Wali Songo tetap berada dalam jalur nenek moyang mereka yang loyal kepada
madzhab Syafi’i dalam aspek syari’at, dan al-Ghazali dalam aspek tarekat. Tak
heran jika mereka menjadikan Ihya’ ‘Ulum al-Din sebagai sumber
inspirasi dalam melakukan dakwahnya, disamping kitab-kitab andalah Ahlussunnah
lainnya, seperti Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki, dan al-Hidayah
serta Manhaj al-‘Abidin karya al-Ghazali. Para wali juga berhasil
memberikan kontribusi dalam bentuk pesantren dan madrasah yang tersebar di
seluruh pelosok tanah air. Sebagian besar menerapkan tasawuf Sunni dengan
mengajarkan Ihya’ ‘Ulum al-Din sebagai salah satu materi dasarnya.[7]
Selain Wali Songo ternyata masih banyak
tokoh sufi di tanah jawa yang tidak kalah penting. Ulama-ulama itu merupakan
generasi pelanjut perjuangan para wali. Salah satunya di Jawa Barat tercatat
namanya Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), seorang ulama penyebar
Islam dikawasan selatan Jawa Barat, yang lebih dikenal umum sebagai wali.[8]
Dia adalah murid dari Syeikh Abdurrauf Sinkli (sufi Aceh).[9]
Dia aktif menyebarkan tarekat Syattariyah di tanah Jawa dan semenanjung Melayu.[10]
Namun demikian, ia tetap menolak faham Wujudiyah yang menganggap adanya
penyatuan antara Tuhan dan hamba.[11]
C. Tasawuf Nusantara
Ajaran Islam sebagai suatu keseluruhan
terkandung dalam tawhid yaitu pengakuan tentang ke-Esaan Allah. Di
kalangan awal muslim, penegasan ini merupakan proses yang jelas namun
sederhana. Sedangkan bagi para pemikir, tawhid adalah pintu yang terbuka
untuk memahami dan masuk ke dalam realitas essensial. Semakin jauh pikiran para
pemikir dan perenung menembus kesederhanaan rasional yang nampak dari ke-Esaan
Allah, semakin menjadi kompleks kesederhanaan tersebut, maka ia akan mencapai
puncak dimana aspek-aspek yang berbeda tidak dapat lagi ditunjukkan dengan
pikiran yang terpenggal-penggal. Meditasi atas perbedaan-perbedaan ini,
dalam kenyataannya akan menggunakan indra pemikiran, sampai pada batas-batas
yang paling jauh. Kondisi ini, sebagaimana dikemukakan oleh Titus Burckhardt,[12]
merupakan intuisi tanpa bentuk yang dapat masuk ke dalam ke-Esaan Allah.
Pemahaman yang benar tentang Allah, melalui
sifat-sifatNya, af’al dan asma’ Allah, dapat mengantarkan
seseorang bertemu dan bersatu dengan-Nya. Oleh karena itu, seseorang yang
hendak bertemu dan bersatu dengan Allah tidak harus memikirkan dunia luar
dirinya tetapi cukup dengan menyelami dirinya sendiri. Ma’rifah adalah
penghayatan dan pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu, tasawuf memposisikan hati
sebagai organ sangat penting karena dengan hati manusia bisa menghayati segala
rahasia yang ada di dalam alam metafisik dan puncaknya adalah penghayatan ma’rifah
pada Dzat Allah.[13]
Ma’rifah adalah inti sari dan kebanggaan tasawuf karena dasar pemikiran
tasawuf tidaklah lain adalah wahdat al-Wujud, penghayatan kesatuan
manusia dengan Tuhan atau fana’. Manusia sempurna atau al-Insan al-Kamil
merupakan miniatur dan realitas ketuhanan dalam tajalli-Nya pada jagat raya.[14]
Ia merupakan cermin dari esensi Tuhan. Jiwanya adalah gambaran al-Nafs
al-Kulliyah. Kesempurnaannya disebabkan oleh karena pada dirinya Tuhan
bertajalli secara sempurna melalui hakikat atau Nur Muhammad.
Disadari bahwa, sejarah masuknya Islam ke
Indonesia tidak terlepas dari sejarah peranan tasawuf dan tarekat. Islamisasi
Indonesia terjadi pada saat tasawuf dan tarekat menjadi corak pemikiran didunia
Islam. Tasawuf pula yang menjadikan orang berpaling dari Islam, saat tarekat
mencapai puncak kejayaannya.[15]
Pada tahapan selanjutnya pemahaman tentang ajaran Islam bercorak sufistik
bergeser menjadi bentuk pemahaman baru yang lebih spesifik kedaerahan. Pengaruh
paham wahdat al-Wujud bahkan berhasil sampai pula ke Indonesia, melalui Aceh
dengan perantaraan India. Dari Aceh menyebar ke daerah-daerah lain seperti
Sumatera Barat, Jawa Barat dan jantung kerajaan Mataram. Bahkan penguasa
kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta justru sangat menyenangi dan
mempertahankannya sampai dengan sekarang.[16]
Kedatangan Islam ke Nusantara termasuk Jawa
Barat dan lebih khusus Cirebon, diakui para ahli sejarah, tidak dapat
dilepaskan dari peran ulama-ulama sufi sebagai penyebar ajaran Islam madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya
pemikiran tasawuf yang sangat diwarnai pemikiran Abu Hamid bin Muhammad
al-Thusiy al-Ghazali. Mereka lazim disebut sebagai Wali Songo, salah satunya
adalah Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sulthan Mahmud, alias Sunan Gunung
Djati. Dialah salah seorang anggota dewan Wali Songo, kemudian yang dinilai sangat
berjasa dalam mengislamkan masyarakat Cirebon, Banten, dan Jawa Barat.
Wali Songo termasuk juga Maulana Syaikh
Syarif Hidayatullah (putra dari Maulana Syaikh Nur al-Din Ibrahim bin Maulana
‘Izrail yang menikahi Nyi Mas Lara Santang putri Prabu Siliwangi dari
pernikahannya dengan Nyi Mas Subang Kranjang) yang lazim dikenal sebagai Sunan
Gunung Djati, memang tidak meninggalkan karya tulis dalam bidang tasawuf atau
tarekat dan keislaman pada umumnya. Jejak yang ditinggalkannya terlihat dalam
kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid (siswa, santri
tarekat) dalam bahasa Jawa disebut suluk seperti pada awal-awal kerajaan
Islam Demak. Di Pesantren Raden Fatah (1475 M). Pengajaran ilmu-ilmu keislaman
hanya berkisar kepada ajaran-ajaran tasawuf para sunan dengan rujukan utama Kitab
Suluk Sunan (hasil tulisan para wali) dan Kitab Tafsir al-Jalalayn.[17]
D. Periodesasi Ajaran Tasawuf Di Nusantara
1. Periode I Masa Pertumbuhan
Tumbuhnya tasawuf di Nusantara ini sejalan
dengan masuknya Islam ke sini, karena yang mula-mula membawa Islam ke Nusantara
adalah orang-orang yang telah mempelajari tasawuf di negerinya. Corak tasawuf
mereka hidup sekali dengan ajaran-ajaran Ibnu Arabi, Abdul Qadir al-Jilani, dan
lain-lain, seperti wujudiyah dan tarekat-tarekat. Pada periode ini muncul
ulama-ulama tasawuf diantaranya: Hamzah Al-Fanshuri, Syeikh Burhanuddin Ulakan
dan Nuruddin Ar-Raniry.
2. Periode II Masa Perkembangan
Sepeninggal ulama-ulama yang muncul pada
peridoe I seperti Hamzah Fanshuri, Syamsuddin As-Sumatrani, dan lain-lain. Maka
berkembanglah tasawuf di Indonesia terutama dalam bentuk tarekat-tarekat.
Sedangkan ajaran-ajaran mereka tentang wahdatul tujud mulai mengabur di bumi
Nusantara. Dalam periode ini muncullah ulama-ulama antara lain: Syeikh Abdus
Samad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan Syeikh Daud
al-Fathani.
3. Periode III Masa Pemurnian
Pada periode ini muncullah ulama-ulama yang
kritis dalam mempertahankan ajaran murni agama Islam. Mereka tidak segan-segan
menentang lawannya, membersihkan masyarakat, dari syirik, bid’ah, dan khurafat.
Di Sumatera Barat mereka disebut kaum muda atau wahabi Minangkabau, dibawah
asuhan mereka inilah bermunculan madrasah-madrasah modern di tanah air dan pada
periode ini muncullah ulama-ulama tasawuf diantaranya: Syeikh Ahmad Khatib Al
Minangkabawi, Syeikh Muhammad Djamil Djambeik, Syeikh Abdurrauf Al-Kurinsyi,
Syeikh Abdullah Ahmad, Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Hamka.
E. Tokoh Dan Kitab Tasawuf Nusantara
Kitab tasawuf paling awal yang muncul di
Nusantara ialah Bahr al-Lahut (Lautan Ketuhanan) karangan ‘Abdullah Arif (w.
1214). Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn ‘Arabi
dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj. Syeikh Abdullah Arif adalah
pemuka tasawuf dari Arab. Beliau tiba di Sumatera (Perulak, Pasai) pada tahun
1177. Menurut T. Arnold didalam The Preaching of Islam (1036), Syeikh Abdullah
Arif termasuk sufi paling awal yang menyebarkan Islam bercorak tasawuf di
Sumatera.
Namun, baru pada abad ke-16 muncul
kitab-kitab tasawuf dalam bahasa Melayu. Sedangkan, kitab-kitab yang ada
sebelumnya ditulis dalam bahasa Arab. Diantara kitab-kitab tasawuf dalam bahasa
Melayu yang berpengaruh ialah Syarab al-Asyiqin (Minuman Orang Berahi), Asrar
al-Arifin (Rahasia Ali Ma’rifat) dan al-Muntahi karangan Hamzah Fanshuri (wafat
awal abad ke-17) dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Maraknya pengajian tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat
masyarakat terhadap tasawuf memperlihatkan bahwa sejak awal tarikh Islam di
Nusantara, tasawuf berhasil memikat hati para masyarakat luas. Minat tersebut
boleh serius, boleh tidak serius, atau sekadar ingin tahu. Namun, yang jelas
pengaruh dan peranan tasawuf , yang menjamin keadaan dan relevansinya, ternyata
tidak pudar dari dulu sampai sekarang. Itu pun juga dengan sedikit mengabaikan
penyimpangan-penyimpangan, yang boleh saja terjadi, sebagaimana penyimpangan boleh
juga terjadi dalam amalan ilmu dan gerakan keagamaan non-tasawuf. Adanya
tasawuf di Nusantara tidak terlepas dari masuknya Islam di Nusantara, karena
penyebar tasawuf di Nusantara adalah para penyebar Islam yang pernah belajar
tasawuf di negaranya. Begitupun juga, masuknya Islam di Nusantara tidak bisa
lepas dari peranan tokoh para sufi yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.
Tasawuf di Nusantara yang di hegemoni oleh para wali yang biasa disebut dengan
Wali Songo, menggunakan konsep tasawuf nya al-Ghazali, jadi dapat di pahami,
bahwa tasawuf yang berkembang di Nusantara adalah tasawuf yang bercorak sunni.
[4]
Al-Ghazali, Abu Hamid, al-Munqidz
min al-Dhalal, Kairo, Silsilat al-Tsaqafah al-Islamiah, 1961, hal. 42 dan
46.
[7]
Abdullah bin Nuh, Sejarah
Islam di Jawa Barat hingga Masa Kerajaan Kesultanan Banten, Bogor, 1961,
hal. 11-12.
[8]
Aliefya M. Santrie, “Martabat
(Alam) Tujuh, Suatu Naskah Mistik Islam dari Desa Karang, Pamijahan”, dalam,
ahmad Rif’at Hasan, Warisan Intelektual Islam Indonesia (ed.),
(Bandung: Mizan, 1990), hal. 105.
[12]
Titus Burckhardt, Mengenal
Ajaran Kaum Sufi, terj., Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1981, hal. 69.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar