Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

Tasawuf Nusantara


TASAWUF NUSANTARA
(Karakteristik Tasawuf Nusantara)


Hasil gambar untuk logo uinsa

DosenPembimbing :
Dr.wasid M.Fil.i

Disusunoleh:
DinyFarodisa (E97216033)
                 Mawaddah     (E07216008)
                 M. Rizkillah   (E07216006)

PRODI ILMU TASAWUF
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017






KATA PENGANTAR
Alhamdulillah hi rabbi al-alamin. Segala puji kami haturkan kepada Allah SWT, dzat yang maha tinggi. Berkat rahmat, inayah, dan taufik-Nya, Makalah kami yang berjudul “KARAKTERISTIK TASAWUF NUSANTARA” dapat kami selesaikan dengan tanpa halangan apapun. Shalawat serta salam tetap kami ucapkan kepada junjungan kita nabi besar, Nabi  Muhammad S.A.W., beserta keluarganya, dan sahabat-sahabatnya, yang telah memberi syafa’at kepada kita dari zaman yang gelap gulita menuju zaman yang terang benderang, yaitu addinul islam. Semoga sunnah-sunnahnya dan suri tauladannya senantiasa tetap tercurahkan kepada kita, amin ya rabbal alamin.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar penyususnan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan, baik dari segi susunan, kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembacanya.




Surabaya,  07 Maret 2018






DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................................1
Daftar Isi ..............................................................................................................2
BAB I : Pendahuluan............................................................................................3
A.   Latar belakang ...........................................................................................3
B.   Rumusan Masalah .....................................................................................3
C.   Tujuan ........................................................................................................3
BAB II : Pembahasan ..........................................................................................4
A.   Masuknya Islam di Indonesia.....................................................................4
B.   Ghazalianisme di Nusantara.......................................................................5
C.   Tasawuf  Nusantara....................................................................................7
D.   Periodesasi Tasawuf Nusantara..................................................................9
E.    Tokoh dan Kitab Tasawuf Nusantara.......................................................10
BAB III : Penutup...............................................................................................11
A.   Kesimpulan...............................................................................................11
Daftar Pustaka.....................................................................................................12







BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Masuknya Islam ke pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari konteks masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Jawa sering disebut-sebut sebagai Wali Songo. Berdirinya kerajaan Islam di Jawa, dengan tokoh sentral para wali penyebar Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi Pasai yang menjadi daerah persinggahan para penyebar Islam dari Tanah Arab. Ketika Kerajaan Pasai sedang mengalami kemunduran dan Malaka mempertahankan panji-panji Islam di gugusan Pulau Melayu. Ketiga negara itu adalah, Aceh di Sumatera bagian Utara, Ternate di Maluku dan Demak di Jawa. Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam, menurut cerita rakyat Jawa karena peran dakwah Wali Songo yang sangat tekun dan memahami benar-benar kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, sehingga mereka mampu berbuat banyak dan menakjubkan.
2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana seluk beluk masuknya Islam di Indonesia ?
b.      Seperti apa ajaran tasawuf di Nusantara ?
c.       Bagaimana periodesasi ajaran tasawuf yang berkembang di Nusantara ?

3.      Tujuan
a.       Untuk mengetahui seluk beluk masuknya Islam di Indonesia.
b.      Untuk mengetahui corak ajaran tasawuf yang ada di Nusantara.
c.       Untuk mengetahui perjalan periodesasi ajaran tasawuf yang berkembang di Nusantara.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Masuknya Islam Di Indonesia
Islam datang pertama kali di Indonesia yaitu melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh audagar Arab. Jalan-jalan yang dilalui para saudagar itu adalah melewati jalan laut dari Aden menyusuri pesisir pantai India Barat dan Selatan, sedangkan dari jalur darat melalui Khurasan , kemudian melalui Khutan padang pasir Gobi, lalu menyebrang Sungtu, Nasyu, Katon, dan kemudian menyebrangi laut Cina Selatan sehingga memasuki gugusan pulau-pulau Melayu melalui pesisir timur Semenanjung Melayu. Dengan demikian Islam datang ke gugusan pulau-pulau Melayu melalui lautan India dan juga laut Cina secara langsung dari Negeri Arab[1].
Penyebaran Islam di Melayu termasuk Nusantara, yang diakui oleh sebagian besar ahli sufistik. Mereka juga berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk, Faktor utama keberhasilannya adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif khususnya dengan menekankan perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal. Kemudian masuknya Islam ke Pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari konteks masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam penyebaran Islam yaitu tanpa menggunakan kekerasan.
Tokoh-tokoh yang di anggap berperan dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa sering disebut dengan “Walisongo”. Berdirinya kerajaan Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi pasai yang menjadi daerah persing/gahan para menyebar Islam tidak dapat dilepaskan dengan kondisi pasai yang menjadi yang menjadi daerah persinggahan para penyebar Islam dari Tanah Arab. Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam, menurut cerita rakyat orang Jawa karena adanya peran dari Walisongo yang sangat tekun dan juga sangat memahami benar-benar kondisi sosial kultural masyarakat Jawa, sengingga mereka menggunakan pendekatan kultural dan edukasional, sehingga sampai saat ini dapat disaksikan bekas-bekasnya seperti halnya, penunjukan wayang kulit dan wayang purwa, dan menjadi pusat pendidikan pondok pesantren,  menjadi arsitektur masjid dan filosofinya.

Para Walisongo yang berdakwa tentang keagamaan yaitu menggunakan pola yang akomodatif, sehingga Islamisasi di tanah Jawa mengesanka banyak orang. Dan para Walisongo tersebut diidentifikasi dengan tokoh-tokoh kharismatik yang lazim dikenal sebagai penganut ajaran-ajaran ulama sufi. Berperannya para sufi di dalam penyebaran Islam tampak sekali dalam peran menyatukan umat Islam, dan mulai muncul thariqa-thariqat sufi yang disebarkan sampai ke tanah Jawa, selat Sunda, pulau Madura beberapa daerah lainnya.
Ajaran Tasawuf  berkembang pertama kalinya di Aceh yakni pada abad ke-17 M. Pemahaman tersebut lalu dibawa para pedagang Melayu hingga sampai ke Demak dan Banten. Paham Syaikh Siti Jenar juga diperkenalkan pada sebagian masyarakat yang mempelajari agama, mengingat sebagian besar penduduk daerah ini menganut madzhab Syafi’iyyah dalam bidang fiqh. Sedangkan ajaran tasawuf yang diajarkan dan berkembang sampai dengan sekarang adalah ajaran al-Ghazali.[2]
Berdasarkan Babad Cirebon, Purwaka Caruban Nagari, ketika Kerajaan Pasai mengalami kemunduran, adalah seorang warga Pasai bernama Fadhilah Khan (wong agung saking Pase) datang ke Pulau Jawa terutama Demak berdiri, Islam tersebar demikian cepat ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Keharuman nama Demak sebagai basis penyebaran Islam di Pulau Jawa sesungguhnya tidak lepas dari peran Wali Songo. Meskipun tidak membawa bendera tertentu, kecuali Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, metode dakwah yang digunakan para wali itu adalah penerapan metode yang dikembangkan para ulama sufi sunni dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik sebelum berkata-kata.[3] Al-Ghazali menyatakan bahwa, hakikat tasawuf adalah ilmu dan amal yang membuahkan akhlak terpuji, jiwa yang suci dan bukan ungkapan-ungkapan teoritis belaka.[4]
B. Ghazalianisme Di Nusantara
Sikap keteladanan merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki para wali yang berjiwa sufi dalam menyebarkan Islam. Disamping mereka memiliki pengetahuan, pengalaman luas, dan penguasaan terhadap budaya masyarakat yang menjadi tempat tujuan dakwah mereka. Sejarah babad jawa membuktikan dan menjelaskan pergulatan antara spiritualitas Islam dengan spiritualitas Hindu-Budha, dengan adanya keunggulan agama baru yang dibawa oleh para wali sufi. Kenyataan ini membuktikan para penyebar Islam dengan semangat spiritualismenya berjalan pada jalur generasi muslim abad pertama.[5]
Para wali itu memang tidak meninggalkan karya tulis seperti para tokoh sufi lainnya. Jejak yang ditinggalkannya terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid dalam bahasa jawa. Tulisan itu berisi catatan pengalaman orang-orang saleh yang menegaskan bahwa latihan-latihan spiritual (riyadhah) sangat diperlukan dalam rangkaian pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu kedekatan yang mengantarkan seseorang pada alam ruhani ketika jiwa merindukan Allah hingga memperoleh titisan cahaya Ilahi.
Dari pemikiran dan praktek-praktek tasawuf tersebut, diperoleh kejelasan bahwa corak tasawuf yang dianut oleh para wali itu adalah tasawuf sunni, misalnya al-Ghazali. Para wali sering menjadikan karya-karya al-Ghazali sebagai referensi mereka. Bukti nyata mengenai hal ini terdapat dalam manuskrip yang ditemukan Drewes yang diperkirakan ditulis pada masa transisi Hinduisme pada Islam, pada masa Wali Songo masih hidup. Dalam manuskrip yang menguraikan tasawuf itu terdapat beberapa paragraf yang dinukil dari kitab Bidayat al-Hidayah karya al-Ghazali. Ini menunjukkan bahwa tasawuf sunni berpengaruh pada saat itu.
Lebih dari itu, informasi-informasi tertulis mengenai ajaran-ajaran Wali Songo sangat bertentangan dengan pemikiran panthaeisme. Demikian pula generasi berikutnya yang meriwayatkan diri dari tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi seperti Futuhat al-Makkiyah.[6] Wali Songo tetap berada dalam jalur nenek moyang mereka yang loyal kepada madzhab Syafi’i dalam aspek syari’at, dan al-Ghazali dalam aspek tarekat. Tak heran jika mereka menjadikan Ihya’ ‘Ulum al-Din sebagai sumber inspirasi dalam melakukan dakwahnya, disamping kitab-kitab andalah Ahlussunnah lainnya, seperti Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki, dan al-Hidayah serta Manhaj al-‘Abidin karya al-Ghazali. Para wali juga berhasil memberikan kontribusi dalam bentuk pesantren dan madrasah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Sebagian besar menerapkan tasawuf Sunni dengan mengajarkan Ihya’ ‘Ulum al-Din sebagai salah satu materi dasarnya.[7]
Selain Wali Songo ternyata masih banyak tokoh sufi di tanah jawa yang tidak kalah penting. Ulama-ulama itu merupakan generasi pelanjut perjuangan para wali. Salah satunya di Jawa Barat tercatat namanya Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), seorang ulama penyebar Islam dikawasan selatan Jawa Barat, yang lebih dikenal umum sebagai wali.[8] Dia adalah murid dari Syeikh Abdurrauf Sinkli (sufi Aceh).[9] Dia aktif menyebarkan tarekat Syattariyah di tanah Jawa dan semenanjung Melayu.[10] Namun demikian, ia tetap menolak faham Wujudiyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba.[11]
C. Tasawuf Nusantara
Ajaran Islam sebagai suatu keseluruhan terkandung dalam tawhid yaitu pengakuan tentang ke-Esaan Allah. Di kalangan awal muslim, penegasan ini merupakan proses yang jelas namun sederhana. Sedangkan bagi para pemikir, tawhid adalah pintu yang terbuka untuk memahami dan masuk ke dalam realitas essensial. Semakin jauh pikiran para pemikir dan perenung menembus kesederhanaan rasional yang nampak dari ke-Esaan Allah, semakin menjadi kompleks kesederhanaan tersebut, maka ia akan mencapai puncak dimana aspek-aspek yang berbeda tidak dapat lagi ditunjukkan dengan pikiran yang terpenggal-penggal. Meditasi atas perbedaan-perbedaan ini, dalam kenyataannya akan menggunakan indra pemikiran, sampai pada batas-batas yang paling jauh. Kondisi ini, sebagaimana dikemukakan oleh Titus Burckhardt,[12] merupakan intuisi tanpa bentuk yang dapat masuk ke dalam ke-Esaan Allah.
Pemahaman yang benar tentang Allah, melalui sifat-sifatNya, af’al dan asma’ Allah, dapat mengantarkan seseorang bertemu dan bersatu dengan-Nya. Oleh karena itu, seseorang yang hendak bertemu dan bersatu dengan Allah tidak harus memikirkan dunia luar dirinya tetapi cukup dengan menyelami dirinya sendiri. Ma’rifah adalah penghayatan dan pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu, tasawuf memposisikan hati sebagai organ sangat penting karena dengan hati manusia bisa menghayati segala rahasia yang ada di dalam alam metafisik dan puncaknya adalah penghayatan ma’rifah pada Dzat Allah.[13] Ma’rifah adalah inti sari dan kebanggaan tasawuf karena dasar pemikiran tasawuf tidaklah lain adalah wahdat al-Wujud, penghayatan kesatuan manusia dengan Tuhan atau fana’. Manusia sempurna atau al-Insan al-Kamil merupakan miniatur dan realitas ketuhanan dalam tajalli-Nya pada jagat raya.[14] Ia merupakan cermin dari esensi Tuhan. Jiwanya adalah gambaran al-Nafs al-Kulliyah. Kesempurnaannya disebabkan oleh karena pada dirinya Tuhan bertajalli secara sempurna melalui hakikat atau Nur Muhammad.
Disadari bahwa, sejarah masuknya Islam ke Indonesia tidak terlepas dari sejarah peranan tasawuf dan tarekat. Islamisasi Indonesia terjadi pada saat tasawuf dan tarekat menjadi corak pemikiran didunia Islam. Tasawuf pula yang menjadikan orang berpaling dari Islam, saat tarekat mencapai puncak kejayaannya.[15] Pada tahapan selanjutnya pemahaman tentang ajaran Islam bercorak sufistik bergeser menjadi bentuk pemahaman baru yang lebih spesifik kedaerahan. Pengaruh paham wahdat al-Wujud bahkan berhasil sampai pula ke Indonesia, melalui Aceh dengan perantaraan India. Dari Aceh menyebar ke daerah-daerah lain seperti Sumatera Barat, Jawa Barat dan jantung kerajaan Mataram. Bahkan penguasa kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta justru sangat menyenangi dan mempertahankannya sampai dengan sekarang.[16]
Kedatangan Islam ke Nusantara termasuk Jawa Barat dan lebih khusus Cirebon, diakui para ahli sejarah, tidak dapat dilepaskan dari peran ulama-ulama sufi sebagai penyebar ajaran Islam  madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya pemikiran tasawuf yang sangat diwarnai pemikiran Abu Hamid bin Muhammad al-Thusiy al-Ghazali. Mereka lazim disebut sebagai Wali Songo, salah satunya adalah Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sulthan Mahmud, alias Sunan Gunung Djati. Dialah salah seorang anggota dewan Wali Songo, kemudian yang dinilai sangat berjasa dalam mengislamkan masyarakat Cirebon, Banten, dan Jawa Barat.
Wali Songo termasuk juga Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah (putra dari Maulana Syaikh Nur al-Din Ibrahim bin Maulana ‘Izrail yang menikahi Nyi Mas Lara Santang putri Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyi Mas Subang Kranjang) yang lazim dikenal sebagai Sunan Gunung Djati, memang tidak meninggalkan karya tulis dalam bidang tasawuf atau tarekat dan keislaman pada umumnya. Jejak yang ditinggalkannya terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid (siswa, santri tarekat) dalam bahasa Jawa disebut suluk seperti pada awal-awal kerajaan Islam Demak. Di Pesantren Raden Fatah (1475 M). Pengajaran ilmu-ilmu keislaman hanya berkisar kepada ajaran-ajaran tasawuf para sunan dengan rujukan utama Kitab Suluk Sunan (hasil tulisan para wali) dan Kitab Tafsir al-Jalalayn.[17]
D. Periodesasi Ajaran Tasawuf Di Nusantara
1. Periode I Masa Pertumbuhan
Tumbuhnya tasawuf di Nusantara ini sejalan dengan masuknya Islam ke sini, karena yang mula-mula membawa Islam ke Nusantara adalah orang-orang yang telah mempelajari tasawuf di negerinya. Corak tasawuf mereka hidup sekali dengan ajaran-ajaran Ibnu Arabi, Abdul Qadir al-Jilani, dan lain-lain, seperti wujudiyah dan tarekat-tarekat. Pada periode ini muncul ulama-ulama tasawuf diantaranya: Hamzah Al-Fanshuri, Syeikh Burhanuddin Ulakan dan Nuruddin Ar-Raniry.
2. Periode II Masa Perkembangan
Sepeninggal ulama-ulama yang muncul pada peridoe I seperti Hamzah Fanshuri, Syamsuddin As-Sumatrani, dan lain-lain. Maka berkembanglah tasawuf di Indonesia terutama dalam bentuk tarekat-tarekat. Sedangkan ajaran-ajaran mereka tentang wahdatul tujud mulai mengabur di bumi Nusantara. Dalam periode ini muncullah ulama-ulama antara lain: Syeikh Abdus Samad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan Syeikh Daud al-Fathani.
3. Periode III Masa Pemurnian
Pada periode ini muncullah ulama-ulama yang kritis dalam mempertahankan ajaran murni agama Islam. Mereka tidak segan-segan menentang lawannya, membersihkan masyarakat, dari syirik, bid’ah, dan khurafat. Di Sumatera Barat mereka disebut kaum muda atau wahabi Minangkabau, dibawah asuhan mereka inilah bermunculan madrasah-madrasah modern di tanah air dan pada periode ini muncullah ulama-ulama tasawuf diantaranya: Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syeikh Muhammad Djamil Djambeik, Syeikh Abdurrauf Al-Kurinsyi, Syeikh Abdullah Ahmad, Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Hamka.

E. Tokoh Dan Kitab Tasawuf Nusantara
Kitab tasawuf paling awal yang muncul di Nusantara ialah Bahr al-Lahut (Lautan Ketuhanan) karangan ‘Abdullah Arif (w. 1214). Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn ‘Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj. Syeikh Abdullah Arif adalah pemuka tasawuf dari Arab. Beliau tiba di Sumatera (Perulak, Pasai) pada tahun 1177. Menurut T. Arnold didalam The Preaching of Islam (1036), Syeikh Abdullah Arif termasuk sufi paling awal yang menyebarkan Islam bercorak tasawuf di Sumatera.
Namun, baru pada abad ke-16 muncul kitab-kitab tasawuf dalam bahasa Melayu. Sedangkan, kitab-kitab yang ada sebelumnya ditulis dalam bahasa Arab. Diantara kitab-kitab tasawuf dalam bahasa Melayu yang berpengaruh ialah Syarab al-Asyiqin (Minuman Orang Berahi), Asrar al-Arifin (Rahasia Ali Ma’rifat) dan al-Muntahi karangan Hamzah Fanshuri (wafat awal abad ke-17) dan sebagainya.













BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Maraknya pengajian tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap tasawuf memperlihatkan bahwa sejak awal tarikh Islam di Nusantara, tasawuf berhasil memikat hati para masyarakat luas. Minat tersebut boleh serius, boleh tidak serius, atau sekadar ingin tahu. Namun, yang jelas pengaruh dan peranan tasawuf , yang menjamin keadaan dan relevansinya, ternyata tidak pudar dari dulu sampai sekarang. Itu pun juga dengan sedikit mengabaikan penyimpangan-penyimpangan, yang boleh saja terjadi, sebagaimana penyimpangan boleh juga terjadi dalam amalan ilmu dan gerakan keagamaan non-tasawuf. Adanya tasawuf di Nusantara tidak terlepas dari masuknya Islam di Nusantara, karena penyebar tasawuf di Nusantara adalah para penyebar Islam yang pernah belajar tasawuf di negaranya. Begitupun juga, masuknya Islam di Nusantara tidak bisa lepas dari peranan tokoh para sufi yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara. Tasawuf di Nusantara yang di hegemoni oleh para wali yang biasa disebut dengan Wali Songo, menggunakan konsep tasawuf nya al-Ghazali, jadi dapat di pahami, bahwa tasawuf yang berkembang di Nusantara adalah tasawuf yang bercorak sunni.












[1] Suteja,Tasawuf Di Nusantara,(Cirebon:CV. AKSARASATU,2016)hlm 10
[2] M.Sholihin, Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia, Bandung, Pustaka Setia, 2001, hal. 69.
[3] Alwi Shihab, Islam Sufistik, Bandung, Mizan, 2001, hal. 38.
[4] Al-Ghazali, Abu Hamid, al-Munqidz min al-Dhalal, Kairo, Silsilat al-Tsaqafah al-Islamiah, 1961, hal. 42 dan 46.
[5] Al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal, hal. 38.
[6] Ibid, hal. 45.
[7] Abdullah bin Nuh, Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Masa Kerajaan Kesultanan Banten, Bogor, 1961, hal. 11-12.
[8] Aliefya M. Santrie, “Martabat (Alam) Tujuh, Suatu Naskah Mistik Islam dari Desa Karang, Pamijahan”, dalam, ahmad Rif’at Hasan, Warisan Intelektual Islam Indonesia (ed.), (Bandung: Mizan, 1990), hal. 105.
[9] Abd. Aziz Dahlan, (Ed.), Ensiklopedi Islam, J.I, Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999, hal. 5.
[10] Ensiklopedi Islam, J.I, hal. 6.
[11] Azra, Jaringan Ulama Nusantara, hal. 210.
[12] Titus Burckhardt, Mengenal Ajaran Kaum Sufi, terj., Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1981, hal. 69.
[13] Al-Ghazali, Ihya’, Op. Cit., juz III, hal. 2.
[14] Ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, J.I, Beirut, Dar al-Fikr, t.th., h. 118.
[15] Nasution, Filsafat dan Mistisisme, Jakarta, UI Press, 1973, hal. 56.
[16] Simuh, Op. Cit., hal. 187.
[17]Mahmud Yunus, Sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Bhatara, 1982, hal. 257.



Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...