Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

TASAWUF DAN BUDAYA LOKAL ALIRAN KEBATINAN PAGUYUBAN SUMARAH oleh m.rizkillah



MAKALAH TASAWUF DAN BUDAYA LOKAL
ALIRAN KEBATINAN PAGUYUBAN SUMARAH

Hasil gambar untuk logo uinsa



Dosen Pengampu :
Drs. H. Muuhammad Achyar, M.Si
Disusun oleh :
M. Rizkillah                      (E07216006)

PRODI TASAWUF dan PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDIN dan FILSAFAT
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2018

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirohim

            Segala puji bagi Allah SWT, pengatur dan pemelihara seluruh alam. Shalawat dan salam kepada Nabi dan Rasulnya Muhammad SAW , juga keluarganya, sahabatnya serta seluruh umatnya yang mengikuti sunnahnya.
            Makalah ini berisi tentang “Aliran Kebatinan Paguyuban Sumarah” yang terkait dengan kondisi Budaya ini. Tujuan membuat makalah ini agar seluruh mahasiswa dan mahasiswi dapat meninjau dan mengetahui tentang Budaya Lokal dengan melalui beberapa cara seperti, berdiskusi dan sebagainya. Karena itu sangat diharapkan bagi Mahsiswa(i) jurusan Ilmu Tasawuf untuk memahami semua yang berkaitan dengan kehidupan ini.
            Terima kasih tak lupa dihaturkan untuk kerja sama dan kekompakan teman kelompok sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Dan tak lupa pula kami haturkan terima kasih atas bantuan selama makalah ini dikerjakan.
            Kami meyakini bahwa makalah ini , tidak terlepas dari kekurangan yang tentunya masih dinanti kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.

Wassalamu’alaikum wr.wb






Surabaya, 02 Mei 2018



Penyusun Makalah



DAFTAR ISI

Halaman judul.....................................................................................................................   i
Kata Pengantar....................................................................................................................   ii
Daftar Isi.............................................................................................................................   iii
BAB I : PENDAHULUAN
      A.   Latar Belakang.............................................................................................................   1
      B.   Tujuan...........................................................................................................................   2
      C.   Rumusan Masalah ........................................................................................................   2
BAB II : PEMBAHASAN
      A. Sejarah Paguyuban Sumarah .........................................................................................   3
      B. Ajaran paguyuban Sumarah............................................................................................   4
BAB III: PENUTUP
      Kesimpulan .........................................................................................................................   9 Daftar Pustaka.............................................................................................................................................   10






BAB I
Pendahuluan

Sumarah yang berarti pasrah atau keadaan menyerah secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan deskripsi utama dalam praktek spiritual di Paguyuban  Sumarah[1].  Sumarah  merupakan  praktek  kebatinan  yang mengutamakan kesadaran proses alamiah yang tidak bisa dipaksakan dengan kehendak dan tidak mungkin dikembangkan berdasarkan pedoman. Oleh karena itu, sujud menjadi ciri utama dalam praktek peribadatan Sumarah dan seringkali disebut sebagai Sujud Sumarah yang berarti sujud dengan kondisi pasrah secara total[2].
Paguyuban Sumarah yang termasuk dalam kelompok aliran kepercayaan di Indonesia memiliki pengikut yang tersebar luas diberbagai daerah di Indonesia khususnya di Jawa. Pada saat ini, Sumarah menjadi organisasi kebatinan dengan sekitar 6 ribu anggota yang berpusat di Jakarta sebagai pemegang kepengurusan tertinggi.  Sedangkan  untuk  wilayah  pusat  daerah  diwakili  Dewan  Pimpinan Daerah  (DPD)  yang tersebar di  beberapa  daerah  seperti  di  Yogyakarta,  Jawa Barat, Jawa Tengah dan termasuk juga Jawa Timur.
Di Jawa Timur, terdapat beberapa daerah yang menjadi tempat tinggal anggota sumarah sepertihalnya di Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Tulungagung, Nganjuk, Kediri, Lumajang, Blitar, Batu Malang, Gresik, Bojonegoro, Sidoarjo dan Surabaya3. Daerah-daerah tersebut bukanlah tempat dimana terdapat satu padepokan yang menjadi pusat berkumpulnya orang-orang Sumarah melainkan hanya letak keberadaan para anggota pengikut Sumarah. Paguyuban Sumarah tidak mempunyai tempat khusus dimana praktek peribadatan diadakan namun agenda peribadatan biasanya dilakukan dilokasi yang menjadi kesepakatan bersama.




Rumusan Masalah
1.      Apa yang dinamakan dengan Paguyupan Sumara?
2.      Ajaran apa yang diterapan?
Tujuan
1.      Agar mengetahui secara detail aliran paguyuban sumara
2.      Untuk mengetahui ajaran-ajarannya.


BAB II
Pembahasan

Keberadaan Paguyuban Sumarah di sebelah timur pulau Jawa tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan asal mula dari Paguyuban Sumarah itu sendiri. Jika melihat   dari   sejarah   awal   Paguyuban   Sumarah   bermula   dari   R.   Ng. Sukinohartono atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Kino, seorang tokoh sekaligus pendiri Paguyuban Sumarah yang mendapatkan wahyu pertamanya dari Tuhan Yang Maha Esa pada bulan September 1935. Wahyu tersebut merupakan bisikan gaib yang diterimanya bukan atas dasar keinginan untuk mendapatkan ilmu gaib, melainkan terungkap dalam kondisi keprihatinan jiwa-raga sewaktu memohonkan  kemerdekaan  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa  bagi  bangsa Indonesia yang mengalami penjajahan lahir dan batin yang sudah beberapa abad lamanya[3].
Atas penurunan wahyu tersebut dan dengan kesadaran manusianya, Pak Kino merasa tidak mampu dan tidak berwenang untuk menuntun kesucian kepada sesama umat, dan akhirnya atas kehendak Tuhan yang tiada terbantah lagi, Pak Kino menyanggupi dan meneruskan tuntunan Sujud Sumarah. Namun, Pak Kino di sini hanya menjadi warana saja (penampung tuntunan), sedangkan tuntunan mengenai ilmu kesucian tetap disandarkan langsung dari Tuhan sendiri.
Awal mula berdirinya aliran kepercayaan Paguyuban Sumarah  dipelopori seorang tokoh yakni R. Sokinohartono, ia lahir tahun 1897. Sejak muda ia sudah tertarik pada ilmu-ilmu mistisme, seperti tapa, tirakat, dan meditasi. Selain itu ia juga memiliki ilmu warisan kanuragan dari orang tuanya. Akan tetapi ilmu kesaktian seperti itu menurutnya tidak dapat membawa kepada keselamatan. Dengan kata lain, bahwa pada waktu itu mayoritas orang bertapa dan bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan maksud dan tujuan tertentu, bukan murni karena keimanan, kepasrahan seorang hamba kepada Tuhan dan sujud yang murni dengan tanpa ada maksud dan tujuan apapun, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkannya dan mencari guru yang ilmunya dipandang dapat membawa keselamatan lahir batin.
Menurut Imam Suwarno, lahirnya Sumarah berawal dari keprihatinan Sokinohartono  melihat  kondisi  bangasanya  yang  kala  itu  dalam  penjajahan belanda, sehingga ia berdoa, bersujud dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam sujudnya pak Kino bertemu dengan para Nabi dan dalam doanya beliau memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Indonesia terbebas dari penjajahan, dan petunjuk yang waktu itu di dapat adalah bapak Ir. Soekarno dan ternyata memang benar pak Karno lah yang menjadi bapak revolusioner yang berhasil membebaskan Indonesia dari para penjajah. Di suatu malam pak Kino berdoa dan doanya pun dikabulkan dengan cara diwahyukannya tuntunan sumarah melalui hakiki kepada Sukinohartono pada tanggal 8 september 1935 dirumahnya Wirobrajan VII/158 Yogyakarta. Hakiki adalah sumber otoritas spiritual kepada individu tertentu yang artinya sama dengan guru sejati.
1.      Tujuan, Visi dan Misi Aliran
Tujuan, Visi dan Misi Paguyuban Sumarah Provinsi Jawa Timur ini mengikuti Tujuan, Visi dan Misi yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Paguyuban   Sumarah.   Sebagaimana   organisasi   pada   umumnya,   Paguyuban Sumarah  pun  juga  memiliki  tujuan,  visi  dan  misi.  Secara umum,  tujuan  dari didirikannya Paguyuban Sumarah adalah mewadahi atau memberi wadah kepada umat manusia untuk bersatu dan bersama-sama mencapai kesempurnaan hidup didunia  dan  di  akhirat.  Sejalan  dengan  itu,  Rahnip  juga  menyebutkan  bahwa tujuan  dari  ajaran  Paguyuban  Sumarah  adalah  untuk  mencapai  kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat[4]. Sedangkan   Visi   dan   misi   dari   paguyuban sumarah  dapat  dirumuskan  sebagai berikut[5]:
1).        Tuntunan Sumarah diturunkan melalui R. Ng. Sukinohartono (Pak Kino) di bulan September tahun 1935, yang menjadi jawaban Tuhan Yang Maha Esa atas permohonan Pak Kino yang saat itu memohon kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap warga Paguyuban Sumarah harus selalu peduli dan ikut merasa bertanggung jawab tentang nasib bangsa Indonesia sampai kapanpun.
2).        Tuntunan Sumarah diturunkan adalah sebagai sarana untuk membangun iman bulat 100% kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi umat manusia (khususnya bangsa Indonesia terlebih dahulu), sehingga bisa diharapkan mahanani tata tentrem ing jagad raya (mengakibatkan/menghasilkan ketentraman dunia raya = memayu hayuning bawana).
2.      Ajaran- Ajaran  Paguyuban Sumarah
Ajaran Ketuhanan
Dalam Paguyuban Sumarah memiliki kepercayaan bahwa, Tuhan itu adalah Maha Esa, murba wasesa (kuasa) di dunia dna akhirat. Setiap anggota Paguyuban Sumarah mempercayai adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Untuk memantapkan kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, maka perlu diadakan penghayatan langsung dengan melatih diri untuk menenangkan dan menguasai hawa nafsunya sendiri, seperti angkara murka, iri hati, dan sebagainya. Agar antara jiwa dan  raganya dapat menyatu  dalam  melakukan  Sujud Sumarah kepada Tuhan Yang Maha Esa[6].
Menurut ajaran Paguyuban Sumarah, Tuhan adalah Dzat Yang Maha Esa, dekat dengan manusia dan bahkan bertempat dalam hidup manusia, serta duduk dalam diri (melindungi) manusia  yang selalu  Sujud Sumarah.  Jiwa manusia merupakan percikan dari Tuhan, oleh karenanya Tuhan itu Maha Suci.  Jadi  seseorang  dalam  melaksanakan  Sujud  Sumarah  hatinya  atau jiwanya harus benar-benar suci agar dapat manunggal dengan Tuhan dan bersekutu dengan-Nya (Jumbuhing Kawula Gusti)[7].
Tuhan adalah asal mula manusia di ciptakan, karena yang menciptakan alam  semesta  dan  seisinya  yakni  Tuhan  Yang  Maha  Esa.  Tuhan  menjadi kiblat,  sebagai  sumber  dari  segala  eksistensi  dan  identitas  manusia,  tidak hanya itu saja, Tuhan juga Maha satu dalam kekuasaan-Nya.
Paguyuban Sumarah tidak membicarakan banyak tentang ketuhanan. Hal ini agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam masalah ketuhanan, karena anggota Paguyuban Sumarah banyak yang terdiri dari beberapa agama yang berbeda yang masih aktif menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Hal tersebut dilakukan agar mereka yang berbeda agama dapat bersatu padu dalam satu tujuan sesuai dengan bunyi sesanggeman, yang terpenting Paguyuban Sumarah tetap mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa.[8]
Menurut  ajaran  Paguyuban  Sumarah,  manusia  berasal  dari  Tuhan. Raga atau jasad manusia berasal dari unsur api, yang berasal dari unsur api, udara, air dan bumi sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Disamping unsur- unsur jasad tersebut, dalam diri manusia juga terdapat empat nafsu:
a.   Nafsu  amarah;  nafsu  ini  adalah  nafsu  yang  berwujud  cahaya  merah, sebagai sumber dari kemarahan.
b.   Nafsu  aluamah;  nafsu  ini  adalah  nafsu  yang  berwujud  cahaya  hitam, merupakan sumber dari kesomobongan dan ego.
c.   Nafsu  Muthmainnah;  nafsu  ini  adalah  yang  berwujud  cahaya  kuning, merupakan sumber dan kebaikan.
d.   Nafsu  Supiah;  nafsu  ini  adalah  nafsu  yang  berwujud  cahaya  putih, merupakan sumber dari kesucian.
Jika seseorang itu mengerti bahwa semua manusia asal usulnya sama, baik  jiwa  dan  raganya,  maka  ia  akan  mengerti  pula  bahwa  manusia  itu mempunyai derajat yang sama, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Manusia satu tidak akan merasa lebih tinggi, lebih baik dan lebih segala-galanya dari yang lain.
Dalam ajaran Paguyuban Sumarah, manusia secara keseluruhan terdiri dari tiga unsur, yaitu badan wadag, badan nafsu dan jiwa atau roh.
1.   Badan Wadag; atau jasmani berasal dari substansi yang berasal dari anasir bumi, angin, air, dan api. Apabila manusia itu mati, maka badan wadag akan kembali kepada anasir asalnya. Badan wadag dilengkapi Tuhan dengan alat-alat yaitu panca indera, yang kesemua alat itu dikuasai oleh akal pikiran, yang mana pikiran itu selalu berkaitan dengan masalah- masalah duniawi terutama untuk keperluan hidup. Pikiran mempunyai hubungan  yang erat sekali dengan angan-angan, antara keduanya tidak dapat dipisahkan, apa yang diperoleh pikiran akan diteruskan oleh angan- angan. Angan-angan inilah yang menjadi alat untuk berSujud Sumarah kepada Tuhan.
2.   Badan Nafsu; berasal dari Tuhan dengan perantaraan iblis dan nanti akan dikembalikan kepada asalnya. Nafsu terdiri dari empat macam yaitu amarah,  aluamah,  muthmainnah,  dan  supiah,  pusat  dari  semua  macam nafsu itu disebut dengan sukma.
3.  Jiwa atau roh; yang berasal dari roh suci atau Tuhan dan nanti akan dikembalikan ke asalnya yaitu Tuhan. Apabila manusia itu mati dengan sempurna, maka rohnya akan kembali menyatu dengan Tuhan, akan tetapi apabila tidak sempurna maka roh manusia itu akan dilahirkan kembali ke dunia (reinkarnasi).
Oleh karena itu, agar manusia tidak terkena hukum karma dan roh bisa kembali   ke   asalnya   manunggal   dengan   Allah   dan   tidak   mengalami reinkarnasi; maka ia harus dapat mengalahkan hawa nafsunya dengan cara selalu ingat dan Sujud Sumarah kepada Allah.
Diantara sekian banyak manusia yang tidak terkena hukum karma berupa kelahiran kembali adalah Adam dan Hawa sebagai manusia pertama. Adam dan Hawa harus dipandang sebagai sebenar-benar manusia yang adanya di  dunia  bukan  dilahirkan  kembali,  melainkan  berasal  dari  roh  suci  yang berasal  dari  Dzat  Yang  Maha  Esa,  keduanya  berasal  dari  alam  suci  atau firdaus. Godaan Iblis terhadap Adam harus diartikan godaan nafsu terhadap roh suci, ketika godaan nafsu berhasil masuk ke dalam roh suci, maka ia harus meninggalkan alam suci berganti masuk ke dalam alam kesengsaraan.[9]
3.   Ajaran Budi Luhur
Paguyuban Sumarah disamping mengajarkan kepada anggotanya untuk tetap iman kepada Allah serta berSujud Sumarah kepada-Nya, juga mengajarkan tentang budi luhur, yakni untuk membentuk jiwa agar memiliki sifat-sifat yang luhur dengan cara melatih segala perbuatan, perkataan dan hati
secara moralis agar dapat mendekati dengan sifat-sifat Tuhan Yang Maha suci. Ajaran Budi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bersikap sederhana dan menarik hati
2.      Tepo sliro dan tenggang rasa terhadap sesama manusia, sesama golongan, aliran dan agama.
3.      Berusaha mewujudkan kesehatan, ketentraman dan kesucian rohani.
4.      Memiliki tabiat luhur, tutur kata dan prilaku yang baik.
5.      Mempererat   persaudaraan   berdasarkan   cinta   kasih   dan   suka   memaafkan kesalahan orang lain.
6.      Tidak membeda-bedakan anatara sesama manusia.
7.      Berusaha untuk dapat melaksanakan kewajiban sebagai warga negara.
8.      Berprilaku benar dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan umum.
9.      Sabar dan teliti dalam menerima sesuatu, tidak gegabah da tergesa-gesa, serta rajin dalam menuntut ilmu.
10.  Tidak berbuat jahat, jahil, fitnah, maksiat dan segala tingkah laku yang tercela[10].
BAB I
Penutup

Kesimpulan
            Dunia ini hanyalah sebagaian ujian bagi orang sumarah. Tuhan yang maha pementu dari lulu atau tidak lulusnya manusia didunia ini. Yang berhasil lulus berarti kembali keasalnya yang abadi, sedang yang tidak lulus harus mengulangi hidup ini sekali lagi (reinkarnasi), orang sumarah percaya kepada hukum karma. Dus, keluarga sumarah harus senantisa menyebar sebaanyak- banyaknya biji kebaikan sewaktu masih hidup didunia, agar keturunanya kelak dapat memetik buah kebajikan yang telah ditanamnya.
Maka dari itu didalam pergaulan orang sumarah hendaknya menampakan ramah tamah dan supel dalam indak tanduknya. Orang sumarah harus tunduk kepada semua perturan pemerintah, sedapat mungkin berjuang demi kesejahteraan nusa dan bangsa. Maka dari itu sebab akibat dari segala hal akan dikembalikan pada diri manusia itu sendiri.


Daftar Pustaka

Paul Stange, Kejawen Modern: Hakikat dalam penghayatan Sumarah, (Yogyakarta: PT LKIS, 2009)
Rahnip,  Aliran  Kepercayaan  dan  Kebatinan  Dalam  Sorotan,  (Surabaya:  Pustaka Progresif, 1987)
Petir Abimanyu,  Buku Pintar Aliran Kebatinan dan Ajarannya, (Jogjakarta: Laksana, 2014)
Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan: Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, (Semarang: Aneka Ilmu, 1999)
Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV. Amin, 1988)
Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV. Amin, 1988)


[1] Paul Stange, Kejawen Modern: Hakikat dalam penghayatan Sumarah, (Yogyakarta: PT LKIS, 2009), 14
[2] Ibid., 16
[3] Sumarah V: Sejarah Paguyuban Sumarah 1935-1970, diterbitkan oleh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tahun 1980, 1.
[4] Rahnip,  Aliran  Kepercayaan  dan  Kebatinan  Dalam  Sorotan,  (Surabaya:  Pustaka Progresif, 1987), 16.
[5] Petir Abimanyu,  Buku Pintar Aliran Kebatinan dan Ajarannya, (Jogjakarta: Laksana, 2014), 11
[6] Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan: Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), 224.
[7] Ibid,.245
[8] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV. Amin, 1988), 104-105.
[9] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV.Amin, 1988), 104-106.
[10] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV. Amin, 1988), 112

Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...