MAKALAH
TASAWUF DAN BUDAYA LOKAL
ALIRAN KEBATINAN PAGUYUBAN SUMARAH

Dosen
Pengampu :
Drs.
H. Muuhammad Achyar, M.Si
Disusun
oleh :
M. Rizkillah (E07216006)
PRODI
TASAWUF dan
PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDIN dan FILSAFAT
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirohim
Segala
puji bagi Allah SWT, pengatur dan pemelihara seluruh alam. Shalawat dan salam
kepada Nabi dan Rasulnya Muhammad SAW , juga keluarganya, sahabatnya serta
seluruh umatnya yang mengikuti sunnahnya.
Makalah
ini berisi tentang “Aliran
Kebatinan Paguyuban Sumarah” yang terkait
dengan kondisi Budaya ini. Tujuan membuat makalah ini agar seluruh mahasiswa
dan mahasiswi dapat meninjau dan mengetahui tentang Budaya Lokal dengan melalui
beberapa cara seperti, berdiskusi dan sebagainya. Karena itu sangat diharapkan
bagi Mahsiswa(i) jurusan Ilmu Tasawuf untuk memahami semua yang berkaitan
dengan kehidupan ini.
Terima
kasih tak lupa dihaturkan untuk kerja sama dan kekompakan teman kelompok
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Dan tak lupa pula
kami haturkan terima kasih atas bantuan selama makalah ini dikerjakan.
Kami
meyakini bahwa makalah ini , tidak terlepas dari kekurangan yang tentunya masih
dinanti kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.
Wassalamu’alaikum wr.wb
Surabaya, 02 Mei 2018
Penyusun Makalah
DAFTAR ISI
Halaman judul..................................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang............................................................................................................. 1
B. Tujuan........................................................................................................................... 2
C. Rumusan
Masalah ........................................................................................................ 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Sejarah Paguyuban Sumarah ......................................................................................... 3
B. Ajaran paguyuban Sumarah............................................................................................ 4
BAB III: PENUTUP
Kesimpulan
......................................................................................................................... 9 Daftar Pustaka............................................................................................................................................. 10
BAB I
Pendahuluan
Sumarah yang berarti pasrah atau keadaan menyerah secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan deskripsi utama dalam praktek spiritual di Paguyuban Sumarah[1]. Sumarah
merupakan praktek
kebatinan yang
mengutamakan kesadaran proses
alamiah yang
tidak
bisa dipaksakan dengan
kehendak dan tidak mungkin dikembangkan berdasarkan pedoman.
Oleh karena itu,
sujud menjadi ciri utama
dalam praktek peribadatan
Sumarah dan seringkali
disebut sebagai Sujud Sumarah yang
berarti sujud dengan kondisi pasrah
secara
total[2].
Paguyuban Sumarah yang termasuk dalam kelompok aliran kepercayaan
di Indonesia memiliki pengikut yang tersebar luas diberbagai daerah di Indonesia khususnya di Jawa. Pada saat ini, Sumarah menjadi organisasi kebatinan dengan sekitar 6 ribu anggota yang
berpusat di Jakarta sebagai pemegang kepengurusan tertinggi.
Sedangkan untuk wilayah pusat
daerah diwakili Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di beberapa
daerah
seperti di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan termasuk
juga Jawa Timur.
Di Jawa Timur, terdapat
beberapa daerah yang menjadi tempat tinggal anggota sumarah sepertihalnya di
Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Tulungagung, Nganjuk, Kediri,
Lumajang, Blitar, Batu Malang, Gresik, Bojonegoro, Sidoarjo dan Surabaya3.
Daerah-daerah tersebut bukanlah tempat dimana terdapat satu padepokan yang
menjadi pusat berkumpulnya orang-orang Sumarah melainkan hanya letak keberadaan
para anggota pengikut Sumarah. Paguyuban Sumarah tidak mempunyai tempat khusus
dimana praktek peribadatan diadakan namun agenda peribadatan biasanya dilakukan
dilokasi yang menjadi kesepakatan bersama.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dinamakan dengan Paguyupan Sumara?
2. Ajaran apa yang diterapan?
Tujuan
1. Agar mengetahui secara detail aliran paguyuban sumara
2. Untuk mengetahui ajaran-ajarannya.
BAB II
Pembahasan
Keberadaan Paguyuban Sumarah di sebelah timur pulau Jawa tidak dapat
dipisahkan dari sejarah dan asal mula
dari Paguyuban Sumarah itu sendiri. Jika
melihat dari sejarah awal Paguyuban Sumarah bermula dari R. Ng.
Sukinohartono atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Kino, seorang tokoh sekaligus pendiri Paguyuban Sumarah yang mendapatkan wahyu pertamanya dari
Tuhan Yang Maha Esa pada bulan September 1935. Wahyu tersebut merupakan bisikan gaib yang diterimanya bukan atas dasar keinginan untuk mendapatkan
ilmu
gaib, melainkan terungkap dalam kondisi
keprihatinan jiwa-raga sewaktu
memohonkan kemerdekaan kepada
Tuhan
Yang
Maha
Kuasa
bagi bangsa Indonesia yang mengalami penjajahan lahir
dan batin yang sudah beberapa abad lamanya[3].
Atas
penurunan wahyu tersebut dan dengan kesadaran manusianya,
Pak
Kino merasa tidak mampu dan tidak berwenang untuk menuntun kesucian kepada sesama umat, dan akhirnya atas kehendak Tuhan yang tiada terbantah lagi, Pak Kino
menyanggupi dan meneruskan tuntunan Sujud Sumarah. Namun, Pak Kino
di sini hanya menjadi warana
saja (penampung tuntunan), sedangkan tuntunan mengenai ilmu kesucian tetap disandarkan langsung dari
Tuhan sendiri.
Awal mula
berdirinya aliran kepercayaan Paguyuban Sumarah
dipelopori seorang
tokoh yakni R. Sokinohartono, ia lahir tahun 1897. Sejak muda ia sudah
tertarik pada
ilmu-ilmu mistisme, seperti tapa, tirakat, dan meditasi. Selain itu ia juga memiliki ilmu warisan kanuragan dari orang
tuanya. Akan tetapi ilmu kesaktian seperti itu menurutnya tidak dapat membawa kepada
keselamatan.
Dengan kata lain, bahwa pada waktu itu mayoritas orang bertapa dan bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan maksud dan tujuan tertentu, bukan murni
karena keimanan, kepasrahan seorang
hamba kepada Tuhan
dan
sujud yang murni dengan tanpa ada maksud dan tujuan apapun,
sehingga ia memutuskan untuk meninggalkannya dan mencari guru yang ilmunya dipandang dapat membawa
keselamatan lahir batin.
Menurut Imam Suwarno,
lahirnya Sumarah
berawal dari keprihatinan Sokinohartono melihat kondisi bangasanya yang
kala itu
dalam penjajahan
belanda, sehingga
ia berdoa, bersujud
dan memohon kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Dalam sujudnya pak Kino bertemu dengan para Nabi dan dalam doanya
beliau memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar Indonesia terbebas dari penjajahan, dan petunjuk yang waktu itu di dapat adalah bapak Ir. Soekarno dan ternyata memang benar pak Karno lah yang
menjadi bapak revolusioner yang berhasil membebaskan Indonesia dari para
penjajah. Di suatu malam pak Kino berdoa
dan doanya pun dikabulkan dengan
cara
diwahyukannya tuntunan sumarah melalui hakiki kepada Sukinohartono pada tanggal 8 september 1935 dirumahnya
Wirobrajan VII/158 Yogyakarta. Hakiki adalah
sumber otoritas spiritual kepada individu
tertentu yang artinya sama dengan guru sejati.
1.
Tujuan,
Visi dan Misi Aliran
Tujuan, Visi dan Misi Paguyuban Sumarah Provinsi Jawa Timur
ini mengikuti Tujuan, Visi dan Misi yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat
Paguyuban Sumarah.
Sebagaimana organisasi
pada umumnya, Paguyuban Sumarah
pun juga memiliki
tujuan, visi dan
misi. Secara umum,
tujuan dari didirikannya Paguyuban Sumarah adalah
mewadahi atau memberi wadah kepada
umat manusia untuk bersatu dan
bersama-sama mencapai kesempurnaan hidup
didunia dan di akhirat. Sejalan dengan
itu, Rahnip
juga menyebutkan bahwa
tujuan
dari ajaran
Paguyuban
Sumarah adalah
untuk
mencapai
kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat[4]. Sedangkan Visi dan misi dari paguyuban
sumarah dapat dirumuskan sebagai berikut[5]:
1). Tuntunan Sumarah diturunkan melalui R. Ng. Sukinohartono (Pak Kino)
di bulan September tahun 1935, yang menjadi jawaban Tuhan Yang Maha Esa
atas permohonan Pak Kino yang saat itu memohon kemerdekaan bagi bangsa
Indonesia. Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap warga Paguyuban Sumarah harus selalu peduli dan ikut merasa bertanggung jawab tentang
nasib bangsa
Indonesia sampai kapanpun.
2). Tuntunan Sumarah diturunkan adalah sebagai sarana
untuk membangun iman
bulat 100% kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi umat manusia
(khususnya bangsa Indonesia
terlebih dahulu), sehingga
bisa diharapkan mahanani tata
tentrem ing jagad raya (mengakibatkan/menghasilkan ketentraman dunia raya
= memayu hayuning bawana).
2.
Ajaran-
Ajaran Paguyuban Sumarah
Ajaran Ketuhanan
Dalam
Paguyuban Sumarah memiliki kepercayaan bahwa, Tuhan itu adalah Maha Esa, murba
wasesa (kuasa) di dunia dna akhirat. Setiap anggota Paguyuban Sumarah
mempercayai adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Untuk memantapkan kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, maka perlu diadakan penghayatan langsung dengan melatih diri untuk
menenangkan dan menguasai hawa
nafsunya sendiri, seperti angkara murka, iri hati, dan sebagainya. Agar antara jiwa dan raganya dapat menyatu
dalam melakukan Sujud Sumarah kepada Tuhan
Yang Maha Esa[6].
Menurut ajaran Paguyuban Sumarah, Tuhan adalah Dzat Yang Maha Esa, dekat dengan manusia dan bahkan bertempat dalam hidup manusia, serta duduk dalam diri (melindungi) manusia yang selalu
Sujud Sumarah. Jiwa manusia
merupakan percikan dari Tuhan, oleh karenanya Tuhan itu Maha
Suci. Jadi
seseorang dalam
melaksanakan Sujud Sumarah
hatinya
atau
jiwanya harus benar-benar suci
agar dapat manunggal dengan Tuhan dan
bersekutu dengan-Nya (Jumbuhing
Kawula Gusti)[7].
Tuhan adalah asal mula manusia di ciptakan, karena yang
menciptakan alam
semesta dan
seisinya yakni Tuhan
Yang
Maha Esa.
Tuhan menjadi
kiblat,
sebagai
sumber dari
segala eksistensi dan
identitas
manusia, tidak hanya itu saja,
Tuhan
juga
Maha satu dalam
kekuasaan-Nya.
Paguyuban Sumarah tidak membicarakan banyak tentang
ketuhanan. Hal ini agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam masalah ketuhanan, karena
anggota Paguyuban Sumarah banyak yang terdiri dari beberapa agama yang
berbeda yang masih aktif menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Hal tersebut dilakukan agar mereka yang berbeda agama dapat bersatu padu dalam satu tujuan sesuai dengan bunyi sesanggeman, yang terpenting Paguyuban
Sumarah
tetap mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa.[8]
Menurut ajaran
Paguyuban Sumarah,
manusia berasal
dari
Tuhan. Raga atau
jasad manusia berasal dari unsur
api, yang
berasal dari
unsur api, udara, air dan bumi sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Disamping unsur-
unsur jasad tersebut,
dalam diri manusia juga terdapat empat
nafsu:
a. Nafsu amarah;
nafsu ini
adalah
nafsu yang
berwujud
cahaya
merah, sebagai sumber dari kemarahan.
b. Nafsu
aluamah;
nafsu ini
adalah
nafsu
yang berwujud
cahaya
hitam,
merupakan sumber dari
kesomobongan dan ego.
c. Nafsu Muthmainnah; nafsu ini adalah
yang berwujud
cahaya
kuning,
merupakan sumber dan
kebaikan.
d. Nafsu
Supiah; nafsu
ini
adalah
nafsu yang
berwujud
cahaya putih,
merupakan sumber dari
kesucian.
Jika seseorang itu mengerti bahwa semua manusia asal usulnya sama,
baik jiwa dan raganya,
maka
ia akan
mengerti pula bahwa manusia itu mempunyai derajat yang sama, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Manusia satu tidak akan merasa lebih tinggi, lebih baik dan
lebih segala-galanya dari yang lain.
Dalam ajaran Paguyuban Sumarah, manusia secara keseluruhan terdiri
dari tiga unsur, yaitu badan wadag, badan nafsu
dan
jiwa
atau roh.
1. Badan Wadag; atau jasmani berasal dari substansi yang berasal dari anasir
bumi, angin, air, dan api. Apabila manusia itu
mati, maka badan wadag akan kembali kepada anasir asalnya. Badan wadag dilengkapi Tuhan
dengan alat-alat yaitu panca indera, yang kesemua alat itu dikuasai oleh
akal pikiran, yang mana pikiran itu selalu berkaitan dengan masalah- masalah
duniawi terutama untuk
keperluan hidup. Pikiran mempunyai hubungan yang erat sekali dengan angan-angan, antara keduanya tidak
dapat dipisahkan, apa yang diperoleh pikiran akan diteruskan oleh angan- angan. Angan-angan inilah yang
menjadi alat untuk berSujud Sumarah kepada Tuhan.
2. Badan Nafsu; berasal dari Tuhan dengan perantaraan iblis dan nanti akan dikembalikan kepada
asalnya. Nafsu terdiri dari empat macam yaitu
amarah, aluamah, muthmainnah,
dan supiah, pusat
dari semua macam nafsu
itu disebut dengan sukma.
3. Jiwa atau roh; yang berasal dari roh suci atau Tuhan dan nanti akan dikembalikan ke asalnya yaitu Tuhan. Apabila manusia itu mati dengan
sempurna, maka rohnya akan kembali menyatu dengan Tuhan, akan tetapi
apabila tidak sempurna maka roh manusia itu akan dilahirkan kembali ke
dunia (reinkarnasi).
Oleh karena itu, agar manusia tidak terkena hukum karma dan roh bisa
kembali ke
asalnya manunggal dengan Allah dan tidak mengalami reinkarnasi; maka
ia harus dapat mengalahkan hawa
nafsunya dengan cara selalu
ingat
dan Sujud Sumarah kepada Allah.
Diantara sekian banyak manusia
yang tidak terkena hukum karma berupa
kelahiran kembali adalah Adam dan Hawa sebagai manusia pertama.
Adam dan Hawa harus dipandang sebagai sebenar-benar manusia yang
adanya
di dunia
bukan dilahirkan kembali,
melainkan berasal
dari roh
suci yang berasal
dari Dzat Yang Maha
Esa, keduanya berasal
dari alam
suci
atau firdaus. Godaan Iblis terhadap Adam harus diartikan godaan nafsu terhadap roh suci, ketika godaan nafsu berhasil masuk ke dalam roh suci, maka ia harus meninggalkan alam suci berganti masuk
ke dalam alam kesengsaraan.[9]
3. Ajaran Budi Luhur
Paguyuban Sumarah disamping mengajarkan kepada anggotanya untuk
tetap iman kepada
Allah serta berSujud Sumarah kepada-Nya, juga mengajarkan tentang budi luhur, yakni untuk membentuk jiwa agar memiliki sifat-sifat yang luhur dengan cara melatih segala perbuatan, perkataan dan hati
secara moralis agar dapat mendekati dengan sifat-sifat Tuhan Yang Maha
suci. Ajaran Budi tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Bersikap sederhana
dan menarik hati
2.
Tepo sliro dan tenggang rasa terhadap sesama manusia, sesama golongan, aliran dan agama.
3.
Berusaha
mewujudkan kesehatan,
ketentraman dan kesucian rohani.
4.
Memiliki tabiat luhur,
tutur kata
dan prilaku
yang
baik.
5.
Mempererat
persaudaraan berdasarkan cinta kasih dan suka memaafkan kesalahan orang lain.
6.
Tidak membeda-bedakan anatara sesama
manusia.
7. Berusaha untuk dapat melaksanakan kewajiban sebagai warga negara.
8. Berprilaku benar dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan
umum.
9. Sabar dan teliti dalam menerima sesuatu, tidak gegabah da tergesa-gesa,
serta rajin dalam menuntut ilmu.
BAB I
Penutup
Kesimpulan
Dunia ini hanyalah sebagaian ujian bagi orang sumarah. Tuhan yang maha
pementu dari lulu atau tidak lulusnya manusia didunia ini. Yang berhasil lulus
berarti kembali keasalnya yang abadi, sedang yang tidak lulus harus mengulangi
hidup ini sekali lagi (reinkarnasi), orang sumarah percaya kepada hukum karma.
Dus, keluarga sumarah harus senantisa menyebar sebaanyak- banyaknya biji
kebaikan sewaktu masih hidup didunia, agar keturunanya kelak dapat memetik buah
kebajikan yang telah ditanamnya.
Maka dari itu didalam
pergaulan orang sumarah hendaknya menampakan ramah tamah dan supel dalam indak
tanduknya. Orang sumarah harus tunduk kepada semua perturan pemerintah, sedapat
mungkin berjuang demi kesejahteraan nusa dan bangsa. Maka dari itu sebab akibat
dari segala hal akan dikembalikan pada diri manusia itu sendiri.
Daftar Pustaka
Paul Stange, Kejawen Modern: Hakikat dalam penghayatan Sumarah, (Yogyakarta: PT LKIS, 2009)
Rahnip, Aliran Kepercayaan
dan
Kebatinan
Dalam Sorotan,
(Surabaya: Pustaka Progresif, 1987)
Petir Abimanyu,
Buku
Pintar Aliran Kebatinan dan Ajarannya, (Jogjakarta: Laksana,
2014)
Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan: Kepercayaan Tuhan Yang
Maha Esa, (Semarang: Aneka Ilmu, 1999)
Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di
Indonesia, (Surabaya:
CV. Amin, 1988)
Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV.
Amin, 1988)
[3] Sumarah V: Sejarah Paguyuban Sumarah 1935-1970, diterbitkan oleh: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tahun 1980, 1.
[4] Rahnip,
Aliran Kepercayaan
dan
Kebatinan
Dalam Sorotan,
(Surabaya: Pustaka Progresif, 1987), 16.
[6] Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan: Kepercayaan Tuhan Yang
Maha Esa, (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), 224.
[8] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya:
CV. Amin, 1988), 104-105.
[9] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya: CV.Amin, 1988), 104-106.
[10] Abd Mutholib Ilyas, dkk, Aliran
Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia, (Surabaya:
CV. Amin, 1988), 112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar