Breaking

Selasa, 31 Juli 2018

ETIKA BARAT PRESPEKTIF STOA


MAKALAH UAS ETIKA BARAT

ETIKA BARAT PRESPEKTIF STOA



 Hasil gambar untuk logo uinsa





Dosen Pengampu :
Dr. H. Mukhlisin Sa’ad, M.Ag
Disusun oleh :
M. Rizkillah                      (E07216006)

PRODI TASAWUF dan PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDIN & FILSAFAT
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2017

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirohim

            Puji syukur atas segala rahman rahim Allah SWT, pengatur dan pemelihara seluruh alam. Shalawat dan salam kepada Nabi dan Rasulnya Muhammad SAW , juga keluarganya, sahabatnya serta seluruh umatnya yang mengikuti sunnahnya.
            Makalah ini berisi tentang “Etika barat prespektif Stoa” yang terkait dengan kondisi Etika ini. Tujuan membuat makalah ini agar memenuhi tugas Ulangan Ahir Semester dan agar saya dapat meninjau dan mengetahui tentang Etika barat dengan melalui beberapa cara seperti, berdiskusi dan sebagainya. Karena itu sangat diharapkan bagi Mahsiswa(i) jurusan Ilmu Tasawuf untuk memahami semua yang berkaitan dengan kehidupan ini.
            Terima kasih tak lupa dihaturkan untuk kerja sama semua pihak yang telah mensukseskan makalah saya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat target. Saya meyakini bahwa makalah ini , tidak terlepas dari kekurangan yang tentunya masih dinanti kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.

Wassalamu’alaikum wr.wb






Surabaya, 24 Mei 2018



Penyusun Makalah



DAFTAR ISI

Halaman judul.....................................................................................................................   i
Kata Pengantar....................................................................................................................   ii
Daftar Isi.............................................................................................................................   iii
BAB I : PENDAHULUAN
      A.   Latar Belakang.............................................................................................................   1
      B.   Tujuan...........................................................................................................................   1
      C.   Rumusan Masalah ........................................................................................................   1
BAB II : PEMBAHASAN
      A. Sejarah Stoa ...................................................................................................................   2
      B. Ajaran Stoa.....................................................................................................................   3
BAB III: PENUTUP
      Kesimpulan .........................................................................................................................   7   Daftar Pustaka.............................................................................................................................................   8




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakamg
Berbicara tentang filsafat, sebenarnya kita sedang berbicara tentang mencari hakikat sesuatu. Dan sesuatu inilah yang pada akhirnya menjadi obyek pembahasan filsafat, yaitu hakikat Tuhan, hakikat manusia dan hakikat alam. Diawali dari rasa ingin tahu akan hakikat sesuatu, dan rasa ketidak pastian atau ragu-ragu, seseorang secara terus menerus berfikir untuk mencari jawabannya. Maka upaya seseorang untuk mencari hakikat inilah sebenarnya ia sedang berfilsafat. Dan upaya–upaya untuk menyingkap hakekat segala sesuatu yang wujud, telah lama dilakukan oleh bangsa yunani.

B.     Rumusan Masalah
Makalah ini memiliki poli pertanyaan, yakni:
1.        Sejarah Stoa ?
2.        Bagaimana ajaran Stoa ?

C.    Tujuan Masalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas tujuannya, yakni:
1.      Agar mahasiswa mengetahui sejarah Stoa
2.      Agar mahasiswa mengetahui ajaran stoa.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Stoa

Stoa merupakan aliran filsafat besar setelah Aristoteles di Yunani. Aliran Stoa didirikan oleh Zenon dari Kition sekitar tahun 300 Sebelum Masehi. Nama Stoa berasal dari tempat para filsuf berkumpul yaitu stoa poikile yang artinya balai bertiang warna-warni. Filsafat Stoa sangat bertolak belakang dengan filsafat Plato dan Aristoteles. Bagi Stoa, Yang Ilahi dan alam menyatu. Tak ada Allah di belakang alam semesta. Yang Ilahi adalah alam semesta. Pandangan dunia Stoa adalah monistik yaitu dunia itu sekaligus materiil. ilahi, dan rasional. Ia merupakan kesatuan homogen, tetapi dalam kesatuannya itu ia tertata secara hierarkis.
Filsafat kaum Stoa, atau Stoisisme, didirikan oleh seorang filsuf Yunani Kuno yang bernama Zeno dari Kition. Ia dilahirkan di kition  pada tahun 340 S.M. dan meninggal di Atena pada tahun 264 S.M. ia mencapai umur 76 tahun.
Mula-mula ia seorang saudagar yang sering berlayar. Pada suatu waktu pecah kapalnya di tengah laut. Jiwanya tertolong, tetapi hartanya habis sama sekali. Karena itu ia berhenti berniaga dan pergi belajar filosof. Zoro berturut-turut mendapatkan pelajaran filosofi di kynia dan Magaria dan akhirnya ia belajar pada academia di bawah pimpinan Xenoxrates, murid plato yang terkenal. Setelah keluar dari academia ia mendirikan sekolah sendiri. Yang tempatnya pada suatu ruang, yang penuh ukiran ruang dalam Bahasa Grik  ialah “Stoa’ dan kata “Stoa” itu dipakainya sebagai nama sekolahnya. Sikap hidup zeno banyak merupai hidup sokrates, yang masih tergambar dalam ingatabn penduduk atena. Sebab itu ia sangat dihormati.
Seperti kaum epikuros kaum stoa membagi filosofi dalam tiga bagian yaitu logika, fisika dan etik. Logika dan fisika umumnya dipergunakan sebagai dasar etik. Maksud dari pada etiknya ialah memberi petunjuk tentang sikap sopan santun dalam penghidupan. Tujuan terutama dari segala filosofi ialah menyempurnakan moral manusia[1]


B.     Ajaran Stoa  

            Filsafat kaum Stoa, atau Stoisisme, didirikan oleh seorang filsuf Yunani Kuno yang bernama Zeno. Titik tolak dari seluruh filsafat Stoa adalah rasa kagum terhadap tatanan dan keteraturan yang ada di dunia. Zeno berpendapat bahwa keteraturan dunia ini bukanlah suatu kebetulan semata, seperti yang diajarkan oleh Epikuros, melainkan sesuai dengan Logos itu sendiri yang mendasari seluruh alam ini. Dalam arti ini, Logos tidaklah diartikan secara sempit sebagai rasio manusia, melainkan sebagai rasio dunia yang bersifat kreatif. Logos ini menentukan keteraturan segala sesuatu, dan mengarahkan segala sesuatu ke tujuan hakikinya. Keteraturan segala sesuatu itu disebut juga sebagai nasib, atau takdir. Segala sesuatu yang ada di dalam realitas tidaklah terlepas dari hukum ini[2].
            Prinsip dasar etika Stoa adalah penyesuaian hukum alam. Stoa menggunakan istilah Oikeiosis yang berarti mengambil sebagai milik, maksudnya dalam proses penyesuaian diri, manusia menjadikan alam semesta sebagai miliknya. Sehingga menurut Stoa, perbuatan yang baik adalah menyesuaikan diri dengan hukum alam, perbuatan buruk adalah tidak mau menyesuaikan diri dengan hukum alam. Kebebasan manusia tidak berarti manusia bebas dari takdir, melainkan manusia mencapai kebebasan apabila ia dengan sadar dan rela menyesuaikan diri dalam hukum alam.
Inti terdasar aliran Stoa adalah bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang sepenuhnya menyesuaikan dirinya dengan hukum kodrat. Cita-cita tertinggi Stoa adalah mencapai kebebasan. Manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari hukum alam. Akan tetapi, ia dapat menyesuaikan diri dengan hukum alam. Dan dengan begitu, manusia dapat menjalankan hal-hal yang sesuai dengan kehendaknya. Manusia pun mencapai autarkia, yakni suatu keadaan di mana ia tidak tergantung lagi pada apapun yang ada di luarnya. Hanya orang yang bijak dan berkeutamaanlah yang mampu sampai pada tahap ini. Orang yang berkeutamaan tidak akan mengijinkan dirinya untuk dikuasai oleh nafsu dan emosi.

            “Orang bijaksana”, demikian tulis Seneca, “menguasai dirinya sendiri. Siapa yang menguasai dirinya sendiri memiliki watak yang kuat. Siapa yang memiliki watak yang kuat tidak dapat dibingungkan. Siapa yang tidak dibingungkan tidak bisa sedih. Siapa yang tidak bisa sedih adalah bahagia. Maka orang bijaksana adalah bahagia, dan kebijaksanaan cukup untuk hidup bahagia.[3]
            Ia akan dengan tenang melaksanakan semua kewajibannya dalam situasi apapun. Segala sesuatu yang terjadi dihadapinya dengan tenang hati. Nasib apapun tidak akan membuatnya resah. Dalam penyiksaan dan penderitaan apapun, ia tetap bebas. Itulah cita-cita tertinggi Stoa, yakni ataraxia ; kebebasan dari keresahan dan penderitaan[4].
            Dalam literatur lain disebutkan bahwa pokok ajaran etika Stoa adalah bagaimana manusia hidup selaras dengan keselarasan dunia. Sehingga menurut mereka kebajikan ialah akal budi yang lurus, yaitu akal budi yang sesuai dengan akal budi dunia. Pada akhirnya akan mencapai citra idaman seorang bijaksana hidup sesuai dengan alam. Ajarannya tidak jauh beda dengan Epikuros yang terdiri dari tiga bagian, yaitu logika, fisika dan etika.

A.    Logika
      Menurut kaum Stoa, logika maksudnya memperoleh kriteria tentang kebenaran. Dalam hal ini, mereka memiliki kesamaan dengan Epikuros. Apa yang dipikirkan tak lain dari yang telah diketahui pemandangan. Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa kita membenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam. Sehingga orang yang memandang itu terpaksa membenarkan dan menerima isinya.

B.     Fisika
      Stoa tidak saja memberi pelajaran tentang alam, tetapi juga meliputi teologi. Menurut mereka alam mempunyai dua dasar yaitu yang bekerja dan yang dikerjakan. Yang bekerja ialah Tuhan dan yang dikerjakan ialah materi. Menurut kaum stoa alam semesta ini ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut logos. Oleh sebab itu semua kejadian tunduk kepada hukum alam yang berjalan. Fisika kaum stoa menjadi pandangan hidupnya. Karena yang terjadi dalam dunia ini berlaku menurut hukum alam dan rasio serta adanya Tuhan untuk keselamatan manusia.

C.    Etika
      Menurut kaum stoa etika ialah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian malaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Pelaksanaan tepat dari dasar-dasar itu ialah jalan untuk mengatasi segala kesulitan dan memperoleh kesenangan dalam penghidupan. Kaum Stoa juga berpendapat bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh “harta yang terbesar nilainya”, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah dasar segala etik pada kaum Stoa.[5]

D.    Politik
Tokoh-tokoh Stoa atau para Stoik, dalam etika politik terbagi dalam dua golongan, yang anti-politik atau menjauhi keterlibatan politik, dan yang terlibat aktif dalam politik. Kedua kelompok tersebut memiliki pandangan yang berbeda. Bagi yang menjauhi dunia politik, alasan mereka adalah karena muak dengan perilaku elit politik, dan meyakini bahwa hukum yang patut ditaati bukanlah hukum negara, melainkan hukum alam yang diatur oleh sang ilahi. Selain itu, mereka masih sangat dipengaruhi oleh aliran Sinisisme yang mengecam keras pemerintahan tiran kala itu. Sedangkan yang memilih terlibat dan berkarier dalam dunia politik, Cicero misalnya, mengatakan bahwa tugas politik terdapat tugas suci yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia, ganjarannya adalah sorga. Dalam relasi dengan manusia lain, kita tak butuh hukum politik, namun harus hidup dalam persahabatan dan kekeluargaan dengan semua makhluk, seperti kutipan Plutarch (Moralia, 329A) dari Politeia karya Zeno,
 Kita seharusnya hidup tidak dalam kota-kota atau wilayah yang terorganisasi, masing-masing kelompok dibedakan oleh pandangan kebaikan sendiri, tetapi seharusnya berpikir semua orang adalah warga dan anggota, dan seharusnya ada satu jalan hidup dan satu tatanan, seperti segerumbul rumput menyatu di padang.”[6]
Alasannya sederhana, para Stoik awal menolak sistem pemerintahan kala itu, pemerintahan yang sangat tirani. Para Stoik awal juga menolak sistem dan ajaran pendidikan yang mengabaikan pentingnya hidup bersama dalam persahabatan, persaudaraan, dan anti permusuhan. Setiap sistem politik agaknya mereka tolak, bahkan penggunaan mata uang pun mereka tidak anjurkan.
Sedangkan para Stoik yang kemudian, misalnya Cicero, Seneca Muda, dan Markus Aurelius justru terlibat dalam kancah politik, Cicero adalah salah satu anggota dewan Kota, Seneca pernah jadi penasihat Kaisar Nero, dan Marcus Aurelius adalah seorang Kaisar. Jadi, Stoa memang memiliki paradoks ajaran dalam berpolitik, ada yang anti-politik, dan ada pula yang justru dalam lingkaran politik.[7]
Bagi Seneca, Cicero, dan Marcus Aurelius, seseorang yang memiliki jabatan politik harus memiliki integritas diri. Pemerintahan yang baik seharusnya bukan hanya dihuni orang-orang yang tahu kebijaksanaan -seperti pernah digagas oleh Plato dalam sistem pemerintahan Aristokrasi, melainkan harus juga seorang sophis, yaitu orang yang benar-benar melakukan kebijaksanaan. Marcus Aurelius sendiri mengarang buku berjudul Meditations hingga 4 jilid yang berisi pentingnya seorang pejabat publik melakukan perenungan diri supaya dalam memerintah ia memiliki ketenangan batin, dan berjiwa pengorbanan. Jadi, Stoa memang memiliki paradoks ajaran dalam berpolitik, ada yang anti-politik, dan ada pula yang justru dalam lingkaran politik.[8]


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Bahwasanya pemikiran stoa tidaklah luput dari Zeno, Zeno berpendapat bahwa keteraturan dunia ini bukanlah suatu kebetulan semata, seperti yang diajarkan oleh Epikuros, melainkan sesuai dengan Logos itu sendiri yang mendasari seluruh alam ini. penyesuaian hukum alam. Stoa menggunakan istilah Oikeiosis yang berarti mengambil sebagai milik, maksudnya dalam proses penyesuaian diri, manusia menjadikan alam semesta sebagai miliknya. Sehingga menurut Stoa, perbuatan yang baik adalah menyesuaikan diri dengan hukum alam, perbuatan buruk adalah tidak mau menyesuaikan diri dengan hukum alam. Kebebasan manusia tidak berarti manusia bebas dari takdir, melainkan manusia mencapai kebebasan apabila ia dengan sadar dan rela menyesuaikan diri dalam hukum alam Ajarannya stoa tidak jauh beda dengan Epikuros yang terdiri dari tiga bagian, yaitu logika, fisika etika dan politik.


DAFTAR PUSTAKA


Mohammad Hatta, Alam Pemikiran Yunani,(Jakarta: Penerbit Tintamas,1986)
L. Petrus Simon Tjahjadi, Petualangan Intelektual, )Yogyakarta: Kanisius, 2004(
Magnis Suseno Franz, 13 Model Pendekatan Etika, (Yogyakarta:  Kanisius, 1998)
https://hijaujaya.blogspot.co.id/2016/09/makalah-helenisme-dan-ciri-cirinya.html
Rowe Christoper, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane, Sejarah Pemikiran Politik Yunani Romawi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001)




[1] Hatta Mohammad, Alam Pemikiran Yunani,(Jakarta: Penerbit Tintamas,1986)148.
[2] Simon Petrus. L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, )Yogyakarta: Kanisius, 2004( 86.
[3] Franz Magnis Suseno, 13 Model Pendekatan Etika, (Yogyakarta:  Kanisius, 1998) 64.
[4] Ibid, 65.
[5] https://hijaujaya.blogspot.co.id/2016/09/makalah-helenisme-dan-ciri-cirinya.html/08:00/26-03-2018
[6] Christoper Rowe, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane, Sejarah Pemikiran Politik Yunani Romawi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001) 522
[7] Ibid, 718
[8] Ibid, 681

Tidak ada komentar:

sample terbang banjari.zip + yaa makkatal asyroofi cover banjari "ayo sholawat"

ya makkatal asyroofi by: mahasiswa uinsa-ma'had annur wonocolo 1. husni hamdani (gresik) 2. m. rizkillah (pacet, mojokerto) 2...