MAKALAH
UAS ETIKA BARAT
ETIKA BARAT PRESPEKTIF STOA

Dosen
Pengampu :
Dr.
H. Mukhlisin Sa’ad, M.Ag
Disusun
oleh :
M. Rizkillah (E07216006)
PRODI
TASAWUF dan
PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDIN & FILSAFAT
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirohim
Puji
syukur atas segala rahman rahim Allah SWT, pengatur dan pemelihara seluruh
alam. Shalawat dan salam kepada Nabi dan Rasulnya Muhammad SAW , juga
keluarganya, sahabatnya serta seluruh umatnya yang mengikuti sunnahnya.
Makalah
ini berisi tentang “Etika barat prespektif Stoa” yang terkait
dengan kondisi Etika ini. Tujuan membuat makalah ini agar memenuhi tugas
Ulangan Ahir Semester dan agar saya dapat meninjau dan mengetahui tentang Etika
barat dengan melalui beberapa cara seperti, berdiskusi dan sebagainya. Karena
itu sangat diharapkan bagi Mahsiswa(i) jurusan Ilmu Tasawuf untuk memahami semua
yang berkaitan dengan kehidupan ini.
Terima
kasih tak lupa dihaturkan untuk kerja sama semua pihak yang telah mensukseskan
makalah saya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat target.
Saya meyakini bahwa makalah ini , tidak terlepas dari kekurangan yang tentunya
masih dinanti kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaannya.
Wassalamu’alaikum
wr.wb
Surabaya, 24 Mei 2018
Penyusun Makalah
DAFTAR ISI
Halaman judul..................................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................................. 1
B. Tujuan........................................................................................................................... 1
C. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
BAB II : PEMBAHASAN
A. Sejarah Stoa ................................................................................................................... 2
B. Ajaran Stoa..................................................................................................................... 3
BAB III: PENUTUP
Kesimpulan ......................................................................................................................... 7
Daftar Pustaka............................................................................................................................................. 8
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakamg
Berbicara tentang filsafat,
sebenarnya kita sedang berbicara tentang mencari hakikat sesuatu. Dan sesuatu
inilah yang pada akhirnya menjadi obyek pembahasan filsafat, yaitu hakikat
Tuhan, hakikat manusia dan hakikat alam. Diawali dari rasa ingin tahu akan hakikat
sesuatu, dan rasa ketidak pastian atau ragu-ragu, seseorang secara terus
menerus berfikir untuk mencari jawabannya. Maka upaya seseorang untuk mencari
hakikat inilah sebenarnya ia sedang berfilsafat. Dan upaya–upaya untuk
menyingkap hakekat segala sesuatu yang wujud, telah lama dilakukan oleh bangsa
yunani.
B.
Rumusan
Masalah
Makalah
ini memiliki poli pertanyaan, yakni:
1.
Sejarah
Stoa ?
2.
Bagaimana
ajaran Stoa ?
C.
Tujuan Masalah
Sejalan
dengan rumusan masalah diatas tujuannya, yakni:
1.
Agar mahasiswa mengetahui sejarah Stoa
2. Agar mahasiswa mengetahui ajaran stoa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Stoa
Stoa merupakan aliran filsafat besar setelah Aristoteles
di Yunani. Aliran Stoa didirikan oleh Zenon dari Kition sekitar tahun 300
Sebelum Masehi. Nama Stoa berasal dari tempat para filsuf berkumpul yaitu stoa
poikile yang artinya balai bertiang warna-warni. Filsafat Stoa sangat bertolak
belakang dengan filsafat Plato dan Aristoteles. Bagi Stoa, Yang Ilahi dan alam
menyatu. Tak ada Allah di belakang alam semesta. Yang Ilahi adalah alam
semesta. Pandangan dunia Stoa adalah monistik yaitu dunia itu sekaligus
materiil. ilahi, dan rasional. Ia merupakan kesatuan homogen, tetapi dalam
kesatuannya itu ia tertata secara hierarkis.
Filsafat kaum Stoa, atau Stoisisme, didirikan oleh
seorang filsuf Yunani Kuno yang bernama Zeno dari Kition. Ia dilahirkan di
kition pada tahun 340 S.M. dan meninggal
di Atena pada tahun 264 S.M. ia mencapai umur 76 tahun.
Mula-mula ia seorang saudagar yang sering berlayar.
Pada suatu waktu pecah kapalnya di tengah laut. Jiwanya tertolong, tetapi
hartanya habis sama sekali. Karena itu ia berhenti berniaga dan pergi belajar
filosof. Zoro berturut-turut mendapatkan pelajaran filosofi di kynia dan
Magaria dan akhirnya ia belajar pada academia di bawah pimpinan Xenoxrates,
murid plato yang terkenal. Setelah keluar dari academia ia mendirikan sekolah
sendiri. Yang tempatnya pada suatu ruang, yang penuh ukiran ruang dalam Bahasa
Grik ialah “Stoa’ dan kata “Stoa” itu
dipakainya sebagai nama sekolahnya. Sikap hidup zeno banyak merupai hidup
sokrates, yang masih tergambar dalam ingatabn penduduk atena. Sebab itu ia
sangat dihormati.
Seperti kaum epikuros kaum stoa membagi filosofi
dalam tiga bagian yaitu logika, fisika dan etik. Logika dan fisika umumnya
dipergunakan sebagai dasar etik. Maksud dari pada etiknya ialah memberi
petunjuk tentang sikap sopan santun dalam penghidupan. Tujuan terutama dari
segala filosofi ialah menyempurnakan moral manusia[1]
B. Ajaran Stoa
Filsafat
kaum Stoa, atau Stoisisme, didirikan oleh seorang filsuf Yunani Kuno yang
bernama Zeno. Titik tolak dari seluruh filsafat Stoa adalah rasa kagum terhadap
tatanan dan keteraturan yang ada di dunia. Zeno berpendapat bahwa keteraturan
dunia ini bukanlah suatu kebetulan semata, seperti yang diajarkan oleh
Epikuros, melainkan sesuai dengan Logos itu sendiri yang mendasari seluruh alam
ini. Dalam arti ini, Logos tidaklah diartikan secara sempit sebagai rasio
manusia, melainkan sebagai rasio dunia yang bersifat kreatif. Logos ini
menentukan keteraturan segala sesuatu, dan mengarahkan segala sesuatu ke tujuan
hakikinya. Keteraturan segala sesuatu itu disebut juga sebagai nasib, atau
takdir. Segala sesuatu yang ada di dalam realitas tidaklah terlepas dari hukum
ini[2].
Prinsip dasar etika Stoa adalah
penyesuaian hukum alam. Stoa menggunakan istilah Oikeiosis yang berarti
mengambil sebagai milik, maksudnya dalam proses penyesuaian diri, manusia
menjadikan alam semesta sebagai miliknya. Sehingga menurut Stoa, perbuatan yang
baik adalah menyesuaikan diri dengan hukum alam, perbuatan buruk adalah tidak
mau menyesuaikan diri dengan hukum alam. Kebebasan manusia tidak berarti manusia bebas dari takdir,
melainkan manusia mencapai kebebasan apabila ia dengan sadar dan rela
menyesuaikan diri dalam hukum alam.
Inti
terdasar aliran Stoa adalah bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang
sepenuhnya menyesuaikan dirinya dengan hukum kodrat. Cita-cita tertinggi Stoa
adalah mencapai kebebasan. Manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari
hukum alam. Akan tetapi, ia dapat menyesuaikan diri dengan hukum alam. Dan
dengan begitu, manusia dapat menjalankan hal-hal yang sesuai dengan kehendaknya.
Manusia pun mencapai autarkia, yakni suatu keadaan di mana ia tidak tergantung
lagi pada apapun yang ada di luarnya. Hanya orang yang bijak dan
berkeutamaanlah yang mampu sampai pada tahap ini. Orang yang berkeutamaan tidak
akan mengijinkan dirinya untuk dikuasai oleh nafsu dan emosi.
“Orang
bijaksana”, demikian tulis Seneca, “menguasai dirinya sendiri. Siapa yang
menguasai dirinya sendiri memiliki watak yang kuat. Siapa yang memiliki watak
yang kuat tidak dapat dibingungkan. Siapa yang tidak dibingungkan tidak bisa
sedih. Siapa yang tidak bisa sedih adalah bahagia. Maka orang bijaksana adalah
bahagia, dan kebijaksanaan cukup untuk hidup bahagia.”[3]
Ia akan dengan tenang melaksanakan
semua kewajibannya dalam situasi apapun. Segala sesuatu yang terjadi
dihadapinya dengan tenang hati. Nasib apapun tidak akan membuatnya resah. Dalam
penyiksaan dan penderitaan apapun, ia tetap bebas. Itulah cita-cita tertinggi
Stoa, yakni ataraxia ; kebebasan dari keresahan dan penderitaan[4].
Dalam literatur lain disebutkan
bahwa pokok ajaran etika Stoa adalah bagaimana manusia hidup selaras dengan
keselarasan dunia. Sehingga menurut mereka kebajikan ialah akal budi yang
lurus, yaitu akal budi yang sesuai dengan akal budi dunia. Pada akhirnya akan
mencapai citra idaman seorang bijaksana hidup sesuai dengan alam. Ajarannya
tidak jauh beda dengan Epikuros yang terdiri dari tiga bagian, yaitu logika,
fisika dan etika.
A. Logika
Menurut kaum Stoa, logika maksudnya memperoleh
kriteria tentang kebenaran. Dalam hal ini, mereka memiliki kesamaan dengan
Epikuros. Apa yang dipikirkan tak lain dari yang telah diketahui pemandangan.
Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa kita
membenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang
menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam. Sehingga orang
yang memandang itu terpaksa membenarkan dan menerima isinya.
B. Fisika
Stoa tidak saja memberi pelajaran tentang alam, tetapi
juga meliputi teologi. Menurut mereka alam mempunyai dua dasar yaitu yang
bekerja dan yang dikerjakan. Yang bekerja ialah Tuhan dan yang dikerjakan ialah
materi. Menurut kaum stoa alam semesta ini ditentukan oleh suatu kuasa yang
disebut logos. Oleh sebab itu semua kejadian tunduk kepada hukum alam yang
berjalan. Fisika kaum stoa menjadi pandangan hidupnya. Karena yang terjadi
dalam dunia ini berlaku menurut hukum alam dan rasio serta adanya Tuhan untuk
keselamatan manusia.
C. Etika
Menurut kaum stoa etika ialah mencari dasar-dasar umum
untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian malaksanakan dasar-dasar itu
dalam penghidupan. Pelaksanaan tepat dari dasar-dasar itu ialah jalan untuk
mengatasi segala kesulitan dan memperoleh kesenangan dalam penghidupan. Kaum
Stoa juga berpendapat bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh
“harta yang terbesar nilainya”, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril
seseorang adalah dasar segala etik pada kaum Stoa.[5]
D. Politik
Tokoh-tokoh
Stoa atau para Stoik, dalam etika politik terbagi dalam dua golongan, yang
anti-politik atau menjauhi keterlibatan politik, dan yang terlibat aktif dalam
politik. Kedua kelompok tersebut memiliki pandangan yang
berbeda. Bagi yang menjauhi dunia politik, alasan mereka adalah karena
muak dengan perilaku elit politik, dan meyakini bahwa hukum yang patut ditaati
bukanlah hukum negara, melainkan hukum alam yang diatur oleh sang
ilahi. Selain itu, mereka masih sangat dipengaruhi oleh aliran Sinisisme yang
mengecam keras pemerintahan tiran kala itu. Sedangkan yang memilih
terlibat dan berkarier dalam dunia politik, Cicero misalnya, mengatakan bahwa
tugas politik terdapat tugas suci yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia,
ganjarannya adalah sorga. Dalam relasi dengan manusia lain, kita tak butuh
hukum politik, namun harus hidup dalam persahabatan dan kekeluargaan dengan
semua makhluk, seperti kutipan Plutarch (Moralia,
329A) dari Politeia karya
Zeno,
“Kita seharusnya hidup tidak dalam
kota-kota atau wilayah yang terorganisasi, masing-masing kelompok dibedakan
oleh pandangan kebaikan sendiri, tetapi seharusnya berpikir semua orang adalah
warga dan anggota, dan seharusnya ada satu jalan hidup dan satu tatanan,
seperti segerumbul rumput menyatu di padang.”[6]
Alasannya
sederhana, para Stoik awal menolak sistem pemerintahan kala itu, pemerintahan
yang sangat tirani. Para Stoik awal juga menolak sistem dan ajaran
pendidikan yang mengabaikan pentingnya hidup bersama dalam persahabatan,
persaudaraan, dan anti permusuhan. Setiap sistem politik agaknya mereka
tolak, bahkan penggunaan mata uang pun mereka tidak anjurkan.
Sedangkan
para Stoik yang kemudian, misalnya Cicero, Seneca
Muda, dan Markus Aurelius justru terlibat dalam kancah
politik, Cicero adalah salah satu anggota dewan Kota, Seneca pernah jadi
penasihat Kaisar Nero, dan Marcus Aurelius adalah seorang Kaisar. Jadi, Stoa
memang memiliki paradoks ajaran dalam berpolitik, ada yang anti-politik, dan
ada pula yang justru dalam lingkaran politik.[7]
Bagi
Seneca, Cicero, dan Marcus Aurelius, seseorang yang memiliki jabatan politik
harus memiliki integritas diri. Pemerintahan yang baik seharusnya bukan hanya
dihuni orang-orang yang tahu kebijaksanaan -seperti pernah digagas oleh Plato
dalam sistem pemerintahan Aristokrasi, melainkan harus juga seorang sophis,
yaitu orang yang benar-benar melakukan kebijaksanaan. Marcus Aurelius
sendiri mengarang buku berjudul Meditations hingga
4 jilid yang berisi pentingnya seorang pejabat publik melakukan perenungan diri
supaya dalam memerintah ia memiliki ketenangan batin, dan berjiwa pengorbanan.
Jadi, Stoa memang memiliki paradoks ajaran dalam berpolitik, ada yang
anti-politik, dan ada pula yang justru dalam lingkaran politik.[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bahwasanya
pemikiran stoa tidaklah luput dari Zeno, Zeno berpendapat bahwa keteraturan
dunia ini bukanlah suatu kebetulan semata, seperti yang diajarkan oleh
Epikuros, melainkan sesuai dengan Logos itu sendiri yang mendasari seluruh alam
ini. penyesuaian hukum alam. Stoa
menggunakan istilah Oikeiosis yang berarti mengambil sebagai milik, maksudnya
dalam proses penyesuaian diri, manusia menjadikan alam semesta sebagai
miliknya. Sehingga menurut Stoa, perbuatan yang baik adalah menyesuaikan diri
dengan hukum alam, perbuatan buruk adalah tidak mau menyesuaikan diri dengan
hukum alam. Kebebasan manusia tidak berarti manusia bebas dari takdir,
melainkan manusia mencapai kebebasan apabila ia dengan sadar dan rela
menyesuaikan diri dalam hukum alam Ajarannya stoa tidak jauh beda dengan Epikuros yang terdiri dari tiga
bagian, yaitu logika, fisika etika dan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Mohammad
Hatta, Alam Pemikiran Yunani,(Jakarta: Penerbit
Tintamas,1986)
L. Petrus
Simon Tjahjadi, Petualangan Intelektual, )Yogyakarta: Kanisius, 2004(
Magnis Suseno
Franz, 13 Model Pendekatan Etika, (Yogyakarta: Kanisius, 1998)
https://hijaujaya.blogspot.co.id/2016/09/makalah-helenisme-dan-ciri-cirinya.html
Rowe
Christoper, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane, Sejarah
Pemikiran Politik Yunani Romawi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001)
[5] https://hijaujaya.blogspot.co.id/2016/09/makalah-helenisme-dan-ciri-cirinya.html/08:00/26-03-2018
[6] Christoper
Rowe, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane, Sejarah Pemikiran
Politik Yunani Romawi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001) 522
Tidak ada komentar:
Posting Komentar