Review Ngaji
Indonesia Gus Mus (seni dan tasawuf)
Ngaji
Indonesia (Gus Mus)
Seni merupakan suatu unsur mendasar yang sakral yang muncul dan
diterima secara logis oleh kalangan manusia pra,
klasik, dan modern. Dari sinilah manusia normal melambangkan suatu seni
sebagai keistimewaan tiap obyek maupun subyek dengan berbagai aspek (soial,
kehidupan, ekonomi, budaya, asmara, spiritual, politik, potensi) dan lain
sebagainya. Konteks tersebutlah yang sakral jika ingn dibahas lebih lanjut oleh
kalangan filosof.
Namun
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian Seni, memiliki tiga makna,
antara lain:
·
Seni diartikan halus, kecil dan halus, tipis,
lembut dan enak didengar, mungil dan elok.
·
Seni adalah keahlian membuat karya bermutu
(dilihat dari segi keindahan dan kehalusannya)
·
Seni adalah kesanggupan akal untuk menciptakan
sesuatu yang bernilai tinggi
Kesimpulan dari sang saya (rizkillah), seni merukan suatu
ciptaan dengan yang memiliki beberapa unsur nilai yang istimewa dengan menaruh
hati sebagai pelukisnya.
Setelah kita mengamati secara penuh
terkait ngaji indonesia kemarin hari senin tanggal 5 maret 2018, menyimpulkan
bahwasannya tiap seni yang dimunculka mulai dari pra acara sampai usai memiliki
beraneka macam genre. Sebut saja 5 aliran (padus, aklung, jaguar,
hadrah, dan whireling), yang memiliki seni tap melodi yang dihasilkannya. Yang
pertama mulai dari paduan suara, seni yang ini hanya dapat kita nikmati dengan
satu indera (indera pendengaran), dengan memecah berbagai nada (swara dasar,
dua, tiga, bas) akan menghasilkan ikatan intonasi yang memenuhi angin dalam
ruangan.
Seni angklung dapat di
definisikan sebagai seni yang menguras tenaga. Karena jika ada salah fatalan
antara kelompok dengan alat yang sama, yang dihawatirkan malah tidak akan
menghasilkan seni yang menyentuh instrumen hati. Beda lagi dengan grub Band
Jaghuar dengan keasyikan nada synden kejawen dan melodi nada kuno dengan
dibarengi hanya seketuk yang takbermakna oleh sang musik, namun dari sinilah
yang dikatakan seni akan menghasilkan karye seni yang unik, sebab hal yang unik
tak harus berawal dari hal yang bagus, melainkan kolaborasi antara hal yang
tidak bagus menjadi hal yang bagus, sehingga kara inilah yang paling menyentuh
irama penguasaan genre suasana se yogyanya kala itu. Sedangkan yang terahir
hadrah dengan whirling meruakan hasil kolaborasi antara pengambian sample
tarian jalaluddin rummi dengan hadrah pada zaman pengiringan Rasulullah
S.W.T.saat di gurun, hal ini merupakan
titik tolak ukur ngaji yag dikaitkan dengan bahasan seni di indonesia, sebab
hidup ini tak ada yang bermakna tanpa adanya hal yang lumrah, inilah yang
dianggap seni saat tarian whireling yang hanya melihat dan membentangkan tangan
dengan satu tangan diangkat ke atas yang bermaksud menujukan kepada sang Esa.
Kesimpulan dari ngaji tempo hari
yang lalu,tidakkah ada hal yang kita anggap seni tanpa adanya hal yang sering
kita anggap lumrah, mereka memang wajib dilumrahkan jika kita mau
mengkolaborasi antara hati dengan indera yang kita miliki sehingga menghasilkan
karya seni yang boleh dikatakan dengan hal yang unik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar